harapanrakyat.com,- Tragedi revolusi berdarah merupakan kronik gelap dari golongan etnis Tionghoa di Jawa tahun 1945-1947. Di tahun-tahun tersebut banyak orang Tionghoa yang menjadi korban keganasan pribumi akibat periode masa bersiap.
Orang-orang Tionghoa yang menjadi korban pembantaian masa bersiap berjumlah fantastis. Melansir dari berbagai sumber, konon jumlah korbannya ada 3.500 hingga 20.000 jiwa.
Sentimen anti asing, anti Belanda, dan anti Indo-Eropa membuat rakyat pribumi “kerasukan”. Orang-orang Belanda menyebutnya dengan masa Bersiap, yaitu dimana masa banyak orang pribumi yang ganas menyerang siapapun yang anti pada kemerdekaan Indonesia.
Karena saat itu orang Tionghoa berstatus pendatang, maka sebagian dari mereka masih ada yang belum ikut dengan kaum republik. Mereka masih ragu-ragu akan mendukung kemerdekaan Indonesia atau Belanda.
Sebenarnya dalam posisi seperti itu orang Tionghoa dihadapkan kesulitan yang hebat. Mereka tidak bisa memilih untuk satu sisi. Sebab dua pihak (rakyat pribumi dan Belanda) saling menekan orang Tionghoa supaya memilihnya.
Tragedi Revolusi Berdarah 1945-1947, Ribuan Orang Tionghoa Kecam Kekacauan di Jawa
Baca Juga: Sejarah Kerusuhan di Tasikmalaya 1996 yang Dipicu Masalah Sepele
Mengutip dari akun instagram @arsip_indonesia, pada tanggal 4 September 1947 ribuan orang Tionghoa di Medan berdemonstrasi mengecam kekacauan yang menimpa saudara mereka di Pulau Jawa.
Demonstrasi ini mengecam peristiwa pembantaian orang Tionghoa di Jawa yang semakin hari semakin sering muncul dalam berita surat kabar.
Orang Tionghoa di Medan berduka dengan peristiwa ini. Mereka turun ke jalan untuk diliput media luar agar berita pembantaian pada etnis Tionghoa di Jawa sampai ke negerinya, Tiongkok.
“12 ribu orang Tionghoa menggelar demonstrasi sengit menentang aksi warga pribumi yang melakukan pembantaian rakyat Tionghoa selama masa Bersiap,” tulis akun instagram @arsip_indonesia.
Demonstrasi tersebut juga bertujuan untuk menciptakan perdamaian. Mereka bersedia ikut sama-sama berjuang melawan Sekutu agar segera hengkang dari Indonesia.
Maka dari itu, demonstrasi yang terjadi di Medan menawarkan damai dengan rakyat pribumi. Menurut sejumlah berita kala itu, peristiwa ini baru pertama kali terjadi di sepanjang sejarah. Mungkin dari sini bibit-bibit kesadaran berbangsa mulai tumbuh hingga dewasa.
Baca Juga: Sejarah Menyerahnya Jepang Tanpa Syarat, dari Deklarasi Postdam hingga Bom Atom Hiroshima-Nagasaki
Orang Tionghoa Jadi Korban Adu Domba Belanda
Menurut sejumlah sumber Sejarah, kerusuhan dalam tragedi revolusi berdarah yang melibatkan orang Tionghoa dan pribumi sebenarnya terjadi akibat ulah Belanda.
Mereka mengadu domba keduanya supaya pihak republik kehilangan arah pertahanan. Tujuannya agar pihak republik mengalami kelunturan pertahanan. Sehingga tentara revolusionernya beralih fokus dengan menganggap orang Tionghoa sebagai bagian dari neo-kolonialisme (baru).
Padahal secara historis, orang Tionghoa dan masyarakat pribumi sudah berdampingan beratus-ratus tahun lamanya. Bahkan lebih lama ketimbang orang pribumi berdampingan hidup dengan bangsa Barat (Portugis, Inggris, Belanda, dan Jepang).
Semua baik-baik saja, namun itu hanya berlaku sewaktu Belanda belum datang ke Nusantara. Setelah mereka menguasai negeri ini malah mengacaukan hubungan sosial antara pribumi dan etnis Tionghoa itu sendiri.
Di tengah-tengah kisruh yang melibatkan pribumi dan Tionghoa, mereka disadarkan oleh keadaan pertahanan yang luntur karena agresi militer Belanda.
Baca Juga: Tragedi Gaplek Singkong Beracun di Cirebon Tahun 1938, 4 Keluarga Petani Miskin Jadi Korban
Belanda mengklaim jika pertahanan republik tidak sekuat di masa awal revolusi. Mereka sudah kalah dan Hindia Belanda siap kembali menguasai kedaulatan RI. Sedangkan golongan nasionalis akan segera ditangkap dan diberikan peradilan.
Orang Tionghoa Dianggap Pro Belanda
Walaupun kerusuhan pada masa bersiap mulai mereda, namun masih saja stigmatisasi pribumi terhadap golongan Tionghoa selalu terkesan buruk.
Mereka tidak percaya seratus persen pada orang Tionghoa, akibatnya orang Tionghoa juga sama. Mereka pun akhirnya tidak percaya sepenuhnya pada perdamaian dengan orang pribumi.
Apalagi mereka punya tingkat trauma yang tinggi pada masa awal agresi Belanda berkecamuk.
Adapun beberapa alasan rakyat pribumi tidak mempercayai golongan Tionghoa antara lain karena mereka pengikut partai Kuomintang.
Partai Kuomintang adalah wadah orang-orang liberal (golongan Tionghoa kanan) yang berkiblat ke Barat.
Konon orang-orang Tionghoa dari partai Kuomintang di Indonesia menolak kemerdekaan republik dan mendukung kejayaan Hindia Belanda.
Akibat tragedi revolusi berdarah inilah masih banyak orang pribumi yang saat itu memusuhi golongan Tionghoa. Mereka tidak bisa dipertemukan satu forum karena bisa beresiko menimbulkan kekacauan kembali. (Erik/R3/HR-Online/Editor: Eva)