Senin, April 7, 2025
BerandaBerita TerbaruShodanco Soeprijadi, Komandan PETA yang Hilang Misterius

Shodanco Soeprijadi, Komandan PETA yang Hilang Misterius

Shodanco Soeprijadi merupakan Komandan Pleton Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar, Jawa Timur. Namanya begitu terkenal di kalangan para pejuang Indonesia karena pernah memimpin pasukan PETA se-Jawa Timur untuk memberontak Jepang.

Pemberontakan tersebut meletus pada tanggal 13 Februari 1945. Namun gagal karena ada mata-mata yang mengkhianati perjuangan mereka. Akibatnya sasaran pasukan Shodanco Soeprijadi lolos melarikan diri.

Kegagalan pemberontakan ini membuat hidup Soeprijadi menjadi misterius. Karena sebelumnya ia bertanggung jawab apabila upaya ini gagal.

Ada yang mengatakan sang Shodanco mati akibat dua sebab, pertama tertembak Jepang dan kedua binatang buas memangsanya.

Baca Juga: Kisah Pelukis Affandi, Selamat dari Maut karena Daun Pisang

Entah yang keduanya benar atau salah, yang pasti Shodanco Soeprijadi hingga kini belum tahu hilang karena apa. Kepergian Soeprijadi menjadi misterius, ke manakah sebenarnya Komandan Pleton PETA di Blitar ini?

Shodanco Soeprijadi Komandan Pleton PETA

Menurut Tatang Sumarsono, dkk dalam buku berjudul ”Didi Kartasasmita Pengabdian Bagi Kemerdekaan” (1993), Shodanco Soeprijadi merupakan seorang militer pangkat Komandan Pleton PETA yang ahli dalam bidang tembak-menembak.

Akibatnya ia berkembang menjadi prajurit PETA yang radikal. Main serang tanpa memikirkan panjang resiko yang akan kelak ia tanggung.

Soeprijadi juga terkenal sebagai sosok yang bengis pada musuh. Tak segan-segan membunuh Jepang dengan cara yang sadis.

Lantas sejak kapan Soeprijadi ini berkecimpung dalam dunia Militer? Masih menurut Tatang Sumarsono, dkk, Shodanco Soeprijadi tercatat sebagai Anggota PETA sejak bulan Oktober 1943 di Jawa Timur.

Ia bersama kawan-kawan satu angkatannya belajar keahlian Militer di daerah Blitar. Karena Soeprijadi dinilai berprestasi, Jepang kemudian memberikannya pangkat Komandan Pleton di satuannya.

Jepang memberikan pangkat inike pada Soeprijadi untuk menjaga teritorial mereka yang vital di daerah Jawa, Bali, dan Sumatera.

Artinya selain memiliki kewenangan menjaga Jawa Timur, Soeprijadi juga menguasai Pleton PETA yang ada di Bali dan Sumatera untuk menjaga satuannya masing-masing.

Pemberontakan PETA oleh Shodanco Soeprijadi

Pemberontakan PETA meletus disebabkan oleh beberapa hal. Namun paling utama penyebab perang ini berkecamuk lantaran tekanan tentara Jepang yang represif.

Mereka sering memperlakukan rakyat pribumi semena-mena di luar batas kemampuannya.

Jatuhnya menyiksa dan memanfaatkan tenaga mereka untuk penghematan sumber daya manusia dari tentara Jepang. Rakyat pribumi bahkan ada yang sampai digebuki hingga tewas akibat melawan atau hanya salah mengerti apa yang diperintahkan Jepang.

Selain itu, hal yang paling mengiris Shodanco Soeprijadi dan mencetuskan pemberontakan PETA di Jawa Timur yakni, terjadinya kerja paksa dari pribumi yang disebut dengan Romusha.

Karena peristiwa ini rakyat Indonesia menderita kesakitan dan kelaparan. Mereka tersiksa dan menderita. Badannya kurus kering dan terluka, bahkan sampai robek kulitnya sekalipun tidak ada yang berani menolong.

Para pekerja Romusha ini terus bergerak mengerjakan perintah Jepang sampai tak lagi kuat tenaganya dan tewas.

Jugun-ianfu

Sungguh mengerikan peristiwa ini. Namun ada lagi penyebab yang paling menimbulkan kemarahan pasukan Peta pimpinan Shodanco Soeprijadi. Jepang ternyata telah menipu gadis-gadis desa di Jawa Timur untuk jadi Jugun-ianfu.

Jepang menipu mereka dengan iming-iming akan memberangkatkannya ke Jakarta untuk menerima beasiswa sekolah. Alih-alih menerima biaya pendidikan dan belajar di sekolah, Jepang dengan tega menjadikan mereka wanita penghibur.

Baca Juga: Sejarah Toyota Kijang, Mobil Niaga yang Jadi Kendaraan Keluarga

Sejak saat itu Shodanco Soeprijadi mengumpulkan prajuritnya dan menginisiasi pemberontakan pada Jepang sejak bulan September 1944.

