harapanrakyat.com,- Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengimbau semua pihak terutama petugas kesehatan hewan, meningkatkan kewaspadaan terhadap berkembangnya virus flu burung jenis baru.
Hal itu seiring berkembangnya informasi mengenai penemuan kasus virus flu burung H5N1 varian 2.3.4.4b di beberapa negara di antaranya Eropa, Amerika, dan Kamboja. Virus flu burung varian baru ini terkonfirmasi telah menular ke manusia.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat, Arifin Soedjayana mengatakan, meski virus H5N1 varian baru itu belum ada temuan kasus di Indonesia, namun kewaspadaan perlu dilakukan.
Baca Juga : Apartemen Peternakan Ayam Masuk Program Petani Milenial Jabar
Adapun flu burung biasa yang relatif masih belum berbahaya, lanjut Arifin, terdeteksi di Kota Cirebon dan Kota Cimahi, Jawa Barat.
“Konfirmasi flu burung biasa ini, hasil dari laboratorium Balai Veteriner Subang yang kemudian dikirimkan ke Kementerian Kesehatan,” ungkap Arifin di Kota Bandung, Rabu (1/3/2023).
Menurut Arifin, optimalisasi kewaspadaan ini terutama untuk menghindarkan kerugian ekonomi akibat kematian massal unggas. Kemudian memastikan kebutuhan daging unggas masyarakat tercukupi, serta penularan virus dari unggas ke manusia (zoonosis).
“Kepada seluruh jajaran kesehatan hewan agar meningkatkan kewaspadaan terhadap berkembangnya penyakit AI (Avian Influenza),” ujarnya.
Upaya DKPP Jawa Barat Antisipasi Flu Burung Varian Baru
Mengantisipasi H5N1 varian baru, DKPP Jawa Barat mengaku telah melakukan berbagai langkah.
Di antaranya, meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar segera melapor kepada petugas kesehatan hewan terdekat bila menemukan unggas sakit atau mati mendadak.
Arifin menambahkan, pihaknya menganjurkan vaksinasi AI pada itik menggunakan vaksin AI Subtipe H5N1 clade 2.3.2. Sedangkan ayam petelur menggunakan vaksin clade 2.1.3, atau clade 2.3.2, atau vaksin kombinasi clade 2.1.3 dan clade 2.3.2 produksi nasional.
Baca Juga : DOC Ayam Sentul Gratis untuk Pokmas di Ciamis, Ini Syaratnya
Upaya lainnya, lanjut Arifin, yaitu meningkatkan pembinaan penerapan sanitasi pada sepanjang rantai pemasaran unggas untuk memutus rantai penyebaran virus.
“Meminimalkan risiko penularan ke masyarakat umum,” kata Arifin.
Sementara itu, Kabid Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner DKPP Jawa Barat drh Supriyanto mengatakan, pengendalian petugas dan peternak untuk antisipasi flu burung, masih dilakukan.
Ia pun bersyukur flu burung H5N1 varian 2.3.4.4b, belum dan jangan sampai muncul di Indonesia. “Vaksin khusus H5N1 clade 2.3.4.4b belum ada di Indonesia,” tuturnya. (R13/HR Online/Editor-Ecep)