Cihaurbeuti, (harapanrakyat.com),- Hasil pemeriksaan Badan Geologi yang dilakukan oleh Tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi ke lokasi bencana, pekan lalu, mengisyaratkan bahwa Desa Padamulya Kec. Cihaurbeuti Kab. Ciamis belum sepenuhnya aman dari bencana. Banjir bandang susulan masih mengancam daerah tersebut.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Dr. Surono, dalam surat rekomendasi hasil pemeriksaan ke lokasi banjir bandang Padamulya, menyatakan bahwa pada saat terjadi hujan deras, masyarakat yang bertempat tinggal di lokasi bencana, yaitu di Dusun Depok, Sedakaler, Sedakidul, Ciawitali, dan Cigorowong supaya meningkatkan kewaspadaan dan mengungsi ke tempat yang aman untuk menghindari kemungkinan terjadi banjir bandang susulan.
Surono juga dalam surat rekomendasinya meminta agar dilakukan normalisasi aliran sungai Ciharus dari hulu sampai hilir dengan cara mengeruk material endapan banjir bandang, agar aliran sungai menjadi lancar seperti semula, dan juga agar dibuat tanggul-tanggul pengendali aliran sungai.
Namun, Surono melanjutkan, apabila normalisasi aliran sungai Ciharus tidak berhasil, maka disarankan agar permukiman yang mengalami rusak berat yang berada di sekitar lembah sungai Ciharus, agar direlokasi ke tempat yang aman dari ancaman bencana gerakan tanah dan banjir bandang.
âSementara permukiman yang rusak ringan dan terancam oleh kemungkinan banjir bandang, pada masa yang akan datang agar secara bertahap direlokasi ke daerah yang aman. Diberitahukan juga kepada masyarakat setempat agar tidak membangun permukiman di sepanjang lembah atau bantaran sungai Ciharus, â terangnya.
Kepala Bidang Geologi dan SDM Dinas Binamarga, SDA dan ESDM Kab. Ciamis, Yogi Galva, ST, mengatakan, alasan Badan Geologi yang meminta agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan pada saat terjadi hujan deras yang ditakutkan kembali terjadi banjir bandang susulan, mengingat bahwa bencana yang diakibatkan dari pergesaran tanah yang mengakibatkan longsor dimungkinkan akan terjadi berulang-ulang.
âSecara empiris bahwa bencana longsor biasanya terjadi berulang-ulang di lokasi bencana yang sama. Seperti contoh pergeseran tanah atau longsor di Ciloa Kec. Tambaksari, hingga saat ini pergesaran tanah masih terus terjadi, tidak mau berhenti,â ujarnya, ketika dihubungi HR, di ruang kerjanya, Selasa (5/4).
Namun, lanjut Yogi, untuk di Padamulya Cihaurbeuti, sebenarnya bisa diminimalisir resiko bencana dari akibat pergesaran tanah, sehingga tidak menimbulkan banjir bandang.
âUntuk merekayasa agar longsoran tanah berhenti, tampaknya sulit. Disamping lokasi longsor berada di bukit gunung syawal yang terjal, juga sulit menghentikan pergerakan tanahnya. Upaya untuk meminimalisir resiko bencana agar tidak terjadi banjir bandang, yakni harus menyingkirkan tumpukan material dari tumpahan longsor agar tidak menyumbat aliran air dari hulu sungai,â ujarnya.
Yogi juga menjelaskan, yang menjadi masalah bahwa daerah Padamulya masih belum aman dari bencana banjir bandang susulan, yakni disebabkan dari masih banyaknya tumpukan material yang berada di hulu sungai dan di sepanjang aliran sungai Ciharus.
âKarena tumpukan material ini yang dikhawatirkan menyumbat aliran air dari hulu sungai, sehingga menyebabkan aliran air dari hulu tidak lancar mengalir ke sungai. Terlebih, apabila tumpukan material itu berada di lokasi hulu yang menyebabkan bendungan alam, sehingga membentuk genangan pada lekuk lereng bagian atas,â
âJika begitu, akan terjadi runtuhan genangan akumulasi air yang menyebabkan banjir bandang. Hal itu seperti pada saat bencana kemarin yang mengakibatkan banjir bandang,â tambahnya.
Makanya, tandas Yogi, solusi untuk mencegah terjadinya kembali banjir bandang, tidak ada cara lain yakni membersihkan seluruh material longsor yang berada di hulu sampai hilir.
â Apabila untuk membersihkan tumpukan material membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang sangat lama, mengingat panjangnya tumpukan material dari sungai sampai hulu yang jaraknya sangat jauh, dan juga akan menyulitkan alat berat untuk mencapai puncak gunung yang terjal, maka alternatif lain untuk mengurangi resiko bencana, yakni dengan cara merelokasi permukiman warga yang berada di sepanjang daerah bencana ke lokasi yang lebih aman, â katanya.
