Sabtu, April 5, 2025
BerandaBerita TerbaruSejarah Alat Musik Tifa sebagai Melodi Warisan Budaya

Sejarah Alat Musik Tifa sebagai Melodi Warisan Budaya

Indonesia memiliki berbagai kekayaan budaya yang terlihat jelas melalui alat musik tradisionalnya. Salah satu yang menarik untuk dibahas adalah sejarah alat musik tifa.

Baca Juga: Sejarah Alat Musik Kecapi Lengkap dengan 4 Jenis Umumnya

Melodi yang dihasilkan oleh tifa menciptakan suasana yang khas dalam berbagai upacara adat. Melalui sejarahnya yang kaya, tifa mencerminkan perjalanan budaya dan seni musik Nusantara yang tak ternilai harganya.

Sejarah Alat Musik Tifa sebagai Warisan Budaya yang Menarik

Alat musik tifa seringkali menjadi bagian penting dalam acara sakral yang memperkuat identitas masyarakatnya. Dengan keunikan dan keindahannya, tifa menjadi simbol keberagaman serta kekayaan tradisi musik di Indonesia.

Seputar Alat Musik Tifa

Alat musik tifa merupakan instrumen khas yang berasal dari Maluku dan Papua. Tifa memiliki bentuk seperti gendang dari material kayu yang diberi lubang pada bagian tengahnya.

Badan kerangka tifa memiliki lapisan yang terbuat dari rotan sebagai pengikatnya. Sedangkan tutupnya terbuat dari kulit hewan rusa. Oleh sebab itu, ketika dipukul alat musik ini akan menghasilkan suara yang indah.

Di daerah Maluku, tifa terkenal dengan nama Tahitoe. Sementara di pulau Aru, alat musik ini populer dengan nama Titir.

Sejarah alat musik tifa terbagi menjadi beberapa jenis seperti, Tifa Jekir, Tifa Dasar, Tifa Potong, Tifa Jekir Potong, serta Tifa Bas. Alat musik ini memiliki hiasan ukiran yang khas sesuai daerah asalnya.

Biasanya, alat musik tifa berguna sebagai pengiring tarian perang dan beberapa tarian daerah lainnya. Misalnya, tari tradisional suku Asmat, tari Gatsi, serta tari Lenso dari Maluku yang menggunakan alat musik totobuang.

Aturan Menggunakan Alat Musik Tifa

Sejarah alat musik tifa terkenal sebagai musik pengiring wajib dalam pelaksanaan upacara adat masyarakat Maluku dan Papua. Tifa menjadi alat musik ritmis yang membuat suasana menjadi lebih hikmat.

Memainkan tifa harus sesuai dengan tarian dan lagu dalam ritual. Hal tersebut karena bunyi tifa akan mempengaruhi gerakan-gerakan tarian.

Penabuh alat musik tifa, harus memiliki kriteria seorang laki-laki dewasa. Laki-laki menjadi sosok pemimpin yang kuat, sehingga pantas untuk memainkan alat musik ritual.

Baca Juga: Sejarah Alat Musik Angklung sebagai Warisan Budaya Dunia

Alat musik tifa tidak boleh dimainkan oleh sembarang orang. Memainkan alat musik ini harus melalui serangkaian prosedur dengan memperoleh izin dari tetua adat maupun masyarakat sekitar.

Aturan dalam memainkan alat musik tifa, sudah berlaku secara turun-temurun. Hingga kini, wanita tidak boleh memainkan alat musik tersebut.

Sejarah dan Mitos Tifa

Sejarah alat musik tifa tak lepas dari berbagai mitos yang beredar di kalangan masyarakat pedalaman Papua. Asal usul tifa bermula dari dua saudara bernama Fraimun dan Saran Bayar yang berasal dari Papua.

Keduanya berpetualang meninggalkan desa yang sudah tenggelam. Fraimun dan Saran Bayar kemudian menetap di Wamp Ender, Biak Utara. Ketika sedang berburu, keduanya menemukan pohon opsur yang mengeluarkan suara di tengah hutan.

Hari berikutnya, Fraimun dan Saran Bayar kembali mendatangi pohon tersebut untuk mencari tahu asal suara. Mereka menemukan berbagai jenis makhluk, seperti lebah madu, biawak, soa-soa, dan hewan lainnya yang tinggal di pohon opsur.

