harapanrakyat.com, – Pada zaman revolusi rupanya tidak hanya tentara dan laskar rakyat saja yang memiliki sumbangsih besar pada kemerdekaan Indonesia. Namun seniman juga punya peran dalam memperjuangkan kebebasan rakyat Indonesia melalui berbagai propaganda pada tahun 1945.
Berbeda dengan tentara dan pejuang laskar bersenjata, seniman-seniman yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia menggunakan keahliannya untuk melawan penjajah.
Para perupa misalnya, mereka menggunakan disiplin keilmuannya untuk membuat poster dan lukisan bernada revolusi. Seniman membuat keadaan revolusi semakin tegang karena semangat rakyat terus dibakar melalui karya-karyanya yang “panas”.
Baca Juga: Sejarah Konferensi Meja Bundar, Akhiri Konflik Indonesia dan Belanda
Aksi para seniman Indonesia ini membuat Belanda pusing, lantaran tembak menembak antara rakyat Indonesia dan tentaranya terjadi di mana-mana.
Tentara Belanda meyakini bersitegangnya rakyat Indonesia dengan tentara mereka karena propaganda gelap kelompok seniman. Mereka sengaja membuat poster dan lukisan untuk mempropagandakan peperangan.
Kendati demikian bagi rakyat Indonesia, peran seniman di zaman itu tak ubahnya seperti pahlawan yang bernyali besar. Para seniman sukses mengkomunikasikan karyanya kepada rakyat Indonesia untuk melawan Belanda.
Propaganda Seniman Indonesia, Pekerja Seni sudah Dimanfaatkan Sejak Zaman Jepang
Menurut Adeng dalam Jurnal Pantjala, Vol. 4, No. (2) Juni 2022: 45-57 berjudul, “Peranan Seniman dalam Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia”, pekerja seni sudah dimanfaatkan sebagai propagandis ulung sejak zaman pendudukan Jepang.
Pemerintahan Dai Nippon di pulau Jawa telah menggunakan seniman sebagai tenaga kreatif yang bertugas mengajak rakyat Indonesia mendukung pemerintah Jepang.
Dengan kata lain seniman digunakan oleh tentara Jepang sebagai mobilisasi massa agar rakyat Indonesia berpihak pada mereka.
Baca Juga: Profil Sayuti Melik, Anggota Menteng 31 Juru Ketik Naskah Proklamasi
Lantaran tujuan ini bersifat propagandis, maka seniman-seniman yang diasuh oleh Jepang membuat karya-karyanya dengan model ajakan. Seperti membuat poster lukisan yang isinya ajakan untuk bergabung dan memihak Jepang dalam Perang Dunia II.
Guna mewadahi tenaga seniman Indonesia, Jepang akhirnya membuat organisasi dengan nama Keimin Bunka Shi Dosho atau Badan Pusat Kebudayaan.
Dalam Keimin Bunka Shi Dosho para seniman pribumi diajak berkolaborasi dengan seniman-seniman Jepang dalam berkarya. Mereka juga terkadang membahas cita-cita kemerdekaan Indonesia di waktu senggang sebelum karya propagandanya diterbitkan di muka umum.
PERSAGI Membentuk Seniman Pejuang Kemerdekaan
Setelah Jepang kalah oleh Sekutu, S. Sudjojono membentuk PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia). Melansir dari berbagai sumber konon PERSAGI merupakan organisasi kesenian di revolusioner yang turut membentuk seniman pejuang kemerdekaan.
Pernyataan di atas sebagaimana disampaikan langsung oleh Sudjojono dalam memoarnya berikut ini: “Seniman itu pejuang. Jadi kalau seniman itu tidak mau membantu pergerakan nasional, itu buat saya bukan seniman”.
Dalam PERSAGI, Sudjojono dan kawan-kawan seniman lain mendoktrin anggotanya dengan semangat kemerdekaan. Pemikiran Sudjojono yang kekiri-kirian memberikan semangat baru untuk rakyat Indonesia agar terus berjuang melawan penjajah menggunakan kesenian.
PERSAGI menjadi satu-satunya “sarang” seniman revolusioner yang menentukan arah perjuangan. Melalui organisasi tersebut beserta doktrinnya melahirkan seniman-seniman pejuang kemerdekaan yang lebih revolusioner dari sebelumnya.
Propaganda Seniman Indonesia Terbaik di Masa Revolusi 1945
Andil seniman dalam gerakan revolusi 1945 terlihat dari profesinya sebagai kelompok propagandis.
Seniman bertugas melakukan propaganda semangat perang, mereka menyiarkan ajakan ke seluruh rakyat Indonesia untuk berperang melawan Belanda. Dalam poster yang berbentuk lukisan para seniman sukses membakar semangat rakyat untuk tetap berjuang.
Baca Juga: Penyebaran Berita Proklamasi Kemerdekaan 1945, Ada Kiprah Pemuda dan Buruh Kereta Api
Salah satu poster yang paling mempengaruhi perjuangan rakyat saat itu berjudul Boeng Ajo Boeng (Bung, Ayo Bung!). Konon poster yang bergambar pemuda memutuskan tali rantai yang membelenggu kakinya itu diinisiasi oleh Soekarno dan seniman-seniman besar di belakangnya.
Antara lain mereka (seniman) itu adalah Affandi, Dullah, Sudjojono dan Chairil Anwar. Para seniman rakyat di atas berhasil menggunakan poster tersebut untuk mempropagandakan perlawan terhadap Belanda tahun 1945.
Selain membuat poster para seniman juga berperan sebagai juru gambar di medan perang. Mereka bertugas menggambar peta untuk rute penyerangan gerilyawan republik ke markas Belanda.
Kerja mereka menggambar peta dilakukan dengan peralatan yang sederhana. Peta tersebut hanya dibuat menggunakan kertas bergaris biasa dengan pensil atau tinta hitam tanpa warna.
Kendati dibuat menggunakan peralatan sederhana, karya mereka sangat jelas dan estetik menambah semangat pejuang kita untuk mengadakan perlawanan secepatnya. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)