Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Tedi Setiawan, seorang peternak kelinci hias dari Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat sukses raup untung jutaan rupiah per bulannya. Bahkan ia juga mendapat pesanan kelinci hias dari berbagai kota di Indonesia sampai pesanan dari Malaysia.
Pria yang tinggal tepat di belakang terminal angkot Cisaga ini awalnya mendapat bibit kelinci hias dari Dinas Peternakan Kabupaten Ciamis sepuluh tahun yang lalu. Dengan bimbingan Dinas Peternakan Ciamis, kini Tedi memiliki puluhan induk kelinci hias dengan omzet Rp 4 juta sampai Rp 5 juta sekali panen.
Tedi mengatakan, saat ini ia memiliki 40 kandang yang diisi oleh kelinci hias, untuk pakannya Tedi menghabiskan pelet khusus kelinci sekitar Rp. 1.200.000 per bulan.
“Dari 40 kandang saat ini, jumlah kelinci hias betina ada 30 ekor. Setelah dikawinkan rata-rata mendapat 4 sampai 5 ekor dari satu indukan betina,” katanya kepada HR Online, Minggu (21/11/2021).
Menurut Tedi masa hamil kelinci sekitar 1 bulan, dilanjutkan dengan masa menyusui 45 hari. Sehingga dalam setahun satu indukan kelinci bisa empat kali panen.
“Setahun per indukan kelinci bisa empat kali panen dengan jumlah anakan satu sampai 11 ekor, tetapi jarang yang di atas 7 ekor,” jelasnya.
Harga Kelinci Hias di Peternak Ciamis Ini Ada yang Jutaan Rupiah
Terkait harga, Tedi menjelaskan satu anak kelinci dijual dengan harga Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Namun, ada juga kelinci hias yang harganya mencapai Rp 800 ribu sampai Rp 1.500.000.
“Dalam sebulan memang tidak tentu berapa penjualan, tapi kalau buka lapak setiap buka lapak ada 4 sampai 5 kelinci yang terjual,” katanya.
Jenis kelinci hias yang diternak Tedi English Angora, Fuji Lop, American Rex sampai Holand Hop.
Pantauan HR Online di kandang kelinci milik Tedi, kelinci-kelinci tersebut terlihat lucu dengan bulu tebal seperti kucing angora. Sedangkan warnanya, selain putih polos, ada juga yang berwarna putih hitam seperti sapi serta kelinci dengan bulu coklat.
Sementara bentuk kupingnya juga unik, berbeda dengan kelinci lokal yang biasa dipelihara pada umumnya.
Tedi biasa memasarkan kelinci hiasnya di Alun-alun Banjar Patroman atau seputar Waterpark Banjar Patroman setiap hari Minggu.
“Tapi ada juga yang sudah langganan datang ke rumah langsung,” kata Tedi seraya menyebutkan pelanggannya berasal dari berbagai kalangan, termasuk dosen hingga polisi.
Menurut Tedi ada risiko yang harus ia tanggung jika memasarkan langsung di Alun-alun Banjar, karena kelinci bisa stress di perjalanan.
“Kemarin ada yang mati satu karena stress di jalan, makanya saya nggak berani bawa ke Ciamis dan dipasarkan di Ciamis,” katanya.
Dapat Pesanan dari Malaysia
Selain pemasaran secara langsung, Tedi juga menjual kelincinya secara online. Jika harga sudah disepakati, pembeli mentransfer uang pembayaran, baru Tedi akan mengirim kelinci hias pesanannya.
“Paling jauh itu sampai Riau, alhamdulillah selamat. Bulan depan itu ada pesanan dari Malaysia, tapi barangnya lagi nggak ada,” katanya.
Mengirim kelinci hias ke luar kota bahkan ke luar negeri, lanjut Tedi, memiliki risiko kelinci mati di jalan. “Karena itu kita suka ada kesepakatan sebelumnya, kalau misalnya mati apa diganti semua atau diganti setengahnya, sesuai kesepakatan. Kalau misalnya pesan 20 ekor, terus mati di jalan dan sebelumnya ada kesepakatan diganti semua, ya kita ganti semua,” jelas Tedi.
Selain beternak kelinci, peternak yang memiliki brand Kelinci 27 ini juga biasa merawat kelinci pelanggannya yang sakit.
“Suka ada yang minta dirawat karena misalnya kelincinya jamuran,” katanya.
Selain itu, Tedi juga memanfaatkan air seni kelinci dan kotorannya untuk pupuk. “Itu pupuknya bisa untuk pupuk tanaman, untuk penumbuh daun jadi rimbun dan sehat,” katanya.
Sebelum sukses seperti saat ini, usaha Tedi yang sudah berjalan selama 10 tahun ini bukannya tanpa tantangan.
“Pernah dulu ditipu, beli kelinci dibilangnya jenis ini, ternyata bukan. Sehingga saat ini saya selalu mengingatkan pembeli yang datang tentang kelinci yang tak layak dibeli,” katanya.
Tedi tidak ingin pelanggannya kena tipu seperti dirinya. Karena itu, Tedi mengaku selalu mengedepankan edukasi terlebih dahulu bagi pembeli kelincinya.
“Biasanya saya tunjukkan, kelinci yang seperti ini tak layak dibeli. Jadi biar yang lain gak ketipu seperti saya dulu,” katanya.
Terakhir Tedi berharap pandemi segera berlalu, ia mengaku sudah kangen berkumpul dengan peternak lainnya di Ciamis dalam Festival yang rutin digelar oleh Dinas Peternakan. (R7/HR-Online/Editor-Ndu)