Sejarah kudeta PKI 1965 hingga saat ini menjadi ajang perdebatan tahunan yang masih ramai didiskusikan oleh para pakar sejarah politik Indonesia.
Hal ini bermula saat peristiwa berdarah yang terjadi pada 30 September 1965 ini menewaskan beberapa pejabat tinggi militer yang kemudian mendapatkan gelar Pahlawan Revolusi.
Adapun salah satu kisah menarik sebelum terjadi peristiwa kudeta ini, ternyata PKI yang dipimpin oleh D.N. Aidit pernah mewacanakan buruh, petani, dan nelayan untuk dipersenjatai.
Baca juga: Pengkhianatan PKI dan Fakta-faktanya Sejak Tahun 1924
Catatan Penting dari Peristiwa Kudeta PKI 1965
Adapun maksud dari penulisan artikel ini antara lain yaitu, ingin mengajak para pembaca memahami sejarah G30S/PKI secara bijak dan tidak termakan isu negatif dari pihak-pihak tak bertanggungjawab.
Apa saja fakta menarik dibalik peristiwa ini, dari pada penasaran mending langsung kita cek uraian lengkapnya di bawah ini.
Koran-koran Jakarta Heboh Mengumumkan Angkatan Kelima
Sebelum meletusnya peristiwa G30S/PKI, hampir seluruh koran-koran di Jakarta mengabarkan berita tentang rencana pembentukan Angkatan Kelima.
Hal ini selaras dengan pendapat Agung Dwi Hartanto dalam bukunya berjudul “The Missing Link G30S: Misteri Sjam Kamaruzzaman dan Biro Chusus PKI”, (2011: 36).
Isu Angkatan Kelima merupakan sebuah wacana pembentukan badan militer yang diambil dari kekuatan buruh, petani, dan nelayan yang dipersenjatai.
Wacana tersebut supaya PKI bisa menghalau segala bentuk ancaman dari luar, khususnya rivalitas politiknya, yaitu ABRI. Usulan angkatan kelima pun disebut-sebut sebagai langkah awal untuk memuluskan gerakan Kudeta PKI 1965.
Selain menghimpun kekuatan untuk melawan ABRI, Angkatan Kelima ini menurut D.N. Aidit sebagai respon positif bagi konfrontasi Malaysia dan Indonesia.
Menurutnya, jika para buruh, petani, dan nelayan diberikan senjata, maka kekuatan militer Indonesia akan semakin meningkat baik dan yang pasti membanggakan dunia.
Baca juga: Ideologi Palu Arit di Indonesia, Pernah Diprioritaskan Komunis Dunia tahun 1919
Menlu China Diduga Siap Memasok Senjata 100.000 Pucuk
Catatan penting dari kudeta PKI 1965 juga mengungkapkan bahwa menteri luar negeri China bernama Chou En Lai diduga sebagai aktor pembentukan isu Angkatan Kelima PKI.
Peristiwa ini dinilai sangat strategis, mengingat China saat itu menjadi salah satu negara komunis terkuat di dunia. Bahkan, bisa jadi dengan memasok PKI senjata adalah upayanya meraih dukungan.
Isu pemberian 100 ribu pucuk senjata dari China akhirnya sampai ke telinga Menpangad, Ahmad Yani.
Saat itu beliau menolak bantuan tersebut karena bisa menimbulkan kerusuhan dan tidak pantas.
Menpangad. Ahmad Yani mengatakan bahwa ia akan setuju apabila senjata itu untuk Pertahanan Sipil (Hansip) ketimbang buruh, petani, dan nelayan.
Sebab, Hansip sudah memiliki bekal yang baik dalam urusan pertahanan dan keamanan negara. Mereka sudah sedikit banyak mengerti materi menggunakan senjata.
Baca juga: Kisah Bung Karno Pernah Satu Kos dengan Pendiri PKI
Tersebar Isu Dewan Jenderal
Terjadinya peristiwa kudeta PKI 1965 juga ternyata bisa kita ketahui melalui kejadian tersebarnya isu Dewan Jenderal.
Pembentukan Dewan Jenderal kabarnya sebagai badan perlawanan terhadap Presiden Soekarno, karena kinerja beliau yang semakin renta dan dekat dengan PKI.
Dengan kata lain, pembentukan Dewan Jenderal adalah gosip upaya kudeta Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).
Pertama isu ini berkembang di kalangan ABRI yaitu karena adanya kiriman surat berupa dokumen bernama, ‘Gilschrit‘.
Ada yang bilang jika dokumen tersebut merupakan surat yang dikirim langsung oleh CIA (Amerika Serikat) untuk menggulingkan kekuasaan Seukarno melalui kekuatan ABRI.
Sementara Agung Dwi Hartanto menduga ini sebagai sebuah upaya PKI mengalihkan isu gerakan kudetanya kelak di kemudian hari atau yang dikenal kudeta PKI lewat Gerakan 30 September 1965.
Sebab penemuan dokumen tersebut seiring dengan hari lahirnya PKI, yaitu saat partai berlambang Palu Arit ini ulang tahun pada tanggal 23 Mei 1965 dan perayaannya di Istoria Senayan Jakarta.
Aidit Menyombongkan Massa Partai
Dalam catatan sejarah Kudeta PKI 1965 juga dikisahkan, pada parade hari ulang tahun PKI, D.N. Aidit sempat berpidato di depan massa yang membanjiri tribun Istoria Senayan dengan menyombongkan jumlah massa partai.
Aidit mengaku telah menghitung jumlah keseluruhan anggota partai yaitu berjumlah 20 juta jiwa, dan bertambah terus seiring dengan meratanya ideologi PKI di seluruh penjuru negeri.
Bahkan saking sombongnya, Aidit mengatakan jumlah anggota tentara Angkatan Darat pun tidak mencapai seperduapuluhnya anggota PKI di seluruh Indonesia.
Awal Gerakan Kudeta PKI pada Akhir Mei 1965, Situasi Politik di Jakarta Membara
Masih menurut Agung Dwi Hartanto, ia menyebutkan bahwa pada akhir Mei 1965 situasi politik di Jakarta semakin membara.
Hal ini karena masih kencangnya isu tentang pembentukan Dewan Jenderal di kalangan elit birokrasi.
Melihat situasi politik yang semakin sempit dan sesak, akhirnya Soekarno mulai tak tenang hati dan memanggil Menpangad. Ahmad Yani untuk menanyakan kebenaran ‘Dewan Jenderal’.
Namun berdasarkan pendapat Ahmad Yani, hal tersebut tidak benar yang ada hanya sebuah badan penilai pangkat bernama ‘Wanjakti’.
Badan tersebut terbentuk guna menentukan kenaikan pangkat bagi para perwira yang ada di dalam satuan Angkatan Darat. Selain ‘Wanjakti’ maka tidak ada badan lain yang patut Soekarno percayai.
Soekarno pun diam dan berusaha mempercayai ucapan Ahmad Yani. Ahmad Yani adalah orang kepercayaan Soekarno yang berasal dari Angkatan Darat.
Namun nahas, pada tanggal 1 Oktober 1965, peristiwa kudeta PKI 1965 meletus dan Ahmad Yani menjadi salah satu korbannya. (Erik/R6/HR-Online)