Atmosfer matahari retak merupakan salah satu fenomena langit yang belum lama ini terjadi. Seperti yang kita tahu, matahari memiliki atmosfer yang mungkin saja mengalami masalah, seperti terjadi retak. Keretakan yang terjadi pada matahari ini merupakan sebuah lubang dengan ukuran yang besar.
Bahkan, arah lubang tersebut lurus ke arah Bumi. Ada berbagai faktor yang mempengaruhinya.
Biasanya, fenomena ini berkaitan dengan kecepatan angin matahari yang meningkat. Selain itu, juga disebabkan karena medan magnet antar planet yang kuat.
Baca Juga: Benang Plasma di Atmosfer Matahari Menyembur 8 Kali Bumi
Terjadinya fenomena tersebut, membuat munculnya aurora. Meskipun menyita banyak perhatian, akan tetapi fenomena seperti ini selalu berada dalam ketidak pastian.
Atmosfer Matahari Retak, Menyebabkan Aurora
Sebenarnya peristiwa ini tidak hanya terjadi sekali ini saja. Beberapa waktu lalu, di Amerika Serikat terdapat lubang korona yang bisa dibandingkan dengan lubang yang terjadi saat ini.
Dari peristiwa tersebut, menyebabkan aurora yang terlihat dari selatan New York hingga ke Seattle. Namun, peristiwa itu tidak menyebabkan masalah yang serius untuk mendapatkan penanganan.
Aktivitas Matahari
Atmosfer matahari retak, tidak terlepas dari terjadinya aktivitas matahari itu sendiri. Beberapa bentuk aktivitas menyebabkan interferensi mendadak pada magnetosfer Bumi.
Salah satu aktivitas yang cukup terkenal adalah suar matahari. Sedangkan lubang korona merupakan aktivitas yang jarang kita kenal.
Baca Juga: Gerak Semu Matahari Harian dan Tahunan, Apa Dampaknya?
Meskipun demikian, lubang korona tetap mendapatkan perhatian dari para pengamat. Bahkan, sejumlah pengamat memberikan perhatian dengan cermat. Pasalnya, aktivitas matahari ini cukup memberikan pengaruh.
Lapisan pada Matahari
Matahari merupakan bola gas yang berpijar dengan suhu sangat panas. Matahari sendiri memiliki empat lapisan yakni inti matahari, fotosfer, kromosfer, dan yang terakhir adalah korona.
Dalam peristiwa atmosfer matahari retak tersebut, terjadi pada lapisan korona. Korona merupakan lapisan luar atmosfer dari matahari.
Korona memiliki warna keabu-abuan. Hal ini terbentuk karena hasil dari adanya ionisasi pada atom-atom karena suhu yang sangat tinggi.
Suhu korona kurang lebih mencapai 1.000.000 derajat Celcius. Kita bisa menyaksikan korona, saat terjadi gerhana matahari total.
Pada saat itu, bulan hampir menutupi sebagian besar cahaya matahari. Bila kita amati dengan seksama, bentuk korona seperti mahkota.
Selain atmosfer matahari retak, terdapat pula berbagai gangguan lainnya yang mungkin saja terjadi. Seperti halnya, gumpalan-gumpalan pada fotosfer, bintik matahari, lidah api matahari, hingga letupan.
Baca Juga: Ukuran Asli Matahari, Bintang di Pusat Tata Surya
Bila kita bandingkan dengan bintik matahari maupun aktivitas lainnya, lubang korona bisa terjadi kapan saja. Akan tetapi, hal tersebut dipengaruhi oleh siklus matahari 11 tahun.
Meski demikian, frekuensinya tidak sedekat ekuator matahari sehingga bersifat counter cyclical. Akan memuncak ketika berada di dekat minimum matahari saat jenis aktivitas matahari lainnya mengalami penurunan.
Itulah tadi penjelasan terkait atmosfer matahari retak yang berhasil dalam pantauan NASA. Pada tanggal 24 Maret 2023 kemarin, terlihat aurora. Sedangkan 25 Maret 2023 terjadi badai geomagnetik tingkat G1. (R10/HR-Online)