Sejarah pembangunan bendungan raksasa di Cikembulan, Pangandaran oleh pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1938 bertujuan untuk pengairan persawahan yang sering mengalami kesulitan air.
Pada zaman kolonial Hindia Belanda Pangandaran sering mengalami kesulitan air untuk ladang persawahan. Akibatnya mengganggu pertumbuhan padi yang berimbas pada hitungan hari panen yang tidak pasti.
Puncaknya pada tahun 1930-an, pemerintah kolonial Belanda mencoba memikirkan jalan keluar dari masalah ini. Salah satu caranya dengan merencanakan pembangunan sebuah Bendungan Raksasa di daerah Cikembulan.
Baca Juga: Sejarah Pangandaran Pasca Pendudukan Jepang, Pemerintahan Pindah dari Ciamis ke Cilacap
Perencanaan pembangunan bendungan raksasa di Cikembulan belum berjalan hingga tahun 1935. Hal ini karena pemerintah kolonial masih melakukan perhitungan-perhitungan segi biaya.
Untuk membangun bendungan ini perlu biaya yang cukup mahal. Oleh karena itu skema perancangan bendungan baru bisa disepakati setahun berikutnya, yakni pada tahun 1936.
Pematangan konsep yang disepakati pada tahun 1936 kemudian berjalan dengan lancar. Pembangunan bendungan raksasa yang bertujuan membuat saluran irigasi untuk mengaliri air ke persawahan ini baru selesai pada tahun 1939.
Banyak perubahan yang terjadi setelah bendungan raksasa ini terealisasi. Dampak yang paling terlihat antara lain pada peningkatan jumlah sumber daya alam (padi) yang tumbuh subur dan berkualitas.
Sejarah Awal Pembangunan Bendungan Cikembulan Pangandaran
Pembangunan bendungan raksasa di Cikembulan berasal dari kegelisahan pemerintah kolonial Hindia Belanda akan kegagalan panen.
Kegagalan panen ini yang dialami oleh petani di Pangandaran pada tahun 1930-an karena kurangnya pasokan air yang mengalir ke persawahan.
Akibatnya kualitas tanaman padi yang telah tumbuh 1-2 bulan berkualitas buruk. Seperti memiliki batang yang kecil, dan tingginya tidak proporsional standar jenis padi yang berkualitas.
Pemerintah Kolonial di Pangandaran mengkhawatirkan kegagalan panen yang dialami oleh para petani di Pangandaran akan berdampak pada musibah kelaparan berkepanjangan.
Pertimbangan ini karena saat itu curah hujan diperkirakan tidak begitu intens. Sehingga ada kemungkinan wilayah Pangandaran terutama ke arah Parigi akan mengalami kekeringan.
Kekhawatiran yang lain juga muncul dari pemerintah kolonial akan kegagalan panen. Akibat kekeringan ini bisa berdampak pula pada krisis pangan di sepanjang Priangan Selatan.
Baca Juga: Sejarah Kerajaan Pananjung, Cikal Bakal Daerah Pangandaran
Sebab saat itu pertanian di Pangandaran menjadi salah satu pemasok beras terbesar ke beberapa daerah termasuk Priangan Selatan.
Pertimbangan yang mengkhawatirkan kegagalan panen akibat krisis air di ladang padi akhirnya membuat pemerintah kolonial merencanakan pembangunan bendungan raksasa.
Tujuannya untuk menampung kebutuhan air untuk pertanian. Yang jelas tidak sampai mengalami kekeringan yang mengakibatkan gagal panen.
Bendungan ini merupakan solusi yang baik untuk mendukung laju pertumbuhan masyarakat akan kebutuhan pangan.
Oleh sebab itu kemudian pemerintah membangun Bendungan Raksasa di daerah Cikembulan yang sudah direncanakan sejak tahun 1930-an.
Sementara bendungan ini baru bisa terealisasi dan diresmikan untuk digunakan pada tahun 1938.
Adapun pemilihan daerah Cikembulan sebagai tempat pembangunan bendungan raksasa karena daerah Cikembulan dekat dengan aliran sungai yang tembus langsung ke laut (muara).
Pernyataan ini sebagaimana mengutip berita di koran Belanda ‘De Indische Courant (Bevloeiing van Sawahs: de Stuwdam in de Tjikemboelan), pada tanggal 27 Mei 1938.
