Sabtu, April 5, 2025
BerandaBerita TerbaruWabah Malaria yang Mematikan Saat Lebaran Idul Fitri di Pangandaran Tahun 1930

Wabah Malaria yang Mematikan Saat Lebaran Idul Fitri di Pangandaran Tahun 1930

harapanrakyat.com,- Lebaran Idul Fitri di Pangandaran tahun 1930 pernah dibatasi oleh adanya wabah malaria yang mematikan. Konon pemerintah kolonial Belanda sempat melarang semua kegiatan yang meliputi silaturahmi dari pintu ke pintu.

Selain itu, opsir Belanda juga sempat memportal daerah Pangandaran. Hal ini berkaitan erat dengan larangan berkunjung orang dari luar Pangandaran.

Kebetulan saat itu tradisi berlibur pasca lebaran di Pangandaran sudah menjadi budaya populer di kalangan keluarga Belanda.

Pemerintah kolonial juga sempat memberikan himbauan agar masyarakat di Pangandaran tidak menjalankan kegiatan yang terlalu padat.

Mereka harus untuk membersihkan lingkungan dan mengubur setiap lubang bergenang menggunakan benda padat seperti pasir.

Gigitan malaria yang mematikan terjadi tahun 1930 itu merupakan wabah yang paling ditakuti oleh setiap orang zaman itu.

Pasalnya, tak sedikit orang yang terkapar tak bernyawa sehari setelah terserang penyakit yang berasal dari gigitan nyamuk malaria.

Baca Juga: Kisah Wanita Telik Sandi Asal Garut yang Selalu Lolos dari Kejaran Belanda, Punya Ilmu Halimun?

Berdasarkan laporan kolonial, wabah malaria merupakan jenis pandemi yang paling susah diberantas. Bahkan, karena hal ini proyek pembangunan jalur kereta api Banjar-Pangandaran hampir terhenti karena banyak pekerjanya terkena malaria.

Wabah Malaria yang Mematikan Tahun 1930, Tamu Luar Kota Dilarang Berwisata ke Pantai Pangandaran

Menurut surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad berjudul “Voor Zorgsmaatregelennemen” yang terbit tanggal 20 Desember 1930, pemerintah kolonial di Priangan sempat melarang tamu luar kota berwisata ke Pantai Pangandaran.

Hal ini berkaitan erat dengan aturan standar pencegahan wabah malaria yang sedang marak di daerah Pangandaran.

Akibat adanya wabah malaria, tamu luar kota yang hendak berwisata ke Pangandaran pun harus menahan rindu liburan karena belum bisa berkunjung ke pantai yang indah dan tenang itu.

Untuk menjalankan tugas melarang tamu luar kota berwisata ke Pantai Pangandaran, pemerintah kolonial menempatkan beberapa opsir berjaga di area Jembatan Ciputrapinggan.

Tugas opsir yang berjumlah 4 orang itu menanyakan asal-usul orang yang hendak masuk ke Pangandaran.

Baca Juga: Sejarah Pembangunan Jalur Kereta Api Banjar-Pangandaran yang Bikin Bangkrut Pengusaha Swasta

Jika mereka berasal dari luar kota, maka opsir Belanda tersebut akan menyuruhnya putar arah untuk kembali pulang.

Larangan mengunjungi Pangandaran bagi tamu luar kota berlaku sampai dengan waktu yang belum ditentukan kala itu.

Belanda Tutup Hotel (Pesanggrahan) di Pesisir Teluk Pananjung

Masih menurut surat kabar Belanda, konon ketika wabah malaria yang mematikan membuncah di Pangandaran, pemerintah kolonial juga sempat menutup sarana pesanggerahannya yang berada percis depan pesisir Teluk Pananjung. Hal itu demi melaksanakan tugas preventif standar penanganan pandemic.

Pesanggrahan (hotel) yang berada di Teluk Pananjung selama pandemi banyak ditempati oleh kontrolir Belanda yang sedang bertugas menjadi mandor kopra.

Mereka tidak bisa pulang ke tempat asal lantaran terisolir wabah, maka pilihannya tidak lain menetap di Pangandaran.

Tak lama setelah kebijakan menutup hotel di Pangandaran saat itu diresmikan pemerintah kolonial, terdapat sejumlah hewan ternak mati mendadak.