Menurut Yogi, berdasarkan saran dari Badan Geologi pun agar dilakukan relokasi permukiman warga yang terkena bencana ke daerah yang lebih aman. â Ketika berbincang dengan kita, tim dari Badan Geologi pun pesimis apabila tumpukan material longsor bisa dibersihkan sampai hulu. Alasannya sama, yakni faktor biaya, waktu pengerjaan dan terjalnya medan,â
âMaka alternatif lain, Badan Geologi pun menyarankan agar merelokasi permukiman warga yang terkena bencana. Karena apabila terjadi kembali banjir bandang, maka aliran airnya pasti akan melalui daerah-daerah yang kemarin terkena dampak bencana,â katanya.
Dihubungi terpisah, Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kab. Ciamis, Ir. Rajendra, membenarkan bahwa setelah terjadi bencana longsor yang mengakibatkan banjir bandang, tumpukan material akibat longsoran belum sepenuhnya bersih. Dia mengatakan masih ada tumpukan material di hulu sungai Ciharus, tepatnya di Curug Panjang Gunung Syawal.
âHasil pantauan kita kemarin bahwa tumpukan material dari longsoran masih ada di sekitar hulu sungai. Namun, apakah tumpukan material itu kembali membentuk bendungan alam yang bisa menampung air, belum bisa dipastikan. Karena perlu penelitan lagi ke lokasi,â ujarnya, ketika dihubungi HR via telepon selulernya, Selasa (5/3).
Rajendra pun mengatakan bahwa permasalahan bencana longsor di hulu sungai Ciharus yang menyebabkan banjir bandang bukan sepenuhnya tanggungjawab BKSDA. â Memang hulu sungai berada di wilayah pengelolaan BKSDA, tetapi permasalahan bencana ini komplek dan ada kait-mengait dengan lembaga lain, seperti yang mengelola sungai Ciharus yakni BWWS Citanduy dan ada juga kawasan hutan milik masyarakat dan lainnya,â ujarnya.
Ketika ditanya apakah masih ada bendungan alam yang membentuk genangan air di hulu sungai Ciharus, yang dikhawatirkan warga setempat akan runtuh dan kembali memuntahkan banjir bandang, Rajendra belum bisa memastikan kebenaran informasi tersebut.
â Untuk memastikan apakan informasi itu benar tidaknya, tentunya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Karena untuk sampai ke hulu sungai, harus melalui medan yang terjal karena posisinya berada di puncak gunung syawal,â katanya.
Hutan Beralih Fungsi
Spekulasi lain menyebutkan bahwa penyebab terjadinya longsor hingga mengakibatkan banjir bandang disebabkan adanya alih fungsi hutan di beberapa lokasi hutan konservasi BKSDA dan hutan produksi milik Perhutani.
Tudingan itu pun datang dari Pergerakan Mahasisiwa Islam Indonesia (PMII) Kab. Ciamis. Aktivis PMII Ciamis, Maulana Sidik mengatakan, kejadian bencana banjir bandang harus ada pihak yang bertanggung jawab. Karena lokasi longsoran tanah yang menyebabkan banjir bandang berada di wilayah pengelolaan BKSDA dan Perhutani.
âKami berharap kejadian ini bisa sebagai cermin kepada Pemkab Ciamis, terutama kepada yang memiliki kewenangan terhadap kawasan hutan, baik Perhutani maupun BKSDA. Karena di daerah yang mengalami longsoran tanah terdapat kawasan hutan produksi yang merupakan hasil alih fungsi hutan,âungkapnya, kepada HR, pekan lalu.
Sidik juga mengatakan, dari informasi yang dihimpun, daerah yang terkena banjir bandang telah banyak beralih fungsi. âYang tadinya hutan lindung kini malah menjadi lahan pertanian. Kita juga mendengar bahwa alih fungsi tersebut dilakukan oleh BKSDA, Dinas Kehutanan dan Perhutani, â tudingnya.
Menggapi hal itu, Kepala BKSDA Kab. Ciamis, Rajendra membantah. Dia mengatakan tudingan tersebut tidak benar â Hutan konservasi Gunung Syawal masih utuh. Kita bisa membuktikan kalau lahan tersebut tidak dijadikan lahan pertanian. Tudingan tersebut jelas tidak mendasar. Dan penyebab banjir bandang murni bencana alam,â tegasnya
Rajendara melanjutkan pihaknya kini terus melakukan penelitian ke lapangan karena masih banyak daerah yang berada di kawasan hutan Gunung Syawal yang rawan akan bencana longsor serta banjir bandang. (Bgj/es)