Pertempuran Karang Resik 1947 merupakan sejarah pada masa revolusi fisik (1946-1948) yang terjadi di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat. Rakyat Karang Resik terkenal gigih berjuang mempertahankan daerahnya dari kekuasaan tentara Belanda.
Mereka melakukan berbagai cara untuk menghindari tentara Belanda datang ke daerah Karang Resik. Ratusan rakyat yang tinggal di daerah tersebut bahkan sempat merencanakan beberapa strategi sabotase untuk melumpuhkan tentara Belanda jika sewaktu-waktu mereka datang.
Kekhawatiran masyarakat Karang Resik menjadi kenyataan, tentara Belanda sudah menguasai daerah Ciamis lantas selanjutnya akan datang ke wilayah Tasikmalaya.
Baca Juga: Sejarah Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, Pondok Salafiyah Terbesar di Tasikmalaya
Namun masyarakat Karang Resik sudah melakukan persiapan yang matang untuk menghalau tentara Belanda. Sehingga ketika tentara Belanda yang hendak melintasi wilayah tersebut terhalang oleh beberapa insiden. Salah satunya kejadian putus jembatan yang janggal.
Ketika prajurit Belanda turun dari truk untuk mengecek penyebab jembatan putus, tiba-tiba dari atas ada serangan mendadak dari kelompok laskar rakyat. Mereka menembaki mobil-mobil tentara Belanda. Karena tidak siap sebelumnya, banyak prajurit Belanda yang tewas terkena peluru pejuang Karang Resik.
Peristiwa ini membuat Belanda mundur menjauh dari daerah Tasikmalaya. Kabar tewasnya beberapa prajurit tadi juga membuat pemerintah perang Belanda naik pitam. Mereka geram atas apa yang dilakukan oleh masyarakat Karang Resik.
Sejarah Pertempuran Karang Resik Tasikmalaya 1947 dan Sabotase Putus Jembatan
Menurut Tim Dinas Sejarah Angkatan Darat berjudul, “Siliwangi dari Masa ke Masa” (1979), salah satu strategi perang yang populer di daerah Karang Resik adalah “sabotase putus jembatan”.
Banyak pejuang kemerdekaan dari Karang Resik yang melakukan sabotase putus jembatan untuk menghalau perjalanan Belanda yang ingin menguasai daerah Tasikmalaya. Bagi masyarakat di sana, sabotase dengan cara memutus jembatan bisa membuat musuh terjebak.
Mereka tidak bisa maju ataupun mundur ke belakang karena sebelum tentara musuh akan melewati jembatan tersebut, sudah ada para pejuang Karang Resik yang berjaga diam-diam di arah belakang.
Baca Juga: Sejarah Pergantian Nama Sukapura Jadi Tasikmalaya, Diresmikan Tahun 1933
Jadi ketika tentara Belanda ini hendak mundur ke belakang, maka pejuang republik di Belakang akan menyerangnya. Tak heran karena strategi perang ini banyak para prajurit Belanda yang tewas secara mengenaskan.
Mereka mati tidak hanya terkena tembakan, tapi ada beberapa tentara Belanda yang tewas sadis dengan cara tercekik kawat, dan tertusuk tombak kayu yang runcing tepat di dada sebelah kiri sampai menembus jantung.
Tentara Belanda Berhasil Dipukul Mundur dari Daerah Karang Resik
Karena peristiwa putus jembatan dalam catatan sejarah pertempuran Karang Resik tersebut, pasukan Belanda mundur menjauhi kota Tasikmalaya. Mereka mengalami trauma mendalam karena banyak prajurit yang tewas di medan laga.
Adapun pernyataan tentara Belanda mundur menjauhi Tasikmalaya terlihat dari pernyataan Dinas Sejarah Angkatan Darat (1979) berikut ini.
“Pertempuran berlangsung sampai sore hari. Tentara Belanda akhirnya mengundurkan diri ke belakang. Pasukan kita (rakyat Karang Resik) kemudian menggunakan tembakan mortir untuk menghalau tentara Belanda. Akibatnya, tentara Belanda mundur ke daerah Kalapanunggal dan Pengkolan Ciamis –Gunung Cupu.”
Pejuang di Karang Resik berhasil mengusir tentara Belanda dari Tasikmalaya dibantu oleh satuan Detasemen II Garuda dan Detasemen IV Kodongan. Mereka semua saling bahu membahu terjun ke lapangan untuk memukul mundur tentara Belanda.
Karang Resik Dibombardir Pesawat Mustang
Karena peristiwa yang menimpa prajurit Belanda –tewas mengenaskan di daerah Karang Resik, maka atas izin Angkatan Udara Belanda, pesawat pemburu berjenis Mustas akan membumihanguskan Karang Resik beserta isinya.
Motif balas dendam ini membuat penduduk Karang Resik Tasikmalaya jadi korban. Jumlah korban dari orang Karang Resik lebih banyak dari pada dari golongan tentara Belanda. Mereka tewas akibat berondong peluru dari pesawat Mustang yang membabi buta.
Baca Juga: Peristiwa Linggasirna Tasikmalaya 1963, Lurah Singaparna Terlibat Pemerasan dan Pembunuhan
Tragisnya banyak masyarakat di Karang Resik yang sedang tidur pun jadi korbannya. Sebab selain menjatuhkan bom atom dari pesawat, tentara Angkatan Udara yang menerbangkan Mustang itu juga memberondong peluru mengarah ke rumah-rumah warga.
Karena kecepatan peluru itu tinggi maka ketika mengarah ke atap rumah, peluru tersebut menembus dan mengenai orang-orang tak bersalah yang sedang beristirahat di dalam rumah. Saat itu Belanda menyerang Karang Resik pada malam hari –waktu di mana orang sedang tidur.
Kendati tentara Belanda menyerang dari pesawat tempur Mustang, para pejuang di Karang Resik tetap gigih mempertahankan kemerdekaan sebisa mungkin.
Mereka terus berkelana dengan laskar rakyat lainnya dan bergabung dengan tentara republik untuk membalaskan dendam ke Belanda menggunakan metode gerilya.
Sisa-sisa pertempuran Karang Resik Tasikmalaya dapat dilihat dari jembatan bersejarah yang bisa dilihar di kawasan wisata Karang Resik, perbatasan Ciamis-Tasikmalaya. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)