Proyek Pembangunan Terbesar Dinas Pekerjaan Umum Hindia Belanda
Sejarah pembangunan bendungan raksasa di Cikembulan Pangandaran yang selesai pada tahun 1938 ini ternyata merupakan proyek pembangunan terbesar bidang Dinas Pekerjaan Umum Hindia Belanda se- Priangan.
Proyek ini diduga telah memakan biaya paling besar yang dikeluarkan oleh kas negara, meskipun tidak disebutkan jumlah uangnya.
Akan tetapi redaksi koran Belanda meyakinkan pembaca dengan bukti belum ada pembangunan bendungan raksasa di wilayah Priangan yang dibangun seluas bendungan Cikembulan.
Saking luas dan dalamnya pembangunan bendungan Cikembulan pada tahun 1938, secara resmi mampu mengaliri air ke beberapa sawah di Pangandaran hampir 100 persen.
Hal ini sebagaimana berita dari reporter koran Belanda “Algemeen handelsbald voor Nederlandsch-Indie“, tanggal 20 Oktober 1938.
Menurut koran tersebut ternyata bendungan raksasa di Cikembulan bisa mengaliri air lahan sawah di seluruh Pangandaran, sebanyak 1200 lahan (per kotak sawah).
Saat peresmian bendungan raksasa di Cikembulan ini tahun 1938, sambutan meriah datang dari para petani di Pangandaran.
Mereka bangga dengan pekerjaan pemerintah kolonial Hindia Belanda karena telah menyelamatkan lumbung pertanian mereka dari bencana kekeringan.
Selain itu optimisme petani di Pangandaran juga meningkat pula seiring dengan antusias pemerintah kolonial yang mempercayai daerah Pangandaran sebagai sumber lumbung beras.
Baca Juga: Sejarah Robohnya Jembatan Ciputrapinggan Pangandaran Tahun 1950
Pemerintah kolonial percaya bendungan Cikembulan bisa menyelamatkan rakyat Hindia Belanda dari wabah kelaparan.
Hal ini terbukti saat Hindia mengalami Malaise pada transisi tahun 1930-1940-an. Meskipun sempat dilanda kekeringan yang panjang, akan tetapi karena bendungan raksasa di Cikembulan bisa diselesaikan dengan cepat, maka daerah Pangandaran tidak jadi terkena krisis pangan.
Menciptakan Sanitasi Daerah yang Sehat
Setelah pembangunan bendungan raksasa yang ada di Cikembulan pada tahun 1938, daerah Pangandaran menjadi salah satu wilayah provinsi milik kolonial Hindia Belanda yang mempunyai sanitasi sehat.
Sebagaimana kota-kota besar di daerah Jawa lainnya seperti di Magelang tahun 1920-1930-an. Sanitasi ini terbentuk akibat kualitas air yang mengaliri lahan persawahan di Pangandaran begitu bersih dan sehat.
Aliran air yang bersih dan sehat ini berdampak pada tumbuhan padi yang berkualitas. Sementara itu aliran-aliran air yang berasal dari bendungan raksasa bergerak setiap harinya, sehingga air tersebut tidak menggenang yang bisa menyebabkan berkembang biaknya Malaria.
Kualitas air yang jernih dan aliran arus yang mengalir dari kanal-kanal kecil mampu merusak habitat nyamuk Malaria yang membahayakan.
Oleh sebab itu sanitasi dianggap sebagai itikad yang baik pemerintah Kolonial Belanda dalam menciptakan lingkungan yang sehat. Terutama kesehatan dalam masyarakat terus terjaga dengan baik.
Baca Juga: Sejarah Wisatawan Belanda Tenggelam di Pangandaran Tahun 1938
Selain menciptakan kualitas air untuk persawahan yang sehat, pembangunan bendungan raksasa di Cikembulan juga telah membiasakan kehidupan masyarakat menjadi lebih sehat.
Penduduk di pedesaan Pangandaran terbiasa dengan memanfaatkan air bersih untuk kepentingan sehari-hari, salah satunya menggunakan aliran air bersih dari bendungan itu untuk mandi.
Selain itu aliran bersih yang berasal dari tampungan air hujan Bendungan Cikembulan dimanfaatkan penduduk sekitar untuk konsumsi vegetasi dari kebun sayuran, dan buah-buahan.
Dengan adanya pembangunan bendungan ini, secara tidak langsung kehidupan masyarakat di Pangandaran menjadi lebih sehat dari sebelumnya.
Sementara yang paling penting tata dari adanya bendungan ini, tata ruang kota di sana menjadi lebih baik. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)