Berita Banjar (harapanrakyat.com),- Persentase kasus stunting di Kota Banjar, Jawa Barat, masuk kategori cukup rendah. Persentase yang rendah tersebut berkat penanganan semua pihak.
Hal itu dikatakan Wakil Wali Kota Banjar, H. Nana Suryana usai menghadiri Forum Stunting Nasional secara virtual di Aula Kantor DPPKB Kota Banjar, Selasa (14/12/202).
“Masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang yang mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak atau persentase kasus stunting di Kota Banjar cukup rendah,” katanya.
Lebih lanjut Nana mengatakan, Kota Banjar sudah masuk kategori yang cukup bagus dan rendah. Dalam penanganan stunting, pemerintah kota juga bekerjasama dengan berbagai OPD.
Ia menjelaskan, stunting bukan hanya tubuh anak dalam kondisi pendek saja. Tetapi bisa juga terjadi pada tubuh normal, dan akan menjadi lemah ketika menginjak usia 40 tahun ke atas.
“Stunting itu ternyata bukan hanya sekadar pendek, tetapi stunting itu juga bisa terjadi pada orang yang tubuhnya normal masuk kategori stunting. Tapi mereka akan lemah ketika usianya lebih dari 40 tahun. Jadi pendek itu stunting, tapi stunting itu tidak selamanya pendek,” jelas Nana.
Baca Juga : Jumlah Stunting di Kota Banjar Tahun 2020 Meningkat 1159 Kasus
Penanganan Stunting Rumit
Kemudian, dalam penanganan kasus stunting juga memiliki kerumitan. Misalnya dari sperma yang sehat dan tidak sehat bisa menimbulkan bayi lahir stunting.
Setelah berbicara dengan berbagai pihak terkait, ketika seseorang akan menikah biasanya akan stress untuk mempersiapkan acara pernikahannya.
“Nah, justru pada saat stress itu sperma akan tumbuh tidak normal. Jadi persiapan untuk menikah pun perlu mendapat edukasi,” tandas Nana.
Sementara itu, Kepala DPPKB Kota Banjar, Saifuddin, mengatakan, berdasarkan data dari tahun 2019, angka stunting di Kota Banjar mencapai 799 orang.
Sedangkan, pada tahun 2020 kasusnya naik hingga mencapai 1.159 orang atau 9,3 persen. Selain itu, kasus paling banyak terjadi dalam wilayah Kecamatan Pataruman, yakni 496 orang.
“Pendataan itu biasanya ada di Dinkes melalui bulan penimbangan balita, yaitu bulan Februari dan Agustus. Sedangkan data untuk sekarang belum ekspose karena masih pendataan,” terangnya. (Sandi/R3/HR-Online/Editor-Eva)