Selasa, April 1, 2025
BerandaBerita TerbaruProfil Ali Sadikin, Gubernur Jakarta yang Melegalkan Judi

Profil Ali Sadikin, Gubernur Jakarta yang Melegalkan Judi

Profil Ali Sadikin terkenal akibat kiprahnya sebagai Gubernur DKI Jakarta yang kontroversial karena melegalkan judi untuk modal proyek pembangunan Ibukota.

Banyak kelompok yang berasal dari berbagai ragam ideologi yang menentang kebijakan Ali Sadikin. Bahkan ada yang menyebut Bang Ali, begitu sapaan akrabnya sebagai Gubernur “Maksiat”.

Meskipun kritikan untuk Ali Sadikin sangat pedas, namun pada masa kepemimpinannya Jakarta mendadak maju. Hal ini karena investor asing yang membangun perusahaan “tak halal” di tengah pergaulan bos-bos Tionghoa Ibukota.

Berikut ini profil sekaligus kiprah Bang Ali tatkala menjabat sebagai Gubernur Jakarta pada periode tahun 1966-1977.

Baca juga: Raden Soediro Hardjodisastro: Gubernur Jakarta, Kakek Tora Sudiro

Profil Hidup Ali Sadikin

Aeng Ismail Alfasi dalam penelitian berjudul “Peran Ali Sadikin dalam Membangun Kota Jakarta Tahun 1966-1977”, (Alfasi, 2015: 7), mengungkapkan Ali Sadikin lahir di Sumedang, Jawa Barat pada tanggal 27 Juli 1926.

Ali Sadikin merupakan keturunan menak Sunda, ayah dan ibunya merupakan golongan orang yang terdidik, dan berpengetahuan Barat.

Bahkan ayahnya bekerja di Dinas Perkebunan district Sumedang, dengan menjabat sebagai kepala administratif perkebunan milik Belanda.

Meskipun sang ayah menjabat sebagai kepala administratif perkebunan, namun tidak banyak orang mengetahui soal latar belakang pendidikan Ali Sadikin di masa kecil.

Kebanyakan pengamat hanya mengenal nama Ali Sadikin sebagai seorang Tentara Angkatan Laut (KKO-AL) sebelum akhirnya ditunjuk oleh Presiden Sukarno menjadi Gubernur Jakarta pada tahun 1966.

Pertama kali Bang Ali ditunjuk Bung Karno menjadi Gubernur, Ia dipasangkan dengan sesama orang Sunda dari golongan menak yang sama yakni, Raden H. Atje Wiriadinata.

Adapun kehidupan pribadi Ali Sadikin sebelum menjabat sebagai Gubernur Jakarta, diketahui pernah menikah dua kali seumur hidupnya.

Pertama menikahi seorang dokter bernama Nani Arnasih namun meninggal pada tahun 1986. Setelah satu tahun menduda, Ali kemudian mempersunting kembali wanita bernama Linda Syamsudin Mangan pada tahun 1987.

Baca Juga: Henk Ngantung, Seniman Sekaligus Mantan Gubernur Jakarta yang Terlupakan

Dari perkawinan tersebut, Bang Ali dikaruniai 7 orang anak. Semuanya laki-laki dan mereka sangat dibanggakan Ali Sadikin. Sebab sebagai seorang tentara, kelak anaknya yang laki-laki itu ada yang bisa meneruskan profesinya sebagai Angkatan Laut.

Melegalkan Perjudian di Jakarta

Awal mula perjudian dilegalkan di Jakarta oleh Gubernur Ali Sadikin sebagai dampak dari krisis ekonomi yang menggerogoti Ibukota sehingga menimbulkan kemiskinan di mana-mana.

Menurut catatan dinas kependudukan tahun 1966-1977, sejak awal Bang Ali menjabat sebagai Gubernur Jakarta, Ia dihadapkan oleh fenomena kemiskinan penduduk.

Sebanyak 60 persen penduduk Jakarta yang berasal dari masyarakat urban hidupnya tidak layak. Sehari-hari memungut makanan, dan pakaian sisa. Hingga bertempat tinggal di pinggiran kota yang menciptakan suasana kumuh.

Sebagai mantan kombatan perang, Gubernur Jakarta berpangkat Letnan Jenderal ini pun terbesit melegalkan perjudian, meskipun akibat buruknya bisa berdampak pada kehidupan pribadi, dan keluarganya.

Ali Sadikin mempertaruhkan nama baik dan keluarganya demi memperbaiki taraf hidup masyarakat Jakarta yang dilanda kemiskinan.

Alhasil melalui SK 26 Juli 1967, Ali Sadikin mengumumkan pada investor asing jika di Indonesia saat itu melegalkan perjudian dengan syarat pajak ketat yang telah ditentukan pemerintah DKI Jakarta.

Karena Indonesia dianggap sebagai negara dengan peminat judi yang besar layaknya Amerika Serikat, dan beberapa negara Eropa serta negara Asia lainnya, maka setelah mendengar kebijakan itu terbit, investor asing saling berebut mendapatkan tempat bisnis haramnya di Jakarta.

