Pada masa kerajaan daerah Panjalu (saat ini masuk Kabupaten Ciamis, Jawa Barat) menjadi salah satu wilayah yang dikeramatkan oleh kerajaan Galuh. Begitu pun pada zaman revolusi kemerdekaan, daerah Panjalu dipercaya menjadi markas tentara pelajar yang sulit terdeteksi Belanda.
Entah apa yang menyebabkan tentara Belanda sulit mencari basis pertahanan tentara republik di daerah Panjalu. Yang jelas pihak musuh tidak pernah menemukan kantong-kantong pertahanan tentara republik meskipun markas mereka ada di depan mata tentara musuh.
Pihak musuh bahkan tidak melihat ciri-ciri hutan Panjalu disusupi oleh manusia. Tentara Belanda sama sekali tidak melihat jejak tentara republik melewati hutan Panjalu, padahal mereka mendirikan pusat pertahanan di daerah tersebut.
Berdasarkan beberapa literasi yang ada, konon kantong-kantong markas tentara republik tidak pernah diketahui oleh tentara musuh, ternyata karena masyarakat sekitar percaya jika daerah Panjalu merupakan tempat suci para leluhur Galuh.
Baca Juga: Sejarah Laskar Sabilillah, Satuan Pejuang di Ciamis yang Paling Ditakuti Belanda
Panjalu Ciamis Jadi Markas Tentara Pelajar yang Strategis
Menurut buku “Siliwangi dari Masa ke Masa” (1979), daerah Panjalu menjadi markas Tentara Pelajar yang didominasi oleh kalangan santri. Mungkin karena dihuni oleh golongan santri, basis militer republik di Panjalu menjadi sulit ditemukan oleh tentara musuh.
Dengan kata lain tempat tersebut didominasi oleh doa-doa suci kaum santri. Selain itu sulitnya menemukan markas pasukan republik juga ditengarai karena letak Panjalu yang strategis. Beberapa kantong militer di daerah Panjalu dibangun di dataran tinggi yang sulit ditemukan oleh siapapun.
Apalagi ketika cuaca kemarau tiba, kabut-kabut yang menyelimuti dataran tinggi Panjalu membantu menyamarkan markas-markas tentara republik. Oleh sebab itu tentara Belanda kesulitan menemukan markas pejuang revolusi.
Buku di atas lebih condong memihak pernyataan rasional dengan menyebut sulitnya ditemukan markas republik di Panjalu karena letaknya yang strategis.
Istilah strategis di sini berarti tempat tersebut punya kelebihan untuk menyamarkan penghuninya, salah satunya melalui intensitas kabut yang sering menyelimuti hutan Panjalu.
Baca Juga: Kisah Heroik Tentara Pelajar di Ciamis Menghalau Belanda
Panjalu Basis militer Republiken Sulit Terdeteksi Belanda
Mengutip buku “Siliwangi dari Masa ke Masa” (1979), terdapat salah seorang veteran Belanda yang menyebut Panjalu sebagai daerah sakti. Pernyataan ini lantaran tentara Belanda tidak pernah menemukan dimana kantong-kantong militer pejuang republik di Panjalu.
Padahal tentara Belanda sudah mengetahui letak persis markas republik di hutan Panjalu. Namun setelah dicari sampai ke berbagai sudut hutan Panjalu tentara Belanda tak kunjung menemukan incarannya.
Peristiwa ini kemudian membuat salah seorang veteran Belanda mempercayai hutan Panjalu dihuni oleh berbagai makhluk tak kasat mata. Sedangkan sebagian veteran lain percaya jika hutan Panjalu merupakan tempat keramat peninggalan kerajaan Galuh yang sangat disucikan.
Adapun kisah lain yang lebih menarik dari hutan Panjalu yakni, ketika tentara Belanda tidak pernah menemukan markas pejuang republik meskipun sudah menggunakan alat navigasi yang modern. Teknologi perang itu bahkan tidak pernah berhasil mendeteksi keberadaan pejuang republik.
Padahal pejuang republik sempat melihat tentara Belanda berseliweran di markas mereka. Namun mereka tidak melihat keberadaan pejuang republik, jadi pihak republik hanya melihat dan sesekali membercandai dengan teriakan mengejek, namun tentara Belanda juga tidak pernah mendengarnya.
Sementara itu, menurut salah satu kesaksian ABRI di daerah Pangandaran berpangkat Mayor, dahulu ketika zaman Agresi Belanda, ia pernah terkepung bersama pasukannya.
Namun ada salah seorang temannya yang menyemburkan tanah di hadapan tentara Belanda, lantas apa yang terjadi? Ternyata tentara Belanda itu mendadak tak bisa melihat keberadaannya.
Cerita ini bisa dipercaya atau tidak, yang jelas tentara dan pejuang republik zaman dulu memiliki “pegangan” yang tak bisa dijelaskan dengan akal. Mereka sengaja memiliki pegangan itu tadi untuk bekal mengusir penjajah dari ibu pertiwi.
Markas Panjalu Akhirnya Dibombardir Pesawat Belanda
Menjelang tahun 1947, tentara Belanda mengandalkan politik perang adu domba. Mereka memanfaatkan mata-mata orang pribumi untuk mencari markas tentara Belanda di daerah Panjalu.
Mata-mata tersebut kemudian menyamar sebagai salah seorang pasukan republik yang bermarkas di hutan-hutan Panjalu.
Baca Juga: Sejarah Jembatan Cirahong Ciamis, Jalur Kereta Api yang Horor dan Misterius
Mereka menghafalkan medan menuju ke markas tentara republik di Panjalu. Bahkan beberapa dari mereka ada yang mencatat detail menggunakan kertas bergambar denah. Jadi secara akurat markas tentara republik di daerah Panjalu bisa ditemukan dengan mudah dan tepat.
Ketika para penghianat ini melaporkan hasil pengamatannya pada tentara Belanda, tak lama kemudian musuh republik merencanakan pemboman markas tentara nasional di hutan Panjalu menggunakan pesawat tempur berjuluk Mustang.
Tidak banyak rencana dan berita, tentara Belanda yang sudah menguasai daerah Ciamis-Tasikmalaya akhirnya menjatuhkan beberapa bom persis di markas republik di Panjalu.
Karena peristiwa ini banyak tentara pejuang kita yang menjadi korban. Apalagi bom dijatuhkan pada sore hari waktu dimana pejuang revolusi sedang beristirahat. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)