Tak banyak yang tahu jika Bupati pertama Jepara adalah seorang perempuan. Ia merupakan putri dari raja Demak bernama Ratu Kalinyamat.
Ratu Kalinyamat terkenal sebagai sosok perempuan yang kuat dan pemberani. Puteri keturunan raja Demak ini pernah memimpin rakyat Jepara untuk memberontak Portugis.
Tak tanggung-tanggung, Kalinyamat pernah mengirim 4.000 bala tentara Jepara untuk menyerang kekuasaan Portugis di Malaka pada tahun 1550. Keberaniannya itu terkenang oleh leluhur Portugis hingga saat ini.
Baca Juga: Tragedi Berdarah di Ngawi: Gubernur Suryo Dibunuh PKI
Hal ini tercermin dari orang-orang Portugis yang memberikan julukan untuk Kalinyamat Rainha de Japara, Senhora poderosa e rica, de Kranige Dame. Artinya Ratu Kalinyamat di penguasa Jepara yang lahir dari seorang perempuan pemberani.
Profil Ratu Kalinyamat, Lahir dari Keluarga Kerajaan Demak
Menurut H. J. Graaf dalam bukunya berjudul ”Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram” (1986), Ratu Kalinyamat lahir dengan nama asli Retna Kencana pada tahun 1520 di Demak, Jawa Tengah.
Ayahnya merupakan seorang Raja (penguasa) di kerajaan Demak. Terkenal sebagai raja yang berwibawa dan pemberani bernama Pangeran Trenggana. Adapun ayah Pangeran Trenggana juga merupakan pendiri kerajaan Demak bernama Raden Patah.
Ini berarti Ratu Kalinyamat merupakan cucu Raja Demak pertama yang pernah menguasai daerah Sunda Kalapa (Sekarang Jakarta).
Kepeloporan Raden Patah sebagai penguasa Demak sudah eksis sebelum Portugis berkuasa penuh di Nusantara, bahkan Ia juga pernah berseteru dengan negara tersebut akibat mengambil alih Sunda Kalapa.
Karena lahir dari keluarga kerajaan dan merupakan cucu langsung dari Raja Demak Pertama, Ratu Kalinyamat tumbuh menjadi dewasa yang pemberani dan terlatih mandiri.
Keluarga besar Demak, terutama sang Ayah (Pangeran Trenggana) menginginkan sang puteri Ratu Kalinyamat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, pemberani, dan bijaksana. Pangeran Trenggana menginginkan anaknya sebagai penerus tahta kerajaan apabila Ia sudah meninggal dunia.
Baca Juga: Jejak Menteri Keuangan Hitler di Indonesia
Bupati Pertama Perempuan di Jepara yang Melawan Portugis
Ratu Kalinyamat diangkat menjadi Bupati Jepara setelah kematian penguasa Jipang (Jepara) bernama Arya Penangsang. Kala itu kekuasaan Jipang berseteru hebat dengan Demak. Intrik politik menjadi salah satu penyebab peristiwa itu berkecamuk.
Kematian Arya Penangsang di tangan penguasa Demak dimanfaatkan Pangeran Trenggana untuk menempatkan putri kesayangannya memerintah di Jipang. Akhirnya, Kalinyamat bersedia dan memimpin Jipang yang kemudian diganti namanya menjadi Jepara.
Adapunn pengangkatan Ratu Kalinyamat menjadi Bupati Jepara menurut Candra Sengkala atau Trus Karya Tataning Bumi, yaitu sejak tanggal 10 April 1549. Pada masa pemerintahan Kalinyamat renovasi besar-besaran dalam birokrasi Jepara dilakukan.
Alhasil pada Jepara tumbuh menjadi kota pelabuhan yang besar dan kaya. Karena eksisnya Jepara akibat berkembang jadi daerah gemilang Portugis mengincar kota ini dan berusaha menguasainya.
Namun Kalinyamat yang dikenal sebagai perempuan pemberani enggan mundur dan menyetujui akuisisi ilegal Portugis di Jepara. Sebagai satu-satunya pemimpin di Jepara, Kalinyamat menyatakan berperang melawan kekuasaan Portugis.
Sebab Jepara di bawah kekuasaan Ratu Kalinyamat memiliki ambisi besar untuk menguasai daerah-daerah Portugis di Malaka. Dari peristiwa inilah kemudian percikan api konflik negara Barat tidak hanya terjadi dengan Jepara, melainkan merambat hingga Demak, Aceh, dan Malaka.
Memberontak Portugis
Ketika Portugis pertama kali datang ke Nusantara tahun 1511, Demak, Jepara, Aceh dan Malaka menjadi sasaran utama penjelajahannya mencari rempah.
Namun pengamatan ini sempat tertahan hingga Jepara tumbuh menjadi kota pelabuhan yang besar di deretan kota-kota pantai Utara Jawa.
Baca Juga: Sejarah Hari Guru Nasional dan Kisah Lahirnya PGRI Pasca PD II
Bukannya Portugis berusaha mengakuisisi Jepara dari kekuasaan Ratu Kalinyamat, justru kota pelabuhan yang baru dibangun ini memilih untuk memberontak Portugis.
Kala itu Portugis berkuasa di Malaka, seluruh pusat administrasi rempah Nusantara disimpan di sana.
Menurut Simadan Babariyanto dalam buku”Babad Demak II: Transkripsi Terjemahan Bebas” (1981), Ratu Kalinyamat menyerang Portugis dua kali secara berturut-turut tanpa jeda.
Pertama pasukan Jepara yang dipimpin putri Pangeran Trenggana ini meluncurkan serangan 200 kapal perang dan menyerang Portugis yang ada di Malaka lewat jalur Utara.
Usaha ini berhasil, Malaka runtuh dan Portugis kalah. Namun kekalahan itu tidak lama, sebab ketika kekuatan Portugis bangkit rombongan pasukan Kalinyamat berhasil dipukul mundur kembali.
Meskipun demikian sang Ratu tak ingin terlihat kalah. Kali kedua pada tahun 1564, Ia bersama dengan bala tentara Aceh dari Alauddin Al-Qahhar menyerang Portugis kembali ke Malaka. Bantuan Aceh datang karena Negeri Serambi Makkah ini pernah dikhianati Portugis.
Ratu Kalinyamat pernah meluncurkan prajuritnya menyerang Malaka sampai 15.000 pasukan. Namun perjuangan ini gagal, Aceh yang berhasil dipukul mundur pertama membuat pasukan Kalinyamat hilang percaya diri.
Akibatnya sebanyak 30 kapal hancur dan direbut oleh Portugis. Pasukan Ratu Kalinyamat kembali hanya seperempat kecil dari jumlah keseluruhan pasukan sebanyak 15.000. Mereka kalah dan Portugis menancapkan kekuasaannya hingga ke Demak.
Meskipun pasukan Kalinyamat hancur lebur dan kalah, setidaknya perlawanan ini menjadi tonggak utama semangat rakyat di Nusantara untuk melawan penjajah. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)