Baca Juga: Kisah PSK Saritem Jadi Mata-Mata Sukarno, Bantu Perang Lawan Belanda 1945

Menurut analisis dokter hewan, 4 ekor sapi dan 2 ekor kambing yang mati tiba-tiba itu disinyalir akibat hisapan maut dari nyamuk malaria yang mematikan.

Akibat peristiwa ini, dokter hewan langsung menyimpulkan jika keadaan wabah malaria yang mematikan semakin gawat.

Penduduk setempat harus segera memperbaiki sanitasi lingkungan supaya bisa mencegah perkembangbiakan nyamuk malaria di Pangandaran.

Subsidi Kina untuk Obat Malaria

Karena keadaan semakin hari semakin buruk saja, maka pemerintah kolonial menganggarkan biaya untuk mensubsidi kina kepada rakyatnya yang sedang menderita malaria.

Konon obat yang berasal dari tumbuhan kina itu dipercaya manjur untuk menyembuhkan seseorang dari wabah malaria yang mematikan.

Selain dengan perbaikan sanitasi lingkungan, mantra kesehatan yang berasal dari orang Belanda kerap mengumpulkan warga desa di Pangandaran untuk menerima kina subsidi.

Mereka dikumpulkan dan berbaris rapi untuk dipanggil maju menerima obat malaria. Saat itu belum ada vaksin yang bisa mencegah seseorang agar kebal terhadap suntikan nyamuk malaria. Baru ada obat saja, itupun belum secara penuh bisa menyembuhkan penyakit seseorang yang terkena malaria.

Kendati demikian, pemberian subsidi kina membantu kita paham kalau ternyata pemerintah kolonial tidak selamanya jahat.

Mereka tetap memikirkan nasib rakyat pribumi, terlepas dari kepentingan apapun. Saat itu yang diperbuat oleh Belanda adalah perilaku kemanusiaan atas wabah malaria yang mematikan. Sehingga patut diapresiasi. (Erik/R3/HR-Online/Editor: Eva)

Tarian Bagi-bagi THR

Viral Tarian Bagi-bagi THR Mirip Tarian Bangsa Yahudi, Begini Asal Usulnya!

Salah satu tradisi masyarakat muslim di Indonesia yang tak bisa dihilangkan saat momen Idul Fitri yakni bagi-bagi tunjangan hari raya atau THR. Pada Lebaran...
Maxime Bouttier Melamar Luna Maya, Cinta Bersemi di Bawah Bunga Sakura

Maxime Bouttier Melamar Luna Maya, Cinta Bersemi di Bawah Bunga Sakura

Maxime Bouttier melamar Luna Maya belum lama ini. Kabar bahagia datang dari pasangan selebriti ternama Tanah Air. Maxime Bouttier resmi melamar kekasihnya, Luna Maya,...
Idul Fitri, Disnaker Ciamis Kembali Buka Pelayanan Selasa 8 April 2025

Idul Fitri, Disnaker Ciamis Kembali Buka Pelayanan Selasa 8 April 2025

harapanrakyat.com,- Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Ciamis, Jawa Barat, memberlakukan penutupan operasional pelayanan. Baik itu pelayanan...
Polres Ciamis Terapkan Rekayasa Lalu Lintas One Way Parsial di Simpang Tiga Sindangkasih

Polres Ciamis Terapkan Rekayasa Lalu Lintas One Way Parsial di Simpang Tiga Sindangkasih

harapanrakyat.com,- Dalam rangka operasi ketupat Lodaya tahun 2025, Polres Ciamis, Jabar, berlakukan sistem one way parsial di Simpang Tiga Sindangkasih Kabupaten Ciamis, pada Jumat...
Puncak Arus Balik, Jumlah Penumpang Bus di Terminal Garut Mulai Alami Peningkatan

Puncak Arus Balik, Jumlah Penumpang Bus di Terminal Garut Mulai Alami Peningkatan

harapanrakyat.com,- Lonjakan penumpang di terminal pemberangkatan bus Guntur Garut, Jawa Barat, mulai terlihat sejak Sabtu (5/4/2025) pagi. Hingga H plus 3. Petugas mencatat sudah...
Mengembalikan Chat Telegram yang Terhapus, Gunakan Fitur Undo

Mengembalikan Chat Telegram yang Terhapus, Gunakan Fitur Undo

Telegram adalah salah satu aplikasi perpesanan instan yang populer dengan berbagai fitur canggih. Namun, terkadang pengguna mengalami masalah kehilangan chat secara tidak sengaja. Jika...