Sejarah buruh Indonesia ternyata sangat menarik dalam perspektif historiografi kolonial. Sebab menurut catatan sejarah, ternyata para pekerja itu lebih rendah dari orang Tionghoa yang ada di Hindia Belanda.
Tentunya jika kita pikirkan hari ini, maka yang terjadi adalah pertanyaan mengapa orang Tionghoa mendapatkan tempat lebih tinggi dari pada orang pribumi?
baca juga: Sejarah Senjata Tradisional Suku Jawa yang Beracun dan Mematikan
Seputar Sejarah Buruh Indonesia di Masa Penjajahan
Pada artikel ini akan mengungkap soal kolonial Belanda yang membedakan antara buruh pribumi dan Tionghoa. Berikut fakta-faktanya.
Kolonial Memandang Rendah Pribumi daripada Tionghoa
Orang kolonial sangat membedakan ras dan kelas. Seperti halnya membandingkan antara pribumi dengan warga Timur Asing (pendatang), tak terkecuali orang Tionghoa.
Hal ini terlihat dari catatan kolonial yang meninggalkan jejak tinta hitam yang menunjukkan perilaku yang sarat akan ketidakadilan.
Hal ini terjadi karena buruh-buruh Tionghoa memiliki tingkat upah yang lebih tinggi dari semua jenis pekerjaan yang sama dengan orang Pribumi.
Rupanya tingkat pembayaran upah pada masa kolonial karena etos kerja orang Tionghoa lebih tinggi daripada para pribumi yang sering malas dan tak berdaya.
Sejarah buruh Indonesia yang menyedihkan ini tergambar jelas dalam buku Jhon Ingelson berjudul “Buruh Serikat dan Politik Indonesia pada 1920-1930” (2014: 25).
baca juga: Sejarah Wayang Indonesia dan Pengaruhnya Terhadap Tradisi Jawa
Pemenuhan Kebutuhan yang tidak Adil
Selain karena masalah etos kerja, pemerintah kolonial saat itu juga menempatkan material (kebutuhan) lebih penting terhadap orang-orang Tiongkok itu.
Sementara itu, perilaku tidak menyenangkan juga sering didapatkan orang pribumi dalam memperoleh kebutuhan pokok, seperti beras serta sembako lainnya.
Belanda saat itu hanya memprioritaskan orang pribumi yang membayar pajak terbanyak.
Pemerintah kolonial hanya memprioritaskan masyarakat dengan pembayar pajak terbanyak dari orang pribumi.
Menurut catatan, ternyata para buruh yang berasal dari pribumi sudah mendapatkan subsidi kolonial berupa minimnya pembayaran pajak yang harus terbayarkan.
Namun hal ini justru menimbulkan dampak yang signifikan, yakni terjadinya konflik antar orang Tionghoa dan buruh pribumi sering terjadi dalam rentang waktu 1910 sampai dengan 1930.
Kolonial Membedakan Ras
Penyebab pemerintahan kolonial kurang memprioritaskan orang Indonesia waktu itu karena mereka melakukan klasifikasi ras tertentu. Hal ini sebagaimana ideologi orang Eropa, seperti halnya Belanda.
Khusus di Hindia Belanda, mereka membaginya ke dalam tiga bagian, yakni orang-orang Eropa itu sendiri, timur asing seperti Arab, India dan Tionghoa.
Sedangkan yang ketiga adalah inlanders yang kerap mendapatkan perilaku tidak menyenangkan dari orang Eropa, apalagi dalam persoalan buruh.
Sering Memberontak
Dalam catatan sejarah buruh Indonesia penyebab penjajah memandang rendah orang Indonesia karena para buruh kerap memberontak.
Hal itu tentu bukan tanpa alasan. Mereka sering mendapat tindakan sewenang-wenang dalam masalah pekerjaan, khususnya di saat menuntuk kenaikan upah untuk para pekerja.
Selain memberontak serta menghancurkan sejumlah inventaris pabrik, buruh dari Indonesia juga melakukan mogok kerja.
Seperti halnya pada sekitar tahun 1920, terjadi pemogokan buruh yang ada di seluruh Jawa Tengah, dan sekitarnya. Sementara yang menjadi penyebabnya adalah menuntut kenaikan upah.
Pemerintah kolonial dan orang Belanda kemudian sering mencap orang pribumi sebagai perusuh yang berbahaya.
Mudah Terprovokasi
Hal berikutnya dalam sejarah buruh Indonesia menyebut, ternyata buruh pribumi sangat mudah terprovokasi, sehingga pemerintah kolonial sangat kesal dengan prilaku mereka.
Jika saat ini kita pikir, provokasi yang mudah membakar semangat para buruh itu memberontak adalah perjuangan, tetapi pada saat itu merupakan bentuk melawan pemerintah.
Banyak beberapa tokoh yang sangat aktif memprovokasi buruh untuk melakukan pemberontakan dan mogok kerja, salah satunya Dr. Cipto Mangunkusumo, Surjo Pranoto, dan E.F.E Douwes Dekker.
Atas perilaku yang tidak menyenangkan itu, kemudian pemerintah kolonial menghukum beberapa provokator dengan pengasingan dan hukuman lain.
Namun yang jelas pemerintah kolonial Belanda sangat membeci buruh pribumi yang mudah terprovokasi oleh para provokator revolusi yang membahayakan tersebut.
Begitulah beberapa sejarah buruh Indonesia yang menarik untuk menjadi perhatian publik. Generasi penerus tentu harus mengetahui bagaimana perjuangan para leluhur untuk mempertahan kan harga diri bangsa begitu berat, bahkan mereka rela melakukan itu dengan perlawanan. (Erik/R6/HR-Online)