Jepang merupakan salah satu Negara yang maju saat ini. Tentu keberhasilan menjadi Negara yang maju itu melalui proses yang begitu panjang. Bushido merupakan salah satu budaya Samurai di Jepang yang juga mengawal proses Jepang menjadi Negara yang maju hingga saat ini.
Arti dari Bushido itu sendiri merupakan stratifikasi sosial masyarakat Jepang tertinggi yakni kasta seseorang yang berasal dari golongan Samurai (militer).
Sistem sosial mereka terbagi menjadi tiga, Bushido atau Samurai, Petani, Pengrajin, dan Pedagang/ Pengusaha.
Baca Juga: Henk Ngantung, Seniman Sekaligus Mantan Gubernur Jakarta yang Terlupakan
Tradisi Bushido kerap dikaitkan sebagai ajaran seorang Ksatria yang bertanggung jawab dalam memimpin Negara.
Oleh sebab itu seorang Bushido atau Samurai harus menciptakan Jepang menjadi Negara kaya dan maju. Hal ini bertujuan untuk menjaga kesejahteraan ekonomi untuk bangsanya.
Adapun artikel ini bermaksud untuk membahas tentang bagaimana semangat Bushido bisa menjadi salah satu faktor penyebab kemajuan Jepang hingga detik ini. Berikut ulasan lengkapnya.
Budaya Samurai Bushido dalam Restorasi Meiji
Peristiwa Restorasi Meiji yang terjadi pada tahun 1868 merupakan sebuah kejadian besar di Jepang yang merubah seluruh tatanan pemerintahannya secara drastis.
Restorasi Meiji kaitannya dalam perubahan struktur birokrasi Jepang kala itu adalah perpindahan pemerintah tradisional dari yang bersifat menutup diri dari asing selama 270 tahun (Sakkoku), ke pemerintahan modern yang bersifat membuka diri pada asing (Kaikkoku).
Perubahan inilah yang kemudian menjadi salah satu penyebab terdorongnya modernisasi besar-besaran di Jepang.
Semangat Bushido berkaitan erat dengan perubahan tradisional ke modernisasi di Jepang. Sebab dalam tradisi Bushido sendiri jiwa Ksatria selalu membekali diri untuk terus belajar dan memiliki wawasan yang luas, tidak tertutup apalagi menolak pengetahuan asing.
Maka dari itu untuk pertama kalinya Jepang membuka diri bagi asing berawal saat Amerika mengirimkan kapal perang pada tahun (1853).
Pernyataan ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Bambang Wibawarta dalam jurnalnya berjudul “Bushido dalam Masyarakat Jepang”, (Wibawarta, 2006: 59).
Pembaharuan dalam Bidang Politik dan Industri
Setelah Jepang membuka diri terhadap pengaruh asing pada 1868, dampak yang terjadi dari perubahan tersebut mempengaruhi pembaharuan dalam bidang politik dan industri.
Nampaknya titik kemajuan mulai bisa terlihat ketika negara pemilik Bushido ini memproduksi teknologi yang berkualitas seperti barat.
Prestasi Jepang dalam industri teknologi ini tak lepas dari proses meniru atau mengadopsi banyak hal dari pengaruh Barat, terutama pengetahuan teknologi untuk mengejar ketertinggalan Jepang selama 270 tahun.
Baca Juga: Koek Boek, Buku Resep Masakan Nusantara Pertama Terbit Tahun 1857
Karena proses meniru dan mengadopsi budaya Barat tak sedikit pengamat menyebut ini sebagai upaya Westernisasi atau “Pembaratan”.
Dengan adanya pembaratan besar-besaran tentu beberapa kalangan tradisionalis Jepang menganggap ini sebagai perbuatan yang keluar dari nilai-nilai budaya leluhur.
Akan tetapi semangat Bushido mendukung ketertinggalan Jepang dengan terus melakukan pembaharuan-pembaharuan dalam berbagai bidang.
Masih menurut Prof. Bambang Wibawarta menyebut, semangat Bushido kaitannya mendukung modernisasi sebetulnya terinspirasi dari dua peristiwa besar dunia yaitu, Revolusi Prancis dan Inggris.
Alhasil ketika Jepang berada dalam posisi yang seimbang dengan negara-negara Barat lainnya dalam bidang industri membuat negara ini berani merebut pasar dunia.
Jepang muncul menjadi negara industri yang terkenal memproduksi teknologi modern berkualitas dengan harga yang relatif murah. Dengan demikian banyak negara lain yang berlangganan.
Selain berubah menjadi negara yang berpengetahuan luas tentang industri teknologi, peristiwa Pembaratan ini juga telah merubah alur politiknya dengan menghapus beberapa hak keistimewaan militer Bushido yang tak relevan pada masa itu.
