Foto: Ilustrasi/Net
Ciamis, (harapanrakyat.com),-
Pengembalian Dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) bagi siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) PUI Gereba, Desa Ciakar, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, menuai kontroversi.
Plt. Kepala MI PUI Gereba, A. Husaeni, S.Ag, Sabtu (14/12), mengaku dana BSM yang sempat direncanakan untuk pemerataan itu, akhirnya dibatalkan. Bantuan sebesar Rp. 360.000 telah dikembalikan secara utuh kepada siswa-siswi penerima.
Menurutnya, pihak madrasah PUI Gereba tidak ada niat untuk memotong dana BSM tersebut. Sebab, dana itu rencananya akan digunakan untuk membeli seragam batik sekolah, yang juga akan diberikan kepada siswa.
Sementara itu, Solihin. Spd, tenaga guru, menyatakan, pemotongan BMS itu untuk pemerataan, agar seluruh siswa yang berjumlah 198 orang, sama rasa sama rata merasakan dan menerimanya.
“Tidak ada keinginan untuk melakukan penggelapan dana bantuan sosial dari pemerintah,” katanya.
Eno, Ketua RW 07 Dusun Tanjung Jaya, Senin (16/12), mengatakan, pihak sekolah sempat akan mengembalikan dan BSM yang sempat disunat beberapa waktu lalu. Hanya saja seluruh penerima menolaknya, dengan alasan ada perkataan yang tidak berkenan di hati.
Menurut Eno, seluruh uang hasil pemotongan sempat akan diserahkan kepada penerima, melalui Ketua Komite. Namun, Ketua Komite menolaknya. Akhirnya uang tersebut diamankan dipegang oleh ustad Emo.
“Alhasil pengembalian dana BSM, posisinya masih belum jelas,” ujarnya.
Senada dengan itu, Yaya, warga setempat, menuturkan, pihak madrasah sempat mendatangi para orang tua siswa penerima BSM, dengan tujuan untuk menyerahkan uang pemotongan.
“Hanya saja, pihak penerima menolaknya. Sebab, mereka memastikan pihak sekolah pasti akan berdalih yang lain lagi,” katanya.
Menurut sumber HR yang dapat dipercaya, mengatakan, terlepas dana BSM dikembalikan atau tidak, pemotongan yang sempat terjadi itu, menjadi bukti bahwa pihak madrasah telah melakukan pelanggaran.
Kades Ciakar, Sulaeman Nurjamal, mengaku bersyukur bila dana BSM itu diserahkan tanpa ada potongan. Dia berharap, kejadian itu tidak kembali terulang. Pemotongan itu sangat merugikan siswa penerima.
“Karena kalau dibelikan seragam dan dibagi rata, dipastikan anak orang mampu turut menerima bantuan,” pungkasnya. (dji/Koran-HR)