Peristiwa menarik dalam sejarah Indonesia yang perlu diungkap kembali saat ini, bisa kita lihat dalam salah satu profil Pahlawan Nasional dari tokoh TNI-AU bernama Halim Perdanakusuma.
Secara tidak langsung profil Halim Perdanakusuma pun perlu untuk dilihat kembali latar belakangnya. Konon menurut catatan peninggalan kolonial, Halim merupakan seorang pilot didikan Belanda yang pernah mengudara di langit Eropa.
Halim berpengalaman dan sangat tahu medan udara di langit Eropa sebab pernah menerbangkan pesawat perang Belanda dan menjalankan misi perang melintasi Jerman dan Prancis sebanyak 40 kali.
Namun Halim Perdanakusuma berpulang pada usia muda karena kecelakaan pesawat pada 14 Desember 1947.
Perjalanan pesawat Halim Perdanakusuma yang berakhir pada rusaknya komponen pesawat terjadi ketika pesawat Halim terbang dari Thailand menuju tanah air.
Baca Juga: Idrus, MC Kondang Diskotik Tahun 1970 yang Rajin Sembahyang
Tuhan berkehendak lain, alih-alih bisa lolos dari maut karena pengalaman jadi pilot sudah lama, nyawa Halim justru tak terselamatkan, lantaran pesawat terjebak di awan hitam yang membuatnya tak berimbang.
Lantas bagaimana profil Halim Perdanakusuma yang sesungguhnya? Berikut ini sisi lain sang Pahlawan dari kacamata sejarah Indonesia.
Profil Halim Perdanakusuma, Pilot Militer dari Madura
Nama aslinya adalah Abdul Halim Perdanakusuma. Halim merupakan pemuda tangkas tak takut mati akibat perang ini lahir pada tanggal 18 November 1922 di daerah Madura. Sejak kecil ayahnya sudah mendidik Halim dengan mental baja.
Namun sang ayah tidak mau anaknya kelak bergabung militer. Tapi siapa sangka Halim justru jatuh cinta sekali dengan profesi kemiliteran sehingga mendaftar jadi anggota tentara Belanda pada awal tahun 1940.
Pada masa transisi pemerintahan jajahan Belanda ke pendudukan Jepang inilah yang menyebabkan Halim terlatih siaga sebagai seorang militer.
Meskipun ayahnya menginginkan Halim sekolah di almamater Pangreh Praja (OSVIA), Halim tetap nekad dan mempercayai jika jadi tentara adalah jalan lurus kehidupannya.
Kendatipun terlatih sebagai golongan militer tangguh, bukan berarti Halim melupakan hobinya yang berbakat dalam bidang kesenian. Paling suka ia memainkan alat musik tersusah yakni biola.
Baca Juga: Shodanco Soeprijadi, Komandan PETA yang Hilang Misterius
Kemudian sebelum meninggal akibat kecelakaan perang, Halim pernah melukis dan mengoleksi lukisan di rumahnya dari karya-karya seniman terkenal Belanda.
Berawal dari Angkatan Laut
Meskipun namanya besar dalam Angkatan Udara, siapa sangka ternyata Halim Perdanakusuma merupakan alumni militer angkatan kolonial Belanda yang berasal dari Angkatan Laut. Perpindahan satuan ini terjadi akibat desakan Perang Dunia II.
Ketika Belanda kalah dan Jepang menguasai kedudukan Hindia Belanda tahun 1942, seluruh pemuda di sana wajib bergabung ke satuan militer.
Karena satuan Angkatan Udara Belanda yang kurang, membuat nama Halim Perdanakusuma tercatat sebagai anggota baru TNI-AU.
Menurut Majalah Variasi, No. 300 tahun 1970 berjudul,”Halim Perdanakusuma: Pernah lakukan 40 flight mission di atas kota-kota Perancis & Jerman”, ketika aktif dalam Angkatan Laut, Halim sempat jadi awak kapal yang handal.
Seperti bajak laut yang paham arah angin dengan cara paling sederhana yakni mengacungkan jari telunjuk di atas permukaan angin, Halim Perdanakusuma juga merupakan seorang captain kapal perang ahli navigator teknologi yang jenius.
Selain menduduki jabatan awak kapal militer Angkatan Laut Belanda, Halim juga pernah dipercaya sebagai sosok Nahkoda yang hebat. Ketika Halim jadi Nahkoda, kapal-kapal yang ditumpanginya berhasil menghindari badai dari risiko kerusakan yang tinggi.
Karena berhasil meloloskan kapal perang Belanda, Halim pernah disekolahkan oleh seniornya di Pendidikan Navigator Royal Canadian Air Force. Hal ini merupakan tanda mata sekaligus ucapan terima kasih mereka kepada si penerbang handal asal Madura.
Selamat dari Maut Kolonial, Namun Gugur Saat Memperjuangkan NKRI
Kisah paling sedih yang tercatat dari profil seorang Halim Perdanakusuma adalah terkait kematiannya yang tak adil. Sebab ketika masih bekerja sebagai tentara Angkatan Laut dan Angkatan udara, ia mampu selamat dari panggilan maut kolonial.
Padahal teman-teman satu angkatan Halim banyak yang berguguran. Sebab pesawat yang digunakan oleh Halim dan kawan-kawannya bernama Lancaster dan Liberator ini sangat rentan terbakar akibat serangan peluru musuh.
Baca Juga: Jenderal Sudirman dan Sepak Bola, Pencetak Gol yang Handal
Meskipun demikian tembakan peluru dari musuh-musuh Halim gagal dan meleset. Peristiwa ini terjadi ketika Halim dan kawan-kawannya mendapat tugas menyerang Jerman dan Prancis dengan teknik penyerangan menukik dari atas arah langit Eropa.
Selain penembakan, musuh-musuhnya melakukan segala upaya percobaan pembunuhan kepada Halim Perdanakusuma. Namun semua itu gagal.
Tak sedikit yang kemudian menyebut Halim itu orang sakti. Kendati mendapat pujian dari Belanda, Halim justru gugur saat memperjuangkan kedaulatan NKRI. Kejadian ini berawal dari tugas Halim sebagai TNI-AU yang melintas dari arah Thailand menuju Indonesia.
Namun karena beberapa kendala teknis, pesawat Halim mendadak melakukan pendaratan darurat di daerah Singapore.
Setelah memperbaiki pesawat, Halim coba kembali mengudara. Namun setelah pesawat berhasil terbang di ketinggian 10 kaki dari permukaan tanah, tiba-tiba awan tebal mengganggu pemandangan sang pilot.
Akibatnya pesawat yang dipiloti Halim Perdanakusuma dan rekan navigatornya bernama Iswahyudi terjatuh.
Mereka berdua gugur sebagai pahlawan. Baru pada tahun 1975 berdasarkan Keppres RI No.063/T.K/1975, keduanya mendapat gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 9 Agustus 1975. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)