Mendewakan Barat
Ketika Jepang menyadari sebagai negara yang tertinggal jauh dari Barat akhirnya membuat negara Sakura ini bertekad mengejar ketertinggalannya itu dengan cara “Mendewakan” negara-negara maju di Barat.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Prof. Bambang Wibawarta sebelumnya, Jepang juga telah mengubah struktur birokrasi (politik) sebagaimana negara Barat yang kemudian terkenal dengan bahasa Jepang “datsu A nyu O”.
Sementara pembaratan dalam bidang teknologi orang Jepang memberikan istilahnya “Wakon Yosai” atau memiliki arti yang sama dengan “Kepribadian Jepang, Teknologi Barat”.
Ideologi Wakon tetap menjadi gagasan pemerintah Jepang dalam bertradisi. Hal ini merupakan strategi kekaisaran Jepang untuk tetap mempertahankan tradisi Bushido ditengah arus deras pengaruh Barat dalam mengejar ketertinggalan.
Dengan menanamkan ideologi Wakon dalam kebudayaan Jepang ini tidak lain bertujuan untuk memperlihatkan pada dunia bahwa mereka masih memperhatikan budaya leluhurnya sebagai landasan modernisasi.
Restorasi Meiji dan Konflik Dua Kubu
Sebagaimana yang menjadi bahan pertimbangan golongan tradisionalis Jepang pasca Restorasi Meiji (1868), kemunculan dua kubu yang saling bertentangan merupakan dampaknya.
Dua kubu tersebut adalah Miyusha dan Seikyosha. Mereka berkonflik karena perbedaan pendapat mengenai proses modernisasi yang drastic terjadi pasca Restorasi Meiji di Jepang.
Mereka juga berkonflik karena memperdebatkan ide atau gagasannya tentang bagaimana cara mengembangkan Jepang sebagai negara yang maju namun tidak meninggalkan budaya leluhur.
Gagasan tradisionalis yang menginginkan kemajuan Jepang tanpa ada campur tangan pengaruh Barat adalah “Seikyosha”. Mereka lebih mempertahankan identitas Jepang dengan semangat Samurai dan ke-Bushido-anya.
Sementara penentangnya adalah golongan modern Jepang yaitu “Miyusha” yang terus melakukan perubahan Jepang tanpa memperhitungkan keterlibatan budaya leluhur dan kebarat-baratan.
Protes golongan Seikyosha terhadap kelompok modernis berawal dari kurangnya kurikulum pendidikan di Jepang yang bermuatan pengajaran terhadap sifat-sifat nasionalisme.
Selain itu, mereka juga memprotes kekaisaran Jepang yang terasa sangat cepat dalam mengambil keputusan untuk modern yang kemudian muncul budaya Barat secara drastis di Jepang.
Kelompok Seikyosha menyayangkan hal tersebut, karena menurut mereka untuk menjadi modern tidak perlu menyuruh orang Jepang meninggalkan etika ketimurannya.
Membangun Modernisasi Barat Tanpa Meninggalkan Budaya Jepang
Pasca konflik dua kubu antara Miyusha-Seikyosha akhirnya kekaisaran Jepang setuju untuk melakukan pembangunan modernisasi dengan tetap memperhatikan kaidah Wakon Yosai.
Baca Juga: Profil Iding Soemita: Buruh Kontrak Asal Tasikmalaya, Berpolitik di Suriname
Kaidah Wakon Yosai berarti tetap melakukan modernisasi sebagaimana yang dilakukan Barat. Namun dalam prosesnya tetap memperhatikan nilai dan tradisi leluhur Jepang.
Ideologi Wakon Yosai juga merupakan perisai kekaisaran Jepang dalam mempertahankan semangat Bushido. Kala itu semangat Bushido membantu proses modernisasi pasca Restorasi Meiji tetap berjalan.
Kekaisaran Jepang juga kemudian sadar jika ternyata ketertinggalan mereka akan modernisasi terjadi karena sikap egois pemimpin terdahulu. Pemimpin yang menutup Jepang dari bangsa asing selama 270 tahun lamanya.
Dengan demikian bukan salah budaya leluhur seperti Bushido, melainkan karena sifat-sifat egois kepemimpinan terdahulu yang berambisi mengawal Jepang sebagai negara Adikuasa.
Karena dukungan dari semangat budaya samurai Bushido terhadap modernisasi, akhirnya membantu Jepang keluar dari masa-masa ketertinggalan. Kini Jepang menjadi salah satu negara maju dan negara Asia yang mampu bersaing dengan negara-negara Barat. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)