Banjar, (harapanrakyat.com),- Kecamatan Langensari sudah lama diprioritaskan menjadi kota kedua di Kota Banjar. Hal tersebut sudah tertuang dalam RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) Kota Banjar beberapa tahun yang lalu. Namun kini, terganjal dengan melonjaknya harga tanah dikawasan tersebut yang mencapai 50 kali lipat.
Oleh karena itu, untuk merealisasikan Langensari menjadi kota kedua, harus diimbangi pula dengan sarana prasarana yang mendukung. Sehingga, nantinya Langensari diharapkan dapat meningkatkan penataan infrasturktur, serta memperkuat fungsi dan perannya sebagai penunjang utama dari keberadaan pusat Kota Banjar.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Banjar Ir. H. Tomy Subagja, MM., mengatakan, bahwa pembangunan infrastruktur di Langensari sudah ada perkembangan.
“Kita bandingkan saja Langensari dulu dengan sekarang. Pasti ada kemajuan dibandingkan dulu waktu masih bergabung dengan Kabupaten Ciamis. Itu suatu bukti kalau Langensari yang diprioritaskan menjadi kota kedua di Kota Banjar,” kata Tomy kepada HR, Senin (6/12).
Dijabarkan Tomy, bukti nyata tersebut diantaranya pembangunan Pasar Langensari, penataan alun-alun, sarana infrastruktur berupa jalan dan jembatan.
“Kita lihat bagaimana wujud pasar Langensari dulu, juga kondisi jalan dan alun-alun yang ada di sana. Bahkan sekarang sudah ada jembatan yang menghubungkan antara Kota Banjar dengan wilayah Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Selain itu, juga saat ini tengah dibangun fly over,” jelasnya.
Namun, tidak menutup kemungkinan di tahun-tahun mendatang jumlah penduduk akan bertambah, yang dibarengi pula dengan peningkatan jumlah kendaraan. Hal itu sebagai akibat dari perkembangan Langensari sebagai kota kedua.
Apalagi, sekarang ini infrastruktur jalan di Langensari masih ada yang sempit. Sehingga, untuk mengatasinya perlu dilakukan perlebaran jalan.
Dikatakan Tomy, pelebaran jalan di Langensari dimungkinkan, dan memang untuk kedepannya akan ada. Tapi, yang jadi kendalanya adalah harga tanah di wilayah Langensari terus-menerus mengalami kenaikkan.
“Sekarang saja harga tanah di sana (Langensari. red) sudah mahal. Dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Sehingga pemerintah sulit untuk membeli, atau membebaskan tanah warga, karena dana terbatas,” katanya.
Kesulitan pelebaran jalan akibat tidak adanya titik temu antara keinginan warga dengan Pemerintah Kota Banjar.
“Warga saat ini menginginkan kenaikan harga tanah sampai 30 kali lipat. Namun, beberapa waktu kemudian berubah keinginannnya menjadi 50 kali lipat. Kalau kenaikan masih dalam tahap yang wajar, kita bisa merealisasi keinginan warga. Seharusnya warga juga ikut mendukung pemerintah mengenai rencana pengembangan kota kedua,” pungkasnya. (adi)