Pembebasan Kota Damaskus menjadi peristiwa bersejarah dalam Islam. Kota Damaskus menjadi salah satu kota bersejarah dengan proses pembebasan yang cukup panjang. Sebab sulit sekali untuk bisa menaklukkan kota ini.
Ibu kota Damaskus terletak di negara Suriah. Banyak sekali tempat-tempat bersejarah yang bisa kita jumpai di sini. Tak hanya itu, Damaskus juga menjadi kota tertua di dunia yang sampai saat ini masih ada penghuninya.
Damaskus merupakan suatu kota yang sekelilingnya merupakan bangunan tembok yang panjangnya hingga 600 meter. Sekeliling kota ini juga terdapat parit yang penuh dengan air.
Rasulullah juga pernah menjanjikan jika kota ini nantinya akan menjadi tempat pengungsian umat Islam akhir zaman sesudah terjadi perang yang sangat besar.
Baca Juga: Firaun yang Mengejar Nabi Musa hingga Ditelan Laut Merah
Kisah Pembebasan Kota Damaskus
Pembebasan kota Damaskus yaitu terjadi dalam waktu yang istimewa bertepatan dengan bulan Rajab, tepatnya tanggal 15 tahun 15 Hijriah. Jika menurut tanggalan Masehi, pembebasan ini terjadi pada tanggal 3 September 635 Masehi.
Kota Damaskus juga termasuk kota akan menjadi kawasan terdekat nabi Isa turun saat akhir zaman. Untuk melakukan pengepungan kota ini membutuhkan waktu 40 hari.
Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq Melawan Imperium Romawi
Awal mula kisah ini yaitu pada saat strategi khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq untuk menghadapi imperium Romawi. Imperium Romawi mempunyai jumlah prajurit yang cukup banyak.
Abu Bakar ash-Shiddiq hadir untuk membubarkan konsentrasi Imperium Romawi. Strategi yang dilakukan yaitu dengan menyerang dalam waktu yang berdekatan, beberapa kawasan penting.
Hal inilah yang menyebabkan Raja Imperium Romawi, Heraklius merasa kewalahan untuk menyusun strategi.
Abu Bakar ash-Shiddiq Wafat Sebelum Pembebasan
Sejak saat itulah, umat Islam mengalami banyak kemenangan. Namun sayang sekali, khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq wafat sebelum adanya pembebasan kota Damaskus. Setelah wafat, Umar bin Khattab menggantikannya sebagai khalifah.
Setelah berbagai daerah mengalami kemenangan, prajurit Islam akhirnya membuat titik kumpul di Kota Damaskus. Mereka juga melakukan pengepungan kota Damaskus pada beberapa pintu masuk kota Damaskus.
Ada juga yang berjaga untuk menahan bala bantuan dari imperium Romawi. Sebab, saat itu penguasa Kota Damaskus mengajukan sejumlah bantuan tambahan pada Raja Heraklius di Suriah.
Bantuan tersebut tak kunjung datang sebab Imperium Romawi ini sedang mengalami kerugian besar sesudah prajurit Islam mengepung daerah kekuasaannya.
Orang Nasrani sebenarnya juga sudah mendapat penindasan bertahun-tahun dari Imperium Romawi. Sampai pada akhirnya, ia menuliskan perjanjian agar dapat memancing perhatian umat nasrani kota Damaskus.
Baca Juga: Hijrah Pertama Umat Islam dari Mekkah ke Habasyah!
Janji Khalid bin Walid pada Penduduk Damaskus
Khalid bin Walid akhirnya mengucapkan janji kepada penduduk kota Damaskus untuk memberikan keamanan bagi penduduk kota setelah menaklukkannya. Baik itu keamanan jiwa, harta, hingga bangunan gereja mereka.
Prajurit umat Islam mencari waktu yang tepat untuk menyerbu kota Damaskus. Sampai pada suatu malam, Nisthas bin Nasthuras merayakan kelahiran anaknya dan mengundang penduduk Damaskus.
Perayaannya sangat meriah sekali. Bahkan banyak minuman keras yang berserakan hingga menjadikan pertahanan benteng melemah. Pendeta Nasrani menyampaikannya kepada Khalid bin Walid.
Akhirnya, Khalid bin Walid memanjat tembok Kota Damaskus untuk menyelinap masuk. Tak hanya itu saja, beberapa pasukan juga membuka pintu gerbang timur untuk memberi celah pada pasukan umat Islam.
Pasukan Islam Berhasil Masuk ke Kota Damaskus
Untuk pembebasan kota Damaskus, akhirnya pasukan umat Islam memasuki Kota Damaskus. Ketika itu pasukan penjaga gerbang telah mengucapkan takbir, sehingga pasukan Islam segera bergegas masuk.
Saat itu, penduduk Kota Damaskus kaget dengan pasukan Islam yang masuk. Pasalnya, mereka sedang terlena dengan minuman keras perayaan pesta tersebut. Bahkan, penduduk Damaskus tidak bisa menggunakan pedangnya untuk menghadapi pasukan umat Islam.
Baca Juga: Kisah Perang Bani Quraizhah, Terjadi pada Bulan Dzulqadah!
Penduduk Damaskus Memilih untuk Damai
Hingga akhirnya, penduduk Kota Damaskus lebih memilih berdamai dengan pasukan umat Islam. Jadi tidak ada peperangan di Kota Damaskus.
Setelah itu, umat islam juga minta bagian barat gereja untuk dijadikan sebagai masjid bagi umat Islam. Lalu untuk bagian yang lain tetap untuk gereja tempat umat Nasrani yang akan beribadah.
Masjid dari bagian barat gereja tersebut akan disebut dengan masjid Umawi. Menariknya, masjid ini menjadi masjid terbesar di Suriah.
Sedangkan, gereja yang Khalid bin Walid gunakan untuk menginap sebelum pembebasan Damaskus ini akan dinamakan dengan gereja Khalid bin Walid. Hal ini adalah bukti bahwa Khalid sangat diagungkan oleh umat nasrani Damaskus. (R10/HR-Online)