Akhirnya, mereka memutuskan untuk menebang pohon dan membuang bagian tengahnya menggunakan besi panjang yang runcing. Setelah itu, mereka melubangi bagian pohon tersebut hingga membentuk saluran seperti pipa.

Pada awalnya, sang adik berencana menutupi salah satu sisi dengan kulit paha sang kakak. Namun, setelah mempertimbangkan kemungkinan menyakiti kakaknya, mereka memutuskan untuk menggunakan kulit soa-soa sebagai gantinya.

Metode untuk menangkap soa-soa cukup menarik, karena tidak menangkapnya secara langsung. Fraimun dan Saran Bayar memanggil hewan tersebut dengan menggunakan bahasa Biak “Hei, napiri Bo”.

Bahasa pemanggilan tersebut membuat soa-soa mendatangi Fraimun dan Saran Bayar dengan mudah. Setelah itu, hewan tersebut dibunuh dan dikuliti.

Kulit dari soa-soa kemudian berguna sebagai penutup salah satu sisi lubang kayu. Hasil akhir dari proses ini adalah alat musik tifa yang menjadi warisan budaya di Indonesia.

Baca Juga: Sejarah Lagu Bubuy Bulan, Makna hingga Fakta Menariknya

Sejarah alat musik tifa berakar dari mitos yang terkenal secara luas di kalangan masyarakat pedalaman Papua. Mitos ini menjadi bagian penting dalam tradisi dan budaya yang menjelaskan asal-usul alat musik tersebut. (R10/HR-Online)

Kabinet Prabowo

Rumor Najwa Shihab Masuk Kabinet Prabowo, Diduga karena Absen Kritik Pemerintah

Jurnalis Najwa Shihab baru-baru ini menjadi perbincangan. Pasalnya Najwa dirumorkan akan masuk kabinet Prabowo. Dugaan tersebut muncul karena Najwa yang biasanya vokal mengkritik pemerintah,...
Tarian Bagi-bagi THR

Viral Tarian Bagi-bagi THR Mirip Tarian Bangsa Yahudi, Begini Asal Usulnya!

Salah satu tradisi masyarakat muslim di Indonesia yang tak bisa dihilangkan saat momen Idul Fitri yakni bagi-bagi tunjangan hari raya atau THR. Pada Lebaran...
Maxime Bouttier Melamar Luna Maya, Cinta Bersemi di Bawah Bunga Sakura

Maxime Bouttier Melamar Luna Maya, Cinta Bersemi di Bawah Bunga Sakura

Maxime Bouttier melamar Luna Maya belum lama ini. Kabar bahagia datang dari pasangan selebriti ternama Tanah Air. Maxime Bouttier resmi melamar kekasihnya, Luna Maya,...
Idul Fitri, Disnaker Ciamis Kembali Buka Pelayanan Selasa 8 April 2025

Idul Fitri, Disnaker Ciamis Kembali Buka Pelayanan Selasa 8 April 2025

harapanrakyat.com,- Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Ciamis, Jawa Barat, memberlakukan penutupan operasional pelayanan. Baik itu pelayanan...
Polres Ciamis Terapkan Rekayasa Lalu Lintas One Way Parsial di Simpang Tiga Sindangkasih

Polres Ciamis Terapkan Rekayasa Lalu Lintas One Way Parsial di Simpang Tiga Sindangkasih

harapanrakyat.com,- Dalam rangka operasi ketupat Lodaya tahun 2025, Polres Ciamis, Jabar, berlakukan sistem one way parsial di Simpang Tiga Sindangkasih Kabupaten Ciamis, pada Jumat...
Puncak Arus Balik, Jumlah Penumpang Bus di Terminal Garut Mulai Alami Peningkatan

Puncak Arus Balik, Jumlah Penumpang Bus di Terminal Garut Mulai Alami Peningkatan

harapanrakyat.com,- Lonjakan penumpang di terminal pemberangkatan bus Guntur Garut, Jawa Barat, mulai terlihat sejak Sabtu (5/4/2025) pagi. Hingga H plus 3. Petugas mencatat sudah...