Sejarah gastronomi di Indonesia pernah mengungkap banyak fakta tentang menu makan sehari-hari orang Jawa pada abad 18.
Menu makanan orang Jawa tentu bukan makanan yang mewah seperti para bangsawan di wilayah lainnya yang ada di Nusantara. Hal ini karena orang-orang Jawa pribumi termasuk para elit mardika menghindari makan daging merah dan memilih mengkonsumsi ayam serta lalapan setiap harinya.
Tentu ini hal yang menarik, menu makan sehari-hari orang Jawa tersebut merupakan salah satu gambaran komunal yang sederhana.
Selain itu penemuan aturan makan orang Jawa pada abad 18 tersebut menjadi bukti jika mereka cenderung punya etika dalam memaknai makanan. Kenapa etika? Apakah ada yang salah jika mereka memakan daging merah?
Baca Juga: Sejarah Swasembada Pangan Zaman Orba: Padi Melimpah, Kesejahteraan Rendah
Orang Jawa pada waktu itu menghindari makan daging sapi karena alasan menghormati dewa. Lebih tepatnya menghargai umat Hindu yang mempercayai sapi atau lembu merupakan jelmaan kendaraan Dewa Siwa yakni Lembu Nandi.
Menu Makan Orang Jawa Abad 18: Menghindari Daging Merah, Memilih Lalapan dan Daging Ayam
Menurut Ong Hok Ham dalam Majalah Prisma Edisi Agustus 1983 berjudul, “Merosotnya Peranan Pribumi dalam Perdagangan Komoditi”, orang Jawa kebanyakan menghindari daging merah terutama Sapi karena menghargai dewa dalam agama Hindu (Lembu Nandi).
Masyarakat Jawa saat itu khawatir menyakiti perasaan umat Hindu yang masih ada sebagian di beberapa kota terpencil Jawa, salah satunya di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta.
Sedangkan orang Hindu yang berasal dari suku Jawa juga khawatir dengan kutukan karma. Seperti halnya orang Islam yang melarang umatnya mengkonsumsi babi, ajaran Hindu juga membuat pantangan untuk pengikutnya agar tidak mengkonsumsi daging sapi.
Orang-orang Jawa pada abad 18 cenderung memilih menu makan daging putih (ayam) dan lalapan (sayur). Daging ayam bumbu khas Jawa dengan lalapan terlihat lebih menarik ketimbang harus memakan daging sapi.
Meskipun orang-orang Jawa saat itu tidak memakan daging sapi bukan berarti mereka tidak sama sekali memakan daging merah. Biasanya jika terpaksa ingin mencicipi daging merah, orang Jawa abad 18 pergi berburu rusa di hutan.
Daging rusa lebih aman untuk konsumsi sehari-hari. Hal ini karena bentuk dan kedudukan kosmologi hewan mamalia ini tidak sama seperti sapi yang didewakan oleh umat Hindu. Rusa menjadi alternatif menu makan orang Jawa abad 18 saat mereka ingin mengkonsumsi daging merah.
Baca Juga: Sejarah Kristenisasi di Yogyakarta 1920, Tanah Sultan Dimasuki Misionaris Barat
Kepentingan Ekonomi Feodal
Selain karena menghargai umat Hindu di sekitar penduduk yang ada di Jawa, pantangan memakan daging sapi bagi orang Jawa saat itu merupakan dampak dari pemanfaatan kepentingan ekonomi feodal dari kerajaan setempat.
Menurut Barrington Moore Jr dalam buku berjudul, “Social Origins of Dictatorship and Democracy Lord And Peasant in the Making of the Modern World” (1970), pantangan mengkonsumsi daging merah terutama sapi pada orang Jawa abad-18 pada umumnya merupakan kepentingan ekonomi feodal yang busuk.
Kerajaan-kerajaan di Jawa berlindung pada isu-isu normatif agama yang mana ajaran Hindu mengharamkan umatnya memakan daging sapi. Para aristokrat Jawa memanfaatkan hal tersebut untuk merebut tanah masyarakat agraris. Mengapa, kok bisa?
Tentu bisa karena banyaknya ladang kosong untuk memelihara sapi. Artinya kerajaan bisa memonopoli tanah milik masyarakat yang luas dengan cara tak mengakui surat izin pembangunan dan kepemilikan tempat.
Apabila ini terjadi jawabannya jelas, seperti kebanyakan rakyat feodal di dunia, orang Jawa pemilik tanah itu akan diambil alih hak kepemilikannya oleh kerajaan atau para penguasa tanah bergelar bangsawan. Padahal tanah itu merupakan tanah adat yang dahulunya dimiliki secara bersama-sama (komunal).
Tidak Punya Modal Mengembangkan Peternakan Hewan Mamalia
Selain masalah kepemilikan tanah yang diakuisisi sepihak oleh kaum aristokrat, sulitnya orang Jawa abad 18 mengembangkan peternakan hewan mamalia terjadi karena kekurangan modal.
Baca Juga: Sejarah Sekaten Yogyakarta, Pesta Rakyat Warisan Majapahit
Alasan inilah yang kemudian membuat orang Jawa abad 18 terbatas mengkonsumsi daging merah. Barangkali bagi mereka yang Muslim saat itu hanya makan daging merah dari hewan mamalia berjenis kambing setiap tahun sekali saat Hari Raya Idul Adha.
Sedangkan menu makan setiap hari mereka tetap konsisten: “jika ingin daging maka mereka mengkonsumsi daging ayam”. Tetapi itu juga bagi mereka yang mampu memelihara ayam, jika tidak ya terpaksa memetik lalapan.
Untuk mensiasati agar gizi orang Jawa abad 18 terpenuhi, maka pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu menyokong mereka agar beternak ayam di pelataran rumah. Ini merupakan upaya pemenuhan gizi bagi mereka yang realistis ketimbang beternak mamalia.
Sebab untuk memelihara ayam cukup membutuhkan tempat yang dekat dengan rumah. Beternak ayam untuk kepentingan konsumsi pribadi tentu tidak akan memerlukan ladang rumput yang luas.
Hal ini tentu berbeda dengan peternak mamalia lainnya yang butuh tempat luas untuk mengumbar (mengangon) hewan ternaknya. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)