Minggu, April 6, 2025
BerandaBerita TerbaruKassian Chepas, Peranakan Indo-Eropa yang Jadi Fotografer HB VII

Kassian Chepas, Peranakan Indo-Eropa yang Jadi Fotografer HB VII

Pada awal abad ke-19 fenomena pergundikan antara Belanda dan pribumi menjadi trend. Dari hasil perkawinan silang dua ras dari suku yang berbeda ini melahirkan komunitas sosial baru bernama “peranakan Indo-Eropa”.

Kemunculan golongan baru ini membuat gempar masyarakat pribumi. Sebab setiap anak yang terlahir dari perbuatan gundik tidak tercatat sebagai penduduk Hindia Belanda. Mereka illegal dan tidak memperoleh status kebangsaan secara resmi.

Bahkan kasta peranakan Indo-Eropa lebih rendah dari Inlanders (pribumi). Meskipun kulit mereka putih, matanya biru dan sesekali mengobrol dengan menggunakan bahasa Belanda kasar, orang Eropa tidak mengakui kedudukannya sama dengan anak Indo-Eropa.

Alhasil banyak anak Indo-Eropa dari pergundikan yang frustasi. Mereka membenci leluhurnya termasuk orang pribumi. Sebab sama halnya dengan orang Eropa, para pribumi juga memperlakukan anak Indo-Eropa dengan rendah.

Baca Juga: Sejarah Kartu Pos Zaman Belanda, Gadis Cantik Pribumi Jadi Modelnya

Kendati kebanyakan anak Indo-Eropa hilang arah dan tidak percaya diri, tidak demikian halnya dengan seorang peranakan Indo-Eropa bernama Kassian Cephas. Ia justru tumbuh menjadi orang dewasa yang mujur.

Cephas terkenal sebagai fotografer yang handal kepercayaan Sri Sultan Hamengkubuwono VII bersama keluarganya di Kraton Kasultanan Yogyakarta.

Meski harus menerima caci dan makian dari orang yang tak menyukainya, Cephas tetap percaya diri bahwa golongan Indo-Eropa akan lebih berguna dari orang Eropa dan pribumi.

Kisah Peranakan Indo-Eropa, Kassian Cephas jadi Fotografer Sukses di Yogyakarta

Kassian Cephas lahir pada tahun 1844 di Yogyakarta. Ia adalah seorang anak Indo-Eropa yang terbuang.

Menurut catatan kolonial Cephas lahir dari pasangan suami istri beda bangsa alias hasil perkawinan tuan Eropa dengan gundik pribumi yang cantik.

Menurut Olivier Johannes Raap dalam bukunya yang berjudul “Soeka Doeka di Jawa Tempo Doeloe” (2013), ayahnya yang seorang Eropa tulen dan punya jabatan tinggi tidak ingin mengakui status Kassian Cephas sebagai anak kandungnya.

Namun, ia justru mengangkat Cephas menjadi anak sambung dan memberi nama Kassian Cephas. Ibunya sudah meninggal sejak Cephas masih berusia balita. Oleh sebab itu ayah kandungnya dengan terpaksa mengadopsi Cephas dan hidup bersama ibu tiri Belanda yang galak.

Pada tahun 1860 ayahnya kemudian membawa Cephas kecil pada seorang Pastur. Dalam keadaan yang tenang di sebuah gereja tua di Yogyakarta, pastur tersebut membaptisnya dan memberikan nama Katolik Petrus dalam bahasa latin yaitu Cephas.

Pembaptis mengatakan kelak Cephas akan menjadi anak yang berhasil. Kisah Chepas merupakan pembuktian peranakan Indo-Eropa sebagai golongan yang terbuang, namun mampu lebih hebat dari orang Eropa dan pribumi.

Ramalan sang Pastur nampaknya jadi kenyataan. Sebab Cephas tumbuh menjadi seorang fotografer terkenal di Yogyakarta. Prestasi hebat Cephas berawal dari seorang kenalan fotografer asal Belgia bernama Isidore van Kinsbergen.

