Beberapa catatan sejarah menyebut Raffles dengan sebutan Sir atau Tuan Thomas Stamford Raffles. Orang Inggris dan Singapura sangat menghargai Raffles sebagai sosok yang terhormat. Sebab beberapa capaiannya dalam ilmu pengetahuan, termasuk membangun kesejahteraan Singapura banyak dilakukan pada masa pemerintahan Raffles.
Raffles bukan seorang yang terlahir dari keluarga kerajaan atau feodal. Ia justru lahir sebagai anak pesisir dari pantai Jamaika, dekat dengan Port Morant. Ia lahir di atas geladak Kapal bernama Ann, pada tanggal 6 Juli 1781.
Namun meskipun berasal dari keluarga biasa, karena ketekunan Thomas Stamford Raffles dalam belajar, ia bisa diangkat menjadi juru tulis di perusahaan Hindia Timur. Sampai akhirnya ia bisa menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda yang menjabat sekitar tahun 1800-an.
Baca Juga: 5 Komoditas Ekspor Impor Era Kolonial, Salah Satunya Opium
Karena kegemarannya untuk belajar terus menerus, Raffles akhirnya tertarik melakukan sebuah penelitian sejarah di wilayah Jawa. Bukunya yang kemudian banyak dikutip oleh sejarawan Indonesia berjudul “History of Java” adalah salah satu hasil karya terbaiknya dalam penulisan sejarah era kolonial.
Nah di beberapa subbab buku yang ditulis Raffles itu, terdapat ulasan mengenai beberapa karakterisitik orang Jawa pada masa kolonial. Lalu apa saja karakteristik yang ditulis Raffles dalam penelitiannya itu? Berikut penjelasan lima karakteristik orang Jawa pada masa kolonial yang dirujuk dari catatan sejarah Sir Thomas Stamford Raffles.
Inilah 5 Karakteristik Orang Jawa pada Era Kolonial Menurut Sir Thomas Stamford Raffles
Karakter Intelektualitas Orang Jawa
Menurut Thomas Stamford Raffles dalam bukunya berjudul “History of Java” yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Eko Prasetyo, Dkk (2008), orang Jawa pada tahun 1800 memiliki karakter intelektualitas yang cenderung tinggi.
Raffles dalam catatannya menulis, jika masyarakat di pedalaman Jawa yang sangat sederhana itu bisa menyelesaikan permasalahan dengan cara yang cenderung easy atau mudah. Seperti halnya membuka lahan pertanian, mereka akan menggunakan peralatan seadanya guna membabad lahan. Misalnya lahan yang semula hutan disulap menjadi ladang pertanian yang rapi dan subur.
Baca Juga: Sejarah Anti Tionghoa di Indonesia, Berawal Peristiwa 65
Sementara jika dibandingkan dengan orang Eropa dalam mengerjakan pertanian dari dasar seperti ini, maka tidak bisa dibayangkan tanpa alat-alat pertanian yang canggih untuk mengerjakan pembukaan lahan hutan yang akan dijadikan ladang pertanian. Tentu ini merupakan kekayaan intelektualitas orang Jawa yang dimiliki jauh sebelum orang Eropa datang ke Hindia Belanda.
Rendah Hati dan Berbudi Luhur
Tidak hanya orang di luar Jawa yang mengatakan jika masyarakat yang berasal dari pulau Jawa memiliki karakteristik yang rendah hati dan berbudi luhur. Hal ini ditunjukan juga oleh catatan peninggalan Thomas Stamford Raffles saat menjabat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1811, (Eko Prasetyo, Dkk, 2008 : 155).
Karakter rendah hati dan berbudi luhur ini ditunjukkan oleh masyarakat Jawa pada bidang kepercayaan. Orang Jawa pada era kolonial yang lampau masih memiliki kepercayaan terhadap takhayul atau jika zaman sekarang menyebutnya dengan istilah nonesense. Namun justru dari kepercayaan itulah karakter rendah hati dan berbudi luhur itu muncul.
Raffles membandingkannya dengan masyarakat terpelajar yang sering ditemuinya di Eropa. Mereka cenderung sombong, takabur, dan tidak berperangai dengan baik. Sementara masyarakat di Jawa sangat rendah hati menjaga sifat budi yang luhur dalam hidupnya meskipun tidak pernah memiliki title “terpelajar”.
Patuh dan Menghormati Kepala Negara (Pemimpin)
Ketiga yaitu karakter pematuh dan sangat menghormati kepala negara sebagai pemimpin tanah Jawa. Waktu itu tanah Jawa dipegang oleh sistem feodalisme. Dari kebiasaan feodalis yang keras inilah karakteristik orang Jawa yang patuh dan sangat menghormati pemimpin terbentuk secara perlahan-lahan.
Memiliki Etos Kerja yang Tinggi
Orang Jawa pada masa kolonial juga dipercaya memiliki etos kerja yang tinggi. Hal ini ditunjukan sebagaimana Thomas Stamford Raffles menulis, setidaknya ada 10 profesi pekerjaan yang harus dimiliki oleh setiap lelaki Jawa saat itu. Salah satunya adalah profesi yang keras yaitu pemandai besi dengan sebutan Pandi.
Selain pemandai besi, ada pula pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan dan keterampilan seperti, pelukis (Niung’ ging), pemahat (Ukir-ukir), pengrajin emas (Kemasan), pembuat alat musik (Argending), pengrajin keris (Mrang’gi), sastrawan (Ngapus), penjahit (Gardji), pembuat perhiasan (Anyara-wedi retna), dan pengrajin perak (Anyadur-rasa).
Sangat Menghargai Kaum Laki-laki
Nah yang kelima, sekaligus terakhir yaitu bagi para perempuan Jawa, mereka dikenal sangat menghargai laki-laki. Hal ini tercatat oleh Raffles, karena seorang lelaki tahu bagaimana cara menyesuaikan kata-katanya dengan tindakannya, juga tindakannya dengan kata-katanya. Dalam arti lelaki adalah satu-satunya makhluk Tuhan yang bisa memimpin kehidupan perempuan di dunia.
Raffles Adalah Produk Gerakan Humanis Abad 18
Jangan bingung jika itu adalah catatan dari seorang penjajah kita sendiri, sebab mengapa Raffles memandang masyarakat Jawa dengan kacamata yang positif baik, maka jawabannya adalah, karena Raffles merupakan produk gerakan humanisme (kemanusiaan) yang lahir di abad ke 18, (Hariyono, Dkk, Thomas Stamford Raffles: Seorang Universialis atau Imperialis, Paramita Vol. 26 No. 1 – Tahun 2016 [ISSN: 0854-0039, E-ISSN: 2407-5825], Hlm: 36).
Pemikiran dan perbuatannya selalu berpegang teguh pada ajaran kemanusiaan. Meskipun di beberapa kisah sejarah lainnya menggambarkan Thomas Stamford Raffles sebagai penguasa yang bengis, orang Eropa yang tak tahu diri, dan penjajah bagi rakyat Indonesia. Namun sesungguhnya kalian belum mengetahui sisi baik dari Sir Thomas Stamford Raffles secara utuh. (Erik/R7/HR-Online)
Editor: Ndu