harapanrakyat.com,- Sejarah meriam si Jagur terkenal sebagai senjata peninggalan VOC di pelataran Kota Tua Jakarta. Konon meriam berbentuk “jempol kejepit” ini memiliki legenda dan mitos yang unik.
Menurut sejumlah sumber sejarah, meriam tersebut sudah ada di pelataran Kota Tua Jakarta sejak masa kejayaan VOC.
Tentara VOC menaklukan daerah Jayakarta saat itu menggunakan berbagai senjata berat, salah satunya dengan senjata meriam si Jagur.
Namun, berbagai sumber yang berbau legenda dan mitos menyangkal fakta sejarah. Konon meriam si Jagur sudah ada sejak kejayaan Pajajaran di daerah Sunda Kelapa.
Dalam catatan legenda dan mitos masyarakat setempat menyebutkan bahwa, meriam yang dijuluki si Jagur itu merupakan jelmaan manusia. Pernyataan ini mengundang banyak kontroversi.
Bagi mereka yang percaya dengan legenda dan mitos tersebut menganggap meriam Jagur sebagai benda kuno yang sakral.
Oleh sebab itu, hingga tahun 1940-an meriam jadul peninggalan VOC ini dipenuhi oleh berbagai sesaji berisi bunga, potongan kepala ayam, dan asap wewangian dari getah kemenyan.
Lantas, bagaimana sejarah meriam kuno peninggalan VOC yang bisa dipertanggung jawabkan itu? Berikut ini ulasan berdasarkan beberapa versi literatur ilmiah.
Baca Juga: Ambil Kayu Bakar Tanpa Izin di Sekitar Gunung Jaha Ciamis, Konon Suka Didatangi Maung Hideung
Sejarah Meriam si Jagur, Senjata VOC di Kota Tua Jakarta
Menurut Adolf Heuken SJ dalam buku berjudul, “Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta” (2016), senjata meriam tersebut buatan seorang insinyur persenjataan asal Portugis bernama Manoel T Baccaro. Ia membuat meriam ini untuk mengalahkan Malaka pada masa penjelajahan dunia.
Setelah pasukan Portugis berhasil menaklukan Malaka, meriam si Jagur dibawa ke Jayakarta. Mereka menempatkan meriam tersebut di bawah pohon, persis depan bangunan administrasi kolonialnya.
Setelah Belanda datang, maka VOC menguasai tempat tersebut. Meriam si Jagur pun dirawat menjadi senjata penghancur di depan Gedung Gubernur Jenderal.
Pada tahun 1900-an banyak sekali orang pribumi yang menganggap meriam si Jagur sakti. Dari sinilah pertama kali meriam si Jagur terkenal menjadi benda kuno yang punya kekuatan supranatural. Banyak kejadian gaib yang berhubungan dengan meriam tersebut.
Kendati demikian, para sejarawan tetap pada pendiriannya. Mereka tidak meyakini fenomena ini sebagai kenyataan.
Namun, akademisi sejarah menilai peristiwa tersebut dengan kacamata struktur kosmologi masyarakat pribumi era kolonial. Karena kepercayaan seperti itulah orang-orang Belanda bisa memperdayai orang-orang.
Baca Juga: Kerusuhan Mandor Kelapa 1939, Unjuk Rasa Petani Kopra di Banjar Patroman Tolak Profesi Makelar
Legenda Meriam si Jagur, Dipercaya Jelmaan Pasutri Patih Zaman Pajajaran
Adapun kisah klasik berbau legenda pada sejarah meriam si Jagur bisa kita lihat dalam sejumlah literasi yang menyebut sebagian orang percaya meriam tersebut jelmaan pasutri.
Ia merupakan pasangan suami istri seorang patih kerajaan di era kejayaan Pajajaran. Cerita ini dibangun oleh perintah Raja Pajajaran yang konon di suatu malam terbangun tiba-tiba.
Raja Pajajaran bermimpi ada ledakan dahsyat dekat kerajaan, sehingga ia pun terperanjat dari tidurnya yang lelap.
Hal ini membuat Raja Pajajaran geram, ia lantas memerintahkan patihnya untuk menemukan sumber suara.
Kepada Patih Kyai Setomi, Raja Pajajaran mengatakan jika patihnya tidak bisa menemukan sumber suara, maka sebagai imbalan atas kegagalannya adalah hukuman mati.
Mendengar pernyataan itu, Kyai Setomi langsung berangkat mencari sumber suara. Ia mengajak istrinya Nyai Setomi mencari asal suara yang mengejutkan sang raja.
Akan tetapi mereka tak kunjung menemukan sumber suara itu berasal. Akhirnya mereka pun bersembunyi di suatu tempat dan bersemadi.
Setelah lama semadi, prajurit Pajajaran menemukan pasutri tersebut berubah menjadi dua buah pipa besi yang berat (meriam).
Baca Juga: Pangeran Mekkah Julukan Bupati Sumedang, Terkenal Baik Hati dan Berjiwa Sosial Tinggi
Namun, ketika Pajajaran kalah oleh Mataram, satu meriam yang mereka namakan Nyai Setomi diboyong ke Jawa.
Sedangkan, meriam satunya lagi yang dinamakan Kyai Setomi yang kemudian dikenal dengan nama si Jagur, tetap berada di pelataran Sunda Kelapa atau Kota Tua Jakarta saat ini.
Mitos Meriam si Jagur Dikeramatkan Penduduk Pribumi
Pada tahun 1900-1940, berdasarkan sejarah konon kaum pribumi setempat kerap menyembah meriam si Jagur sebagai benda keramat.
Mereka datang dengan berbagai macam permintaan. Mulai meminta rejeki berlimpah, kesehatan, jodoh, bahkan meminta sembuh dari kemandulan.
Meriam si Jagur terkenal bisa mengabulkan berbagai permintaan itu. Karena pernah ada satu orang yang beberapa hari meminta bantuan meriam si Jagur, kemudian langsung hamil. Padahal orang tersebut sudah lama belum bisa memiliki keturunan.
Konon lambang “tangan kejepit” merupakan simbolisasi jika meriam tersebut punya energi gaib yang besar dalam konteks seksualitas.
Oleh sebab itu, rata-rata permintaan para peziarah meriam si Jagur yakni meminta cepat mendapatkan keturunan.
Adapun yang menjadi “pasien langganan” meriam si Jagur tak terbatas orang pribumi. Tapi terkadang ada pula orang Indo dan Tionghoa yang turut bersila depan meriam si Jagur. Mereka meminta sesuatu yang diucapkan dengan rahasia. (Erik/R3/HR-Online/Editor: Eva)