Senin, April 28, 2025
BerandaBerita TerbaruMengungkap Sejarah Taman Margasatwa Ragunan, Warisan dari Masa ke Masa

Mengungkap Sejarah Taman Margasatwa Ragunan, Warisan dari Masa ke Masa

Taman Margasatwa Ragunan bukan hanya sebuah kebun binatang biasa di Jakarta. Ia menyimpan jejak panjang sejarah kota dan komitmen terhadap konservasi satwa. Untuk Anda yang ingin mengetahui lebih dalam, kita akan menelusuri sejarah Taman Margasatwa Ragunan yang bermula dari jantung kota Jakarta hingga menjadi pusat konservasi satwa terkemuka di kawasan Asia Tenggara.

Baca Juga: Sejarah Alun-Alun Kidul Yogyakarta dan Fungsinya pada Zaman Dahulu

Sejarah Taman Margasatwa Ragunan, Awal Mula di Cikini: Bataviaasche Planten-en Dierentuin

Jejak pertama kilas balik Taman Margasatwa Ragunan bermula pada tahun 1864 di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Saat itu, sebuah organisasi bernama Vereeniging Planten en Dierentuin te Batavia mendirikan kebun binatang pertama di Batavia (sekarang Jakarta). Lahan seluas 10 hektar tempat kebun binatang ini berdiri merupakan hibah dari Raden Saleh, seniman besar dan pelopor seni lukis modern di Hindia Belanda.

Kebun binatang ini terkenal dengan nama Bataviaasche Planten-en Dierentuin, menampung ratusan spesies hewan dari berbagai penjuru dunia. Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1949, kebun binatang ini berganti nama menjadi Kebun Binatang Cikini. Dengan koleksi sekitar 800 hewan dari 174 spesies, tempat ini menjadi destinasi favorit warga Jakarta hingga 50.000 pengunjung setiap bulannya.

Pemindahan Besar, dari Cikini ke Pasar Minggu

Seiring pesatnya perkembangan kota Jakarta, kawasan Cikini tampaknya tidak lagi layak untuk menjadi lokasi kebun binatang. Maka, pada tahun 1964, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Soemarno, membentuk Badan Persiapan Pelaksanaan Pembangunan Kebun Binatang. Tujuannya ialah untuk memindahkan Kebun Binatang Cikini ke wilayah yang lebih luas dan alami, yakni Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghibahkan lahan seluas 30 hektar untuk memulai pembangunan. Sekitar 450 ekor satwa dari koleksi terakhir Kebun Binatang Cikini pindah ke lokasi baru tersebut.

Peresmian Taman Margasatwa Ragunan

Pemindahan kebun binatang ini resmi ditandai dengan pembukaan Taman Margasatwa Ragunan pada 22 Juni 1966 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Sejak saat itu, nama Taman Margasatwa Ragunan beroperasi secara resmi, mengacu pada nama daerah tempat kebun binatang ini berdiri.

Dalam buku Gita Jaya (1977), Ali Sadikin menjelaskan bahwa taman ini memiliki banyak fungsi. Beberapa diantaranya ialah sebagai tempat rekreasi, pendidikan, penelitian, konservasi, pembiakan, hingga karantina satwa. Sejak awal, konsep konservasi dan edukasi sudah menjadi inti dari sejarah Taman Margasatwa Ragunan.

Perkembangan Luas dan Koleksi Satwa

Luas Taman Margasatwa Ragunan terus berkembang hingga mencapai sekitar 147 hektar. Sehingga menjadikannya sebagai salah satu kebun binatang terbesar di Asia Tenggara. Saat ini, taman ini dihuni oleh lebih dari 2.000 ekor satwa dari 220 spesies dan dilindungi oleh sekitar 50.000 pohon alami yang menciptakan ekosistem hijau dan nyaman bagi penghuninya.

Tak hanya satwa lokal seperti komodo, harimau Sumatera, dan anoa, taman ini juga menjadi rumah bagi spesies dari luar negeri seperti jerapah dan kuda nil. Ini adalah bagian penting dalam menjaga keanekaragaman hayati. Sejalan dengan semangat yang tumbuh sejak awal mula riwayat perjalanan Taman Margasatwa Ragunan.

Baca Juga: Sejarah Museum Sangiran, Pusat Koleksi Fosil Manusia Purba di Jawa Tengah

Pusat Primata Schmutzer, Konservasi Berkelas Dunia

Salah satu terobosan penting dalam sejarah Taman Margasatwa Ragunan adalah pembangunan Pusat Primata Schmutzer pada tahun 2002 silam. Kompleks seluas 13 hektar ini hadir sebagai kebun binatang terbuka dengan konsep yang mendekati habitat asli hewan-hewan primata seperti orangutan, gorila, dan simpanse.