Menurut Joyce Lebra dalam buku berjudu, ”Tentara Gemblengan Jepang” (1988), gagasan ini ternyata disambut baik oleh seluruh prajurit di satuannya.

Akhirnya peristiwa ini mencapai puncaknya pada tanggal 13 Februari 1945. Pasukan Soeprijadi menyerang markas Jepang, namun gagal dan tidak tepat sasaran.

Lantas mereka ulangi lagi pada tanggal 14 Februari 1945 pada jam 3 malam ke markas perwira Jepang di Hotel Sakura.

Namun mereka juga gagal lagi sebab markas itu sudah kosong dan Jepang melarikan diri. Ternyata rahasia pemberontakan ini terbongkar, Soeprijadi akhirnya mengejar Jepang hingga ke hutan-hutan belantara di Jawa Timur. Bukannya menemukan titik terang, Soeprijadi dan kawan-kawannya justru terkepung Jepang di sana.

Shodanco Soeprijadi Menghilang Misterius

Setelah terkepung oleh Jepang di hutan belantara Jawa Timur, Soeprijadi tidak lagi terdengar kabarnya. Besar kemungkinan ia tertangkap dan ikut terhukum eksekusi mati oleh Jepang. Namun kabar ini masih simpang siur kebenarannya.

Hal ini terjadi karena ketika Presiden Soekarno hendak melantik Soeprijadi menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan pertama Republik Indonesia, keberadaannya masih terlacak berada di Blitar.

Baca Juga: Sejarah Pabrik Arak di Batavia, Orang Tionghoa Peracik Alkohol Langganan Belanda

Namun kabar Soeprijadi menghilang secara misterius semakin nyata. Peristiwa ini terjadi ketika Soekarno memanggil Soeprijadi untuk dilantik yang kedua kalinya. Ia tidak hadir dan ketika dicari pun tidak ada.

Menurut kabar teman-teman dari satuan militernya, Shodanco Soeprijadi menghilang misterius akibat dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama, Jepang membunuhnya, atau binatang buas memangsa Soeprijadi. Kemungkinan kedua ini mengingat Soeprijadi melarikan diri ke hutan belantara yang masih ada binatang buasnya.

Kendati demikian belakangan kabar pasti dari kawan satu pleton yang lolos menyebut komandannya tersebut gugur oleh Jepang.

Soeprijadi ditembak mati di perbukitan hutan gunung Wilis. Tak seorang pun yang tahu karena terkecuali dirinya karena Jepang merahasiakan ini untuk kepentingan diplomasi mereka dengan Sekutu. (R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Arus balik di Jalur Selatan Garut

Arus Balik di Jalur Selatan Garut Minggu Malam Mulai Lancar, Volume Kendaraan Mengarah ke Bandung Berkurang

harapanrakyat.com,- Volume kendaraan arus balik lebaran 2025 yang melintas di jalur selatan Garut, Jawa Barat, pada Minggu (6/4/2025) malam, sudah mulai menurun. Meski masih...
Remaja terseret ombak Pantai Karang Papak Garut

4 Remaja Terseret Ombak Pantai Karang Papak Garut, 1 Orang Tewas 

harapanrakyat.com,- Niat wisata malah jadi malapetaka, empat orang remaja asal Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat terseret ombak pantai Karang Papak Kecamatan Cikelet pada...
Lucky Hakim liburan ke Jepang

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Sindir Lucky Hakim yang Liburan ke Jepang: Bilang Dulu Ya!

harapanrakyat.com,-  Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyentil Bupati Indramayu Lucky Hakim yang liburan ke Jepang saat momen libur lebaran. Tak tanggung-tanggung Dedi Mulyadi mengunggah...
Pemudik arus balik

Potret Lonjakan Pemudik Saat Puncak Arus Balik di Terminal Tipe A Kota Banjar

harapanrakyat.com,- Memasuki H+6 lebaran Idul Fitri 1446 H ratusan pemudik memadati Terminal Tipe A Kota Banjar, Jawa Barat, saat puncak arus balik pemudik pada...
Pasca Banjir, Bupati Sumedang Tinjau Aliran Sungai Cimande Pastikan Jembatan Pangsor Aman

Pasca Banjir, Bupati Sumedang Tinjau Aliran Sungai Cimande Pastikan Jembatan Pangsor Aman

harapanrakyat.com,- Di tengah hujan deras yang mengguyur wilayah Sumedang, Bupati Dony Ahmad Munir turun langsung ke lapangan memantau aliran Sungai Cimande, khususnya di bawah...
Arus Balik Lebaran, Jalur Alternatif Cadas Pangeran Sumedang Jadi Pilihan Pemotor

Arus Balik Lebaran, Jalur Alternatif Cadas Pangeran Sumedang Jadi Pilihan Pemotor

harapanrakyat.com,- Jalur Cadas Pangeran Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, jadi alternatif jalur bagi pemudik motor, yang kembali ke kota asal setelah pulang kampung dari sejumlah...