Sabtu, April 5, 2025
BerandaBerita TerbaruSejarah Ekonomi Kerakyatan, Upaya Orde Lama Berantas Kemiskinan

Sejarah Ekonomi Kerakyatan, Upaya Orde Lama Berantas Kemiskinan

Sejarah ekonomi kerakyatan muncul semenjak Indonesia menjadi negara berdaulat yaitu saat berkibarnya bendera merah putih pada tanggal 17 Agustus 1945. Tepatnya ketika bangsa Indonesia sudah merdeka dan terbebas dari penjajahan.

Ketetapan ekonomi kerakyatan tercantum dalam Undang-Undang Dasar tahun 1945 yang intinya bertujuan menciptakan sistem modernisasi perniagaan yang terbebas dari pengaruh kolonial. Ini terjadi karena sebuah negara baru merdeka memerlukan sistem ekonomi.

Ekonomi kerakyatan memiliki cita-cita luhur bagi kemajuan bangsa, yakni ingin memberantas kemiskinan. Seluruh bangsa Indonesia harus sejahtera, tidak kelaparan dan jangan sampai menjadi pengangguran.

Baca Juga: Sejarah Ajaran Saminisme, Gerakan Tanpa Kekerasan yang Dicemooh

Semua telah tercantum dalam undang-undang serta ketentuan dasar berbangsa dan bernegara, bahkan pernyataan yang mengatur kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia termaktub pula dalam butiran sakti Pancasila.

Dasar negara Pancasila menjamin segala kebutuhan rakyat supaya tidak mengalami kemiskinan dan kesulitan dalam memperoleh kebahagiaan. Namun apakah hal ini sudah berjalan sebagaimana cita-cita tersebut?

Sejarah Ekonomi Kerakyatan, Sarana Orde Lama Menciptakan Kesejahteraan

Menurut ahli ekonomi sejak zaman kemerdekaan, Sarbini Sumawinata dalam tulisannya di Majalah Prisma Edisi 8 Agustus 1983 berjudul, “Sejarah Ekonomi Kita, Sejarah Tanpa Perubahan”, ekonomi kerakyatan diciptakan untuk mengentaskan kemiskinan sosial.

Namun pada praktiknya tidak demikian. Ekonomi kerakyatan seperti tinta emas yang menorehkan catatan sejarah ekonomi kita menjadi sejarah ekonomi tanpa perubahan.

Memang tidak ada yang berubah, kecuali memperkaya golongan kapitalisme Barat di negeri ini. Apa bedanya dengan zaman dulu (kolonial)?

Semua tetap sama malahan menjadi lebih buas dan berbahaya karena rakyat dininabobokan oleh struktur birokrasi yang pandai mendongeng. Rakyat dibodohi oleh pidato-pidato kapitalis yang menyamar sebagai wakil dalam parlemen.

Mereka selalu berteriak bangga dengan mengatakan “ekonomi negara dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan. Sedang para penganggur perlahan-lahan mendapatkan kerja yang layak dengan gaji yang lebih dari kata cukup”.

Baca Juga: Sejarah Negara Pasundan, Kisah Kegagalan Subversif di Jabar

Kendati demikian yang salah bukanlah pada sistem ekonomi kerakyatan. Sistem ini sudah cocok dijadikan sebagai dasar pembangunan ekonomi kita pasca perang. Sebab ekonomi kerakyatan dalam isinya banyak sisi yang memihak pada kepentingan rakyat.

Menurut Sarbini, setidaknya ekonomi kerakyatan mengandung 3 unsur penting di dalam pembangunan ekonomi bangsa, yaitu Populis, Berkeadilan social, dan Demokratis. Populis artinya perhatian yang dominan mengarah untuk pemberantasan kemiskinan rakyat.

Sejarah Ekonomi Kerakyatan, Berdiri dari Aspirasi Rakyat

Ekonomi kerakyatan berdiri sesuai dengan aspirasi rakyat. Artinya seluruh ekonomi kerakyatan merupakan mekanisme modern perniagaan negara yang fokus menciptakan jaminan keadilan dan kesejahteraan rakyat.

Pelopor ekonomi kerakyatan kaitannya menjadikan aspirasi rakyat sebagai landasan pembangunan modernisasi perniagaan bangsa antara lain Drs. Moh. Hatta, wakil Presiden Republik Indonesia kedua.

Konon Bung Hatta ikut menyepakati ekonomi kerakyatan sebagai bagian dari landasan pembangunan bangsa akibat kebenciannya pada struktur ekonomi kolonial yang licik.

Bung Hatta ingin menggunakan seluruh kepentingan ekonomi bersama (ekonomi kerakyatan) menjadi dasar kerja pembangunan bangsa. Ia ingin menghindari sistem ekonomi Belanda yang mempertahankan dualisme aristokrat dan gubernemen.

Jika sifat-sifat dualisme ini masih dipegang oleh para ekonom saat ini, Bung Hatta menjamin ekonomi kerakyatan tak akan terpenuhi.