Baca Juga: Profil Pakubuwono X: Raja Surakarta yang Punya Mobil Mahal

Bersama Isidore, Cephas belajar fotografi. Selama berbulan-bulan ia selalu mengikuti safari potret Isidore ke berbagai tempat di Jawa. Karena kesungguhannya dalam dunia fotografi, akhirnya ilmu-ilmu Isidore menurun pada Cephas.

Cephas menjadi pemotret handal setelah Isidore meninggalkan Yogyakarta pada tahun 1892. Ayahnya tetap memandang prestasi anaknya dengan sebelah mata.

Ia malah mengusir Cephas dari rumah akibat banyak orang yang tahu bahwa Cephas ternyata seorang anak Indo-Eropa.

HB VII Mengangkat Kassian Cephas jadi Fotografer Keraton

Seiring dengan kepergian Isidore kembali ke negeri asalnya di Belgia, nama Kassian Cephas menjadi lebih terkenal dari sebelumnya. HB VII kemudian mengangkat fotografer profesional Kassian Cephas pada tahun 1892.

Ia bertugas menjadi pemotret keluarga Keraton Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Karena mengutamakan budaya Jawa, Cephas pun harus berseragam pakaian khas Keraton tatkala sedang menjalani tugasnya sebagai Abdi Dalem Fotografer.

Awalnya terlihat aneh, sebab muka Eropa Cephas tak pantas memakai pakaian adat Jawa. Namun seiring dengan perkembangan zaman, kebudayaan Jawa justru menjadi rujukan berdandan sang fotografer Indo-Eropa ini sampai akhir hayatnya.

Ketika HB VII mengangkat Cephas sebagai fotografer Keraton, perekonomiannya meningkat 10 kali lipat dari sebelumnya.

Sebab nama Cephas terangkat dan banyak pesanan dari berbagai golongan elit Jawa yang ingin mengabadikan momen keluarga pada saat acara-acara tertentu.

Karena merasa hidupnya tercukupi, pemuda bernama lengkap Kassian Cephas ini pun memberanikan diri untuk menikah. Ia kemudian menikahi seorang anak ningrat di Keraton Yogyakarta bernama Dinah Rajikah.

Akan tetapi, karena Cephas merupakan keturunan Indo-Eropa, pemerintah kolonial perlu menaturalisasikannya menjadi seorang pribumi.

Dengan hati yang senang sekaligus lega, Cephas rela menjadi pribumi. Ia lebih menghargai apabila semua orang menganggapnya pribumi bukan orang Eropa.

Sebab citra orang Belanda yang juga nenek moyang dari garis ayah menyimpan kenangan buruk dalam kehidupan Cephas.

Baca Juga: Sejarah Sultan Sugih: Hamengkubuwono VII, Raja Paling Kaya

Proses naturalisasi Cephas akhirnya berhasil. Surat kependudukan kolonial menyatakan Kassian Cephas merupakan seorang pribumi dari keturunan Kartodrono (ayah) dan Mirah (ibu). Pemerintah kolonial juga mengklaim secara resmi Cephas sebagai orang Jawa.

Konon keberhasilan Cephas mendapatkan pengakuan sosial dari pemerintah kolonial tidak lepas dari peran HB VII.

Raja yang sugih dan punya banyak pabrik gula di Yogyakarta ini nampaknya begitu peduli dengan status Cephas sebagai anak keturunan Indo-Eropa segudang prestasi.

Memiliki Studio Fotografi

Setelah menikah dan mendapatkan pengakuan kependudukan dari pemerintah kolonial, Cephas hidup bahagia. Ia punya anak dan tinggal di rumah mewah nan megah.

Penghasilannya lebih dari cukup, oleh karena itu mereka kemudian membangun perusahaan studio fotografi pertama di Yogyakarta.

Studio foto milik Cephas ini terletak di Loji Kecil Wetan yang sekarang ada di Jalan Mayor Suryotomo Yogyakarta.

