Kamis, April 3, 2025
BerandaBerita TerbaruSejarah Sultan Sugih: Hamengkubuwono VII, Raja Paling Kaya

Sejarah Sultan Sugih: Hamengkubuwono VII, Raja Paling Kaya

Sebutan Sultan Sugih sering terdengar dalam ungkapan buku sejarah Indonesia untuk menyebut dalem Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Mengapa Ia dipanggil dengan julukan Sultan Sugih?

Beberapa referensi sejarah Yogyakarta mengatakan, penyebutan Sultan Sugih yang diterima oleh Hamengkubuwono VII adalah simbol gelar dari masyarakat Yogyakarta karena beliau dianggap sebagai pemimpin yang paling kaya.

Kekayaan Sultan Sugih tercermin dari beberapa pembangunan dalam sektor industrialisasi pabrik-pabrik gula di Yogyakarta. Adapun salah satu peninggalannya saat ini adalah pembangunan pabrik gula Madukismo di daerah Bantul Selatan.

Selain terlihat Sugih (kaya) di mata rakyatnya, Sultan yang lahir dari Permaisuri cantik keturunan tahta Surakarta ini juga terkenang sebagai sosok orang tua yang baik. Di masa tuanya mendiang HB VII sering memberikan hadiah-hadiah tak terduga untuk cucu-cucunya.

Sejarah hidup Sultan Sugih menarik untuk kita ungkap. Bagaimana kisah hidup raja kaya raya ini? Berikut ulasan selengkapnya.

Profil Sultan Sugih: Hamengkubuwono VII, Putra Mahkota yang Cerdas

Sri Sultan Hamengkubuwono VII memiliki nama kecil GRM. Murtejo. Ia lahir dari pasangan Hamengkubuwono VI dengan permaisuri pertamanya yang merupakan keturunan Pakubuwono VIII Surakarta pada tanggal 4 Februari 1839.

Sejak kecil Hamengkubuwono VII bergelar Sultan Sugih ini dikenal sebagai anak yang cerdas. Ke mana-mana mengikuti sang ayah. Sesekali beliau pernah menemani ayahnya dan terlarut dalam masalah diplomasi politik kesultanan dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Karena sering mengikuti safari politik ayahnya dengan pejabat kolonial, Sultan Sugih tumbuh remaja menjadi pemuda yang kritis terhadap kekuasaan kolonial. Ia bercita-cita melindungi Mataram dari kelicikan Belanda yang kerap meminta upeti (pajak) tinggi pada kerajaan.

Baca Juga: Peristiwa Cimareme 1919, Pembantaian Petani Garut Zaman Belanda

Oleh sebab itu ketika Sultan Sugih dewasa Ia mempelajari strategi menghadapi praktik kerjasama antara kesultanan dengan pemerintah kolonial.

Akibatnya ketika Sri Sultan Hamengkubuwono VI (ayahanda Sultan Sugih) mangkat. Sultan Hamengkubuwono VII menggantikannya sejak tanggal 13 Agustus 1877. Kesultanan Yogyakarta pun berkembang menjadi pusat industrialisasi yang hebat di Jawa.

Pemerhati Industrialisasi di Yogyakarta

Menurut Delya Ratna Sari dalam Skripsi Departemen Sejarah UGM berjudul ”Kebijakan dan Praktik Sewa Tanah untuk Industri Gula di Yogyakarta Masa Sultan Hamengkubuwono VII (1877-1921)”  (2019), ketika Sultan Sugih menjabat jadi pemimpin Mataram, sektor industrialisasi di sana berjalan dengan pesat.

Di bawah masa kepemimpinannya industrialisasi meningkat tercermin dari berdirinya tujuh belas pabrik gula di Yogyakarta. Menurut Sultan Sugih, pabrik-pabrik tersebut mampu menolong ekonomi Kraton agar tidak inflasi akibat penarikan pajak Belanda.

Dengan mengizinkan sektor industrialisasi tumbuh besar-besaran di Yogyakarta, secara tidak langsung Sultan Sugih justru menekan Belanda agar memberikan pajak pada penguasa tanah yaitu Kesultanan.

Artinya cita-cita Sultan Sugih kecil untuk memanfaatkan Belanda secara terbalik sukses. Karena industrialisasi inilah beliau menjadi terkenal sebagai pemimpin terkaya di Yogyakarta dan mendapat sebutan “Sultan Sugih”.

Keuntungan besar yang menjadikan Sultan Hamengkubuwono VII “Sugih” berasal dari uang hasil sewa tanah untuk mendirikan pabrik gula.