Dalam hal ini ia ingin mengatakan kalau pun rakyat Indonesia belum semuanya mendapatkan keadilan dan kesejahteraan, maka yang disalahkan bukanlah sistemnya, melainkan subjeknya (orang yang menjalankan sistem tersebut).

Baca Juga: Sejarah Pabrik Tebu di Yogyakarta Tahun 1930 yang Memiskinkan Petani

Dengan adanya ekonomi kerakyatan, pemerintah Orde Lama memiliki pegangan untuk melihat sejarah: melihat sistem ekonomi yang menyengsarakan zaman kolonial Belanda.

Sebab faktanya sistem ekonomi kerakyatan itu sendiri terbentuk dari keresahan para ekonom pada sistem perniagaan klasik kolonial yang memihak golongan kapital.

Mereka saling bekerjasama dengan aristokrat lokal memperkaya wilayahnya masing-masing. Sedang rakyat terkapar miskin dan sengsara akibat seluruh keuntungan di negerinya sudah didominasi oleh para aristokrat lokal dan gubernemen Belanda.

Menggeser Struktur Ekonomi Agraris ke Industri

Meskipun cita-citanya visioner dan futuristic, menurut Sarbini sistem ekonomi kerakyatan memiliki dampak negatif yang tak kalah pentingnya.

Salah satu dari dampak negatif tersebut adalah sistem ekonomi kerakyatan menuntut pergeseran pada struktur ekonomi, dari sektor agraris menjadi pindah ke sektor industri.

Bung Hatta bersama para ekonom Orde Lama telah setuju dan menerima semua risikonya dari pendapat ilmuwan Barat bernama Kuznetz.

Menurutnya ekonomi kerakyatan memiliki dampak yang besar bagi kesejahteraan suatu bangsa. Risiko paling besar bisa mengubah keadaan sosial suatu bangsa menjadi timpang.

Mereka lebih memilih sektor industri yang serba teknologi tanpa mempertimbangkan sektor agraris. Padahal dasar utama kehidupan manusia tak lepas dari ladang persawahan. Akibatnya setiap tahun Indonesia akan mengalami krisis pertanian.

Profesi petani akan menyusut drastis yang berakibat fatal pada ancaman kebutuhan pangan bangsa. Mungkin saja ekonomi kerakyatan bisa memberi lapangan kerja yang luas, tapi apalah artinya punya banyak uang tapi beras harus impor dari luar negeri. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Tarian Bagi-bagi THR

Viral Tarian Bagi-bagi THR Mirip Tarian Bangsa Yahudi, Begini Asal Usulnya!

Salah satu tradisi masyarakat muslim di Indonesia yang tak bisa dihilangkan saat momen Idul Fitri yakni bagi-bagi tunjangan hari raya atau THR. Pada Lebaran...
Maxime Bouttier Melamar Luna Maya, Cinta Bersemi di Bawah Bunga Sakura

Maxime Bouttier Melamar Luna Maya, Cinta Bersemi di Bawah Bunga Sakura

Maxime Bouttier melamar Luna Maya belum lama ini. Kabar bahagia datang dari pasangan selebriti ternama Tanah Air. Maxime Bouttier resmi melamar kekasihnya, Luna Maya,...
Idul Fitri, Disnaker Ciamis Kembali Buka Pelayanan Selasa 8 April 2025

Idul Fitri, Disnaker Ciamis Kembali Buka Pelayanan Selasa 8 April 2025

harapanrakyat.com,- Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Ciamis, Jawa Barat, memberlakukan penutupan operasional pelayanan. Baik itu pelayanan...
Polres Ciamis Terapkan Rekayasa Lalu Lintas One Way Parsial di Simpang Tiga Sindangkasih

Polres Ciamis Terapkan Rekayasa Lalu Lintas One Way Parsial di Simpang Tiga Sindangkasih

harapanrakyat.com,- Dalam rangka operasi ketupat Lodaya tahun 2025, Polres Ciamis, Jabar, berlakukan sistem one way parsial di Simpang Tiga Sindangkasih Kabupaten Ciamis, pada Jumat...
Puncak Arus Balik, Jumlah Penumpang Bus di Terminal Garut Mulai Alami Peningkatan

Puncak Arus Balik, Jumlah Penumpang Bus di Terminal Garut Mulai Alami Peningkatan

harapanrakyat.com,- Lonjakan penumpang di terminal pemberangkatan bus Guntur Garut, Jawa Barat, mulai terlihat sejak Sabtu (5/4/2025) pagi. Hingga H plus 3. Petugas mencatat sudah...
Mengembalikan Chat Telegram yang Terhapus, Gunakan Fitur Undo

Mengembalikan Chat Telegram yang Terhapus, Gunakan Fitur Undo

Telegram adalah salah satu aplikasi perpesanan instan yang populer dengan berbagai fitur canggih. Namun, terkadang pengguna mengalami masalah kehilangan chat secara tidak sengaja. Jika...