Ketika keluarga Cephas membangun studio ini orang-orang sekitar menyambut dengan baik. Mereka ingin mengabadikan foto bersama keluarga untuk kenang-kenangan masa depan.

Cephas pun tumbuh menjadi pengusaha fotografi sukses yang tidak sombong. Ia melayani semua pengunjung meskipun mendapatkan bayaran seikhlasnya. Sejak saat itulah perusahaan ini terkenal menjadi tempat foto yang egaliter.

Sebab tidak saja keluarga raja, orang pribumi biasa pun bisa mendapatkan lembaran bergambar hitam putih yang bercerita tentang momentum penting keluarga. Namun meskipun sudah kaya, Cephas juga masih berstatus sebagai fotografer Keraton.

Ia banyak memotret objek Sultan dan keluarga, tari-tarian di Keraton, pemandangan kota di Yogyakarta, gadis-gadis cantik pribumi, dan upacara-upacara besar nan istimewa di Keraton.

Cephas juga kerap menjual karya-karyanya untuk ilustrasi buku, souvenir oleh-oleh, dan kartu pos. Karena prestasinya yang baik, pada tahun 1901 Cephas menerima bintang jasa dari Ratu Belanda Wilhelmina.

Cephas meninggal pada tahun 1912 di Yogyakarta. Keluarganya memakamkan jasad Kassian Cephas sebagai seorang Katolik di pemakaman Sasanalaya bersanding dengan beberapa orang pribumi dari berbagai golongan. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Pemudik arus balik

Potret Lonjakan Pemudik Saat Puncak Arus Balik di Terminal Tipe A Kota Banjar

harapanrakyat.com,- Memasuki H+6 lebaran Idul Fitri 1446 H ratusan pemudik memadati Terminal Tipe A Kota Banjar, Jawa Barat, saat puncak arus balik pemudik pada...
Pasca Banjir, Bupati Sumedang Tinjau Aliran Sungai Cimande Pastikan Jembatan Pangsor Aman

Pasca Banjir, Bupati Sumedang Tinjau Aliran Sungai Cimande Pastikan Jembatan Pangsor Aman

harapanrakyat.com,- Di tengah hujan deras yang mengguyur wilayah Sumedang, Bupati Dony Ahmad Munir turun langsung ke lapangan memantau aliran Sungai Cimande, khususnya di bawah...
Arus Balik Lebaran, Jalur Alternatif Cadas Pangeran Sumedang Jadi Pilihan Pemotor

Arus Balik Lebaran, Jalur Alternatif Cadas Pangeran Sumedang Jadi Pilihan Pemotor

harapanrakyat.com,- Jalur Cadas Pangeran Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, jadi alternatif jalur bagi pemudik motor, yang kembali ke kota asal setelah pulang kampung dari sejumlah...
Kalahkan Korsel di Piala Asia U17, Ini Komentar Pelatih Timnas Indonesia

Kalahkan Korsel di Piala Asia U17, Ini Komentar Pelatih Timnas Indonesia

Timnas Indonesia menorehkan hasil memuaskan setelah kalahkan Korea Selatan (Korsel) di Piala Asia U17 2025. Pertandingan yang berlangsung di Prince Abdullah Al-Faisal Stadium, Jeddah,...
Sejarah Tebing Breksi Jogja, Berawal dari Tambang Biasa

Sejarah Tebing Breksi Jogja, Berawal dari Tambang Biasa

Tak banyak yang tahu bahwa sejarah Tebing Breksi Jogja menyimpan kisah menarik tentang transformasi luar biasa dari sebuah tambang menjadi destinasi wisata unggulan. Tak...
Rumah Semi Permanen di Cipaku Ciamis Ludes Terbakar Rata dengan Tanah

Rumah Semi Permanen di Cipaku Ciamis Ludes Terbakar Rata dengan Tanah

harapanrakyat.com,- Sebuah rumah semi permanen di Desa Selamanik, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat ludes terbakar. Peristiwa kebakaran tersebut terjadi pada Minggu (6/4/2025) sekitar...