harapanrakyat.com,- Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto mengekspresikan keinginan untuk bertemu Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, di masa lebaran.
Namun dibalik silaturahmi ini, para pengamat politik melihat adanya dinamika politik yang cukup kompleks.
Tim Prabowo terlebih dahulu menunjukkan inisiatif untuk bertemu dengan Megawati. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mereka, untuk mendekati partai berlambang banteng tersebut setelah proses Pemilu Presiden 2024.
Ketua Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran, Rosan Roeslani, secara aktif menjalin hubungan dengan para tokoh dekat Megawati.
Baca Juga: Ketua TKN Prabowo-Gibran Temui Megawati, Ada Apa?
Salah satu momen mencolok adalah saat ia bersama dengan Puan Maharani, anak Megawati sekaligus Ketua DPP PDIP. Saat itu, keduanya menggelar acara buka puasa bersama pada tanggal 1 April 2024.
Pertemuan berlanjut, ketika Rosan mengunjungi Megawati dua kali selama masa lebaran.
Pertemuan pertama berlangsung singkat selama lima menit, sementara pertemuan berikutnya memakan waktu hingga 1,5 jam.
Selain Prabowo, Presiden Jokowi juga tampak berusaha untuk menemui Megawati Soekarnoputri.
Baca Juga: Pasca-Pemilu 2024, Elit Politik Didorong Lakukan Rekonsiliasi Nasional
Dalam konteks ini, Ari Dwipayana, Koordinator Staf Khusus Presiden, menyatakan Jokowi sedang mencari waktu yang tepat bersilaturahmi dengan Megawati.
Meskipun pada saat yang sama, Jokowi sedang menghadiri sejumlah kegiatan termasuk liburan bersama keluarga di Medan.
Begini Respons PDIP Terhadap Keinginan Jokowi dan Prabowo Bertemu Megawati
Sementara kedua belah pihak menunjukkan inisiatif untuk bertemu Megawati Soekarnoputri, reaksi dari PDIP terhadap keduanya pun berbeda.
Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto mengatakan, pertemuan antara Megawati dan Prabowo mungkin terjadi setelah sidang sengketa Pilpres 2024 di MK. Namun, Hasto menegaskan bahwa hubungan antara Megawati dan Prabowo baik-baik saja.
Berbeda terhadap Prabowo, Hasto memberikan malah tanggapan yang berbeda terkait dengan keinginan Jokowi untuk bertemu Megawati.
“Jokowi harus menyelesaikan persoalan seputar dugaan kecurangan dalam Pilpres 2024, sebelum bisa bertemu dengan Megawati,” katanya.
Baca Juga: Kecewa Terhadap Jokowi, Megawati Bisa Tarik 7 Menteri Asal PDIP
Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Andalas, Asrinaldi, melihat pertemuan dengan Megawati memiliki dampak besar terhadap peta politik. Terutama setelah Jokowi meninggalkan jabatan presiden.
Asrinaldi menekankan, jika Prabowo berhasil menjalin hubungan baik dengan Megawati atau PDIP, hal ini akan melemahkan pengaruh Jokowi.
Sementara itu, Direktur Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menyoroti faktor politik yang terlibat dalam upaya Prabowo untuk bertemu Megawati.
Baca Juga: Benarkah Jokowi Terlibat dalam Penyusunan Kabinet Prabowo-Gibran?
Menurut Agung, pertemuan ini dapat mengurangi dominasi politik Jokowi atas Prabowo.
Dengan PDIP secara resmi diumumkan sebagai pemenang Pemilu 2024, partai ini memiliki kekuatan politik yang signifikan di parlemen.
Hal ini membuat upaya Prabowo dan Jokowi untuk mendapatkan dukungan dari PDIP dan Megawati Soekarnoputri menjadi sangat penting. Terutama, untuk mengatur dinamika politik nasional ke depan. (Feri Kartono/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)