Pengunjung yang datang akan melewati sebuah gerbang berbentuk lingkaran raksasa sebelum menaiki jembatan pejalan kaki. Dari atas, mereka dapat mengamati primata dalam lingkungan alami yang meniru hutan tropis. Fasilitas ini bukan hanya unik di Indonesia, tapi juga termasuk salah satu pusat konservasi primata terbaik di dunia.

Modernisasi dan Perubahan Organisasi

Seiring waktu, struktur organisasi Taman Margasatwa Ragunan mengalami berbagai perubahan. Pada tahun 2010 lalu, statusnya menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), yang memberikan keleluasaan dalam pengelolaan keuangan dan operasional. Kini, taman ini dikelola oleh Kantor Pengelola Taman Margasatwa Ragunan sesuai Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2014.

Modernisasi terus pengelola lakukan agar taman ini semakin relevan dengan kebutuhan wisatawan modern, tanpa meninggalkan nilai-nilai konservasi yang telah menjadi pondasi utama dalam sejarah Taman Margasatwa Ragunan.

Wisata Edukatif dan Ramah Keluarga

Taman Margasatwa Ragunan kini bukan hanya menjadi tempat melihat hewan, tetapi juga pusat edukasi untuk segala usia. Pengunjung dapat belajar tentang ekosistem, konservasi, serta mengenal satwa dari dekat melalui berbagai aktivitas interaktif. Anak-anak bisa bermain sambil belajar di taman edukatif satwa, sedangkan keluarga dapat menikmati area hijau untuk piknik dan relaksasi.

Dengan tiket masuk yang sangat terjangkau, taman ini menjadi pilihan wisata edukasi yang ramah kantong namun kaya akan manfaat. Tak heran jika Ragunan tetap menjadi destinasi favorit warga Jakarta dan sekitarnya dari waktu ke waktu.

Baca Juga: Sejarah Candi Sanggrahan Tulungagung, Peninggalan Kerajaan Majapahit Bercorak Budha

Melihat kembali sejarah Taman Margasatwa Ragunan adalah menelusuri kisah panjang Jakarta dalam menjaga ruang hijau dan keberagaman hayati di tengah urbanisasi. Dari sebuah hibah tanah oleh Raden Saleh di Cikini hingga menjadi kebun binatang modern di Ragunan, taman ini telah menjadi simbol perpaduan antara edukasi, konservasi, dan rekreasi. Sebagai ruang publik yang hidup dan berkembang, Taman Margasatwa Ragunan tak hanya menyimpan koleksi satwa, tetapi juga harapan untuk masa depan yang lebih lestari. (R10/HR-Online)

Kirab Panji Mahkota Kemaharajaan Sunda 2025, Menghidupkan Sejarah dan Memperkokoh Identitas Sumedang

Kirab Panji Mahkota Kemaharajaan Sunda 2025, Menghidupkan Sejarah dan Memperkokoh Identitas Sumedang

harapanrakyat.com,- Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menyambut para peserta Kirab Panji Mahkota Kemaharajaan Sunda 2025, di Alun-alun Sumedang, Jawa Barat, Minggu (27/4/2024). Momen ini...
Cara Kapolres Banjar Bareng Serikat Pekerja Peringati Hari Buruh Internasional

Cara Kapolres Banjar Bareng Serikat Pekerja Peringati Hari Buruh Internasional

harapanrakyat.com,- Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day selalu identik dengan aksi demo. Namun ada cara lain yang dilakukan serikat pekerja dan Kapolres Banjar,...
Pergerakan Tanah Ancam Warga Sukaasih Sumedang, Akses Jalan ke Dusun Marasa Ditutup

Pergerakan Tanah Ancam Warga Sukaasih Sumedang, Akses Jalan ke Dusun Marasa Ditutup

harapanrakyat.com - Bencana pergerakan tanah kembali melanda Dusun Sukaasih, Desa Cisalak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang Jawa Barat, Sabtu (26/4/2025) malam. Jalan kabupaten yang menghubungkan...
Alves Resmi Tinggalkan Persib

Rumor Masuk Malut United, Ciro Alves Resmi Tinggalkan Persib Bandung

Ciro Alves resmi tinggalkan Persib Bandung. Informasi tersebut ia bagikan melalui media social pribadinya pada Minggu (27/4/2025). Pemain asal Brazil ini memang tak melanjutkan...
Ciro Alves

Juara BRI Liga 1 Bisa Jadi Gelar Terakhir Ciro Alves Bersama Persib Bandung

Ciro Alves, bek andalan Persib Bandung dikabarkan angkat kaki setelah musim ini selesai. Kabar tersebut sudah menjadi perbincangan sejak awal tahun 2025. Kontrak Ciro akan...
Geger! Warga Rejasari Kota Banjar Temukan Mayat Pria Mengambang di Sungai Citanduy

Geger! Warga Rejasari Kota Banjar Temukan Mayat Pria Mengambang di Sungai Citanduy

harapanrakyat.com,- Warga di Dusun Rancabulus, Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat, digegerkan dengan penemuan mayat yang mengambang di Sungai Citanduy. Mayat pria...