Berita Nasional, (harapanrakyat.com),- Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menghelat lomba Bhayangkara Mural Festival 2021, pada Sabtu (30/10/2021) lalu.
Nama La Ode Umar, muralis asal Jakarta, muncul sebagai juara I. La Ode Umar berhasil memboyong piala Kapolri, serta hadiah uang senilai Rp 50 juta beserta sertifikat.
Dalam lomba tersebut, pihak panitia membagi menjadi beberapa sub tema, antara lain “Bersama menjalankan protokol kesehatan”. Kemudian “Peduli sesama di masa pandemi Covid-19”.
Baca Juga : Mendoan Khas Banyumas Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Lalu sub tema “Indonesia sehat dan kuat”, “Bersama menjaga Indonesia”, “Bebas dari Covid-19”, serta “Kritik terhadap Polri”.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan, bahwa yang terpilih menjadi juara 1 adalah yang mempunyai keberanian untuk mengkritik institusi Polri.
“Tentunya kritik ini akan diterima (Polri). Karena merupakan aspirasi serta harapan masyarakat mengenai perbaikan di tubuh Polri di masa depan,” katanya di Lapangan Bhayangkara, Mabes Polri, Jakarta, Sabtu (30/10/2021).
Lebih lanjut Kapolri menambahkan, pilihan juara 1 jatuh pada karya mural La Ode Umar.
“Hal itu berdasarkan evaluasi dari dewan juri yang kompeten di bidang seni, serta independen,” ujarnya.
Lomba Mural yang Bagus Jadi Sahabat Kapolri
Sebanyak 803 peserta mengikuti pendaftaran lomba tersebut di masing-masing Polda seluruh Indonesia.
Namun setelah seleksi, yang berhasil ikut Bhayangkara Mural Festival 2021 untuk memperebutkan Piala Kapolri ini sebanyak 80 tim pemural.
Merangkum dari berbagai sumber, dalam pembukaan lomba tersebut, Listyo mengungkapkan, mural yang berisikan kritik yang membangun terhadap kepolisian, kemudian akan menjadi sahabatnya.
“Jika gambarnya paling pedas, itu juga akan Polri terima. Dan saya jamin yang berani berkarya seperti itu, akan jadi sahabatnya Kapolri, menjadi teman dari Kapolri,” ungkap Listyo.
Lebih lanjut Listyo menambahkan, dengan adanya lomba mural yang pedas tersebut, pihaknya dari waktu ke waktu dapat berbenah secara institusi. Sehingga institusi dan personil-personil Polri menjadi lebih baik.
“Jadi Polri yang dipercayai masyarakat, Polri yang dicintai publik,” ucapnya.
Walaupun begitu, dalam menyampaikan kritik dan saran, pastinya terdapat hal-hal yang tetap harus dihormati. Terlebih kalau hal tersebut bersinggungan dengan hak orang lain.
Menurut Listyo, dalam lomba mural 2021 telah tersirat dengan jelas, bahwa institusi Polri tidak anti-kritik.
“Tapi sebaliknya menghormati kebebasan berpendapat dan berekspresi,” ujarnya.
Sementara untuk hadiah lomba tersebut, selain memperebutkan Piala Kapolri, juga menyediakan hadiah uang bagi pemenang.
Hadiah juara pertama mendapatkan Rp 50 juta, kemudian juara kedua Rp 30 juta, juara ketiga Rp 20 juta.
“Sedangkan untuk tiga juara harapan masing-masing mendapatkan Rp 10 juta,” paparnya.
Sedangkan untuk penghormatan kepada juara lomba mural, 10 gambar terbaik nantinya akan digambar ulang, di tiang Jalan Layang Non Tol Transjakarta atau JLNT. Jalan tersebut tepat berada di depan Markas Besar Polri, Jakarta.
Kepala Divisi Humas Polri, Ins Jenderal Argo Yuwono mengaku bahwa 5 tiang tersebut sudah mendapat izin dari pemerintah DKI Jakarta. Karena tiang tersebut tinggi, maka akan dibuat 2 mural di atas dan di bawah.
“Setelah kegiatan akan gambar di tiang, kita berikan ruang untuk tempat mereka yang juara di sini,” kata Argo Yuwono.
Tanggapan Pemenang Lomba Mural
Sementara itu, La Ode Umar, sang juara 1, menumpahkan inspirasinya dalam sebuah mural yang merupakan sebuah kritikan pada kinerja kepolisian. Sebab, akhir-akhir ini institusi Polri tengah mengalami pemberitaan tak sedap.
Menurutnya, hal yang paling utama dari lomba mural tersebut adalah kritik dan tema. Jadi ini lebih ke kritik pada tubuh Polri.
“Jadi ini kan muralnya mengenai berita yang belakangan tengah dianggap negatif oleh masyarakat. Apakah itu dari sikap anarkis seperti begitu-gitu kan. Sehingga saya coba angkat di sini, agar menggambarkan situasi penegak hukum,” papar La Ode.
Lebih lanjut ia menambahkan, perlombaan mural 2021 yang Kapolri helat, merupakan momen bagi masyarakat untuk menyalurkan kritik pada Polri.
La Ode berharap, prestasi kerja Polri ke depannya lebih baik, dan juga dapat menerima kritik secara terbuka dari masyarakat.
Sebab, menurutnya, kenyataannya di lapangan banyak oknum polisi yang bersikap tidak baik. Sehingga, menodai institusi Polri secara keseluruhan.
“Namun itu hanya oknum tertentu, yang menyelewengkan pangkat maupun atribut kepolisian sebagai penegak hukum. Sehingga mereka berlaku sewenang-wenang kepada masyarakat,” pungkasnya. (Aan/R5/HR-Online)
Editor : Adi Karyanto