Mereka terdiri dari pengusaha Swasta Eropa, dan pemerintah kolonial Belanda sendiri. Dua golongan konsumen tanah di Yogyakarta ini membayar pajak pada Sultan Sugih sebesar 200.000 Florin.

Uang tersebut masuk kas kerajaan dan disisihkan untuk membangun kota Yogyakarta menjadi wilayah kekuasaan Mataram yang melegenda.

Baca Juga: Sejarah Rijsttafel, Kuliner Hasil Asimilasi Eropa dan Pribumi

Sebagian penghasilan juga disumbangkan pada rakyat miskin yang membutuhkan. Oleh sebab itu Sultan Sugih sangat dicintai oleh rakyatnya.

Simbol Masa Transisi Menuju Zaman Modern

Sebagian rakyat Mataram mempercayai kepemimpinan Sultan Sugih merupakan simbol masa transisi Yogyakarta menuju zaman modern.

Sebab pada saat Sultan Sugih menjabat jadi pemimpin Mataram, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) tumbuh dengan pesat di kalangan sosial orang Eropa, dan Ningrat Kerajaan.

Salah satu bukti kemajuan zaman ke arah modern yang terjadi di Yogyakarta pada masa Sultan Sugih tercermin dari pembentukan infrastruktur. Seperti membangun jalan kereta api, lori-lori kereta untuk pabrik gula, dan pembangunan sumber daya manusia melalui lembaga-lembaga pendidikan formal Eropa.

Baca Juga: Ratu Kalinyamat, Bupati Jepara Pertama yang Melawan Portugis

Meskipun hampir semua infrastruktur itu belum bisa dinikmati secara merata, setidaknya masa transisi menuju jaman maju (modern) sudah dirasakan kuat oleh rakyat pribumi.

Sultan Sugih yang mencintai rakyatnya berusaha untuk menciptakan kesejajaran, terutama dalam memperoleh pendidikan pribumi yang layak di tengah perbedaan golongan diskriminatif.

Namun Sultan Sugih juga menyadari bahwa usaha di atas tidak akan berjalan mulus apabila tidak ada sosok pembawa perubahan yang berasal dari kaum pribumi.

Maka dari itu, Sultan Sugih yang mendapat hak istimewa dari pemerintah kolonial menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Eropa. Bahkan di antaranya ada yang melanjutkan studi hingga ke negeri kincir angin Belanda. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Wisata Tanjung Duriat

Momen Libur Lebaran 2025, Wisata Tanjung Duriat di Sumedang Diserbu Pengunjung

harapanrakyat.com,- Mengisi momen libur panjang lebaran Idul Fitri 1446 Hijriah, ribuan wisatawan memadati wisata Tanjung Duriat yang berada di Pesisir Waduk Jatigede. Tempat ini...
Rainbow Slide Nalisa Cipanten di Majalengka

Menjajal Rainbow Slide Nalisa Cipanten yang Lagi Viral di Majalengka, Favorit Wisatawan saat Libur Lebaran

harapanrakyat.com,- Rainbow Slide di objek wisata Nalisa Cipanten, Kecamatan Sindang, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat sedang viral dan menjadi buruan wisatawan. Luar biasanya, wahana Rainbow...
Kapan ASN Harus Masuk Kantor Usai Lebaran 2025? Ini Jawaban Wamendagri

Kapan ASN Harus Masuk Kantor Usai Lebaran 2025? Ini Jawaban Wamendagri

harapabrakyat.com,- Seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) harus sudah masuk kantor pada Selasa tanggal 8 April 2025 seusai libur lebaran. Oleh karena itu, ASN tidak...
Pemudik di Stasiun Kota Banjar

Arus Balik Pemudik di Stasiun Kota Banjar Meningkat, Tiket Hingga H+7 Lebaran Ludes Terjual

harapanrakyat.com,- Memasuki H+3 lebaran Idul Fitri 1446 H situasi arus balik pemudik pengguna layanan kereta api Stasiun Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis (3/3/2025). Tiket...
Pengunjung pantai di Cikalong Tasikmalaya

Pengunjung Pantai di Cikalong Tasikmalaya Membludak, Petugas Perketat Keamanan

Harapanrakyat.com - Pada masa libur Lebaran 1446 Hijriah, pengunjung pantai di Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, membludak, Kamis (3/4/2024). Lonjakan pengunjung ini mendorong...
Pemancing Hanyut Terbawa Arus di Sungai Cipalu Tasikmalaya

Pemancing Hanyut Terbawa Arus Sungai di Tasikmalaya

harapanrakyat.com,- Seorang pemancing hanyut terbawa arus di Sungai Cipalu, Desa Nangelasari, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (2/4/2025) petang. Korban bernama Ratim (42)...