Untuk pertama kalinya, perjudian di awal di kawasan Petak Sembilan, Jakarta Barat. Perusahaan Non-Halal ini membuka bisnis judi yang biasa orang Tionghoa minati, yakni judi dalam bentuk permainan yang dikenal dengan nama Lotto.

Hasil Perjudian

Perhitungan kesuksesan apabila melegalkan judi untuk menambah anggaran pemerintah DKI Jakarta oleh Ali Sadikin ternyata mendapatkan tepuk tangan berbagai pihak.

Ali dianggap sukses menambah anggaran DKI Jakarta naik hingga 50 persen dari sebelumnya akibat melegalkan perjudian.

Baca Juga: Profil Mohammad Natsir, Politikus Islam Lawan Debat DN. Aidit

Seiring dengan kesuksesan tersebut, Ali kemudian mendata anak-anak terlantar yang tidak sekolah agar dengan uang yang telah didapatkannya dari hasil legalisasi perjudian, mereka bisa sekolah lagi.

Selain memperhatikan upaya memperbaiki Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat kota Jakarta, Ali Sadikin dengan “uang haram” ini turut melakukan pembenahan tata ruang kota. Termasuk menambahkan ruang-ruang penghijauan di Ibukota.

Disela membenahi tata ruang kota inilah kemudian membuat Ali Sadikin menjadi kena kritik pedas dari MUI. Sebab Ia merelokasi tempat prostitusi ke kawasan Kramat Tungkak, dengan harapan mendatangkan tambahan anggaran untuk proyek pembangunan Jakarta.

Meskipun sering dikritik dan “disatronin – dalam bahasa Betawi berarti di datangi untuk menasehati perbuatan yang kurang baik.

Ali Sadikin tetap teguh dalam prinsipnya. Bahkan Bang Ali rela masuk neraka akibat perbuatannya ini, asal rakyat di Jakarta tidak kelaparan dan bodoh akibat menderita kemiskinan.

Prinsip kuatnya membangun Jakarta menggunakan uang hasil perjudian juga menyukseskan beberapa mega proyek pembangunan di Jakarta seperti :

(1) Pembangunan Taman Impian Jaya Ancol, (2) Monumen Nasional, (3) Taman Ismail Marzuki (TIM), (4) Pembangunan jalan protokol utama MH. Thamrin, dan (5) Agenda Festival tahunan yang hingga saat ini masih berjalan yakni, Jakarta Fair.

Karena kebijakan kontroversial ini, profil Ali Sadikin terhambat dalam memperoleh gelar Pahlawan Nasional. Meskipun demikian bang Ali merupakan pahlawan tanpa tanda jasa yang patut diteladani sikap dan kedisiplinannya dalam bekerja. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Rekomendasi wisata sumedang

5 Rekomendasi Wisata Sumedang yang Cocok untuk Berlibur Bersama Keluarga

Rekomendasi wisata Sumedang, Jawa Barat pada momen libur lebaran idul fitri tak boleh terlewatkan. Apalagi Kabupaten Sumedang memiliki banyak objek wisata yang cukup menarik...
Remisi khusus warga binaan

321 Warga Binaan Lapas Banjar Dapat Remisi Khusus Idul Fitri, 5 Langsung Bebas

harapanrakyat.com,- Sebanyak 321 warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Kota Banjar, Jawa Barat, mendapat remisi khusus pada momen perayaan hari raya...
Tingkatkan Persaudaraan

Bupati Sumedang Ingatkan Masyarakat Momentum Idul Fitri Tingkatkan Persaudaraan untuk Bangun Daerah

harapanrakyat.com,- Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momen hari raya idul fitri ini untuk meningkatkan persaudaraan. Selain itu, pihaknya juga mengingatkan...
Tradisi Menerbangkan Balon Raksasa

Tradisi Menerbangkan Balon Raksasa Berbahan Kertas Jadi Daya Tarik Sendiri Warga Garut

harapanrakyat.com,- Tradisi unik menerbangkan balon raksasa terbuat dari kertas di setiap hari raya Idul Fitri, masih menjadi daya tarik warga Garut, Jawa Barat. Ratusan...
Parkir Ganda

Minimalisir Parkir Ganda dan Pungli di Pantai Pangandaran, Begini Langkah Pemerintah

harapanrakyat.com,- Untuk meminimalisir parkir ganda di kawasan objek wisata Pantai Pangandaran, PT. Garuda General Service yang menjadi vendor pengelolaan parkir terus melakukan pembenahan. Bahkan,...
Ular Bertaring Tiga, Mutasi Langka yang Makin Berbahaya

Ular Bertaring Tiga, Mutasi Langka yang Makin Berbahaya

Ular selalu punya cara mengejutkan dunia. Kali ini, ada seekor ular yang bikin heboh karena memiliki tiga taring berbisa. Mutasi ular bertaring tiga ini...