Sejarah rambut gondrong terlihat sejak Orde Baru. Hal ini karena di zaman tersebut ada larangan untuk memiliki rambut yang gondrong. Dalam sejarah Indonesia juga ada larangan bagi kalangan muda untuk ikut terjun di dunia perpolitikan.
Baca Juga: Sejarah Bahari Indonesia, Jelajah Dunia Maritim Leluhur Nusantara
Larangan-larangan tersebut membuat pemuda di seluruh penjuru nusantara melakukan pemberontakan. Hal ini terlihat sejak awal tahun 1970. Pemuda secara terang-terangan memiliki rambut gondrong.
Sejarah Rambut Gondrong Saat Orde Baru
Siapa saja yang melanggar larangan, tetap mendapatkan razia. Tidak tanggung-tanggung karena rahasia ini dilakukan oleh Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong (Bakorperagon).
Pemerintah sengaja membentuk badan tersebut dengan wilayah operasi di seluruh penjuru daerah di Indonesia. Kisah ini pun juga tertuang di buku Aria Wiratma Yudhistira yang judulnya Dilarang Gondrong: Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970-an.
Larangannya pernah muncul di TVRI pada 1 Oktober 1973. Pangkopkamtib Jenderal Soemitro juga pernah mengumumkannya dalam Bincang-Bincang di TVRI.
Larangan Pemuda Berambut Panjang
Soemitro menjelaskan bahwa sejarah adanya larangan rambut gondrong ini bisa memicu keadaan acuh tak acuh. Hal ini bisa memicu tingginya tingkat kriminalitas yang ada di Indonesia.
Larangan tersebut semakin terlihat jelas saat Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) menanggapinya secara serius. Selanjutnya, Gubernur Marah Halim membentuk Bakorperagon tadi untuk memberantasnya.
Andi Achdian juga menjelaskan bahwa badannya diketuai Kepala Direktorat Khusus Kantor Gubernur Sumatera Utara. Lalu anggotanya berupa pejabat-pejabat daerah tingkat 1 dan wakil kwartir daerah pramuka provinsi Sumatera Utara.
Kriminalisasi Rambut Gondrong di Belanda
Belanda juga pernah melakukannya saat periode revolusi 1945-1949. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang ada di buku Revolusi Nasional Indonesia dari sejarawan Barat Antonie, JS. Reid.
Belanda menilai pemuda dengan rambut gondrong sebagai musuh dan bahkan teroris dalam sejarah negaranya. Sementara Ali Sastroamijoyo dalam biografi yang judulnya Tonggak-Tonggak di Perjalananku menyebut pemuda dengan rambut panjang di Jogja pada awal tahun 1946 jadi kekuatan revolusi bangsa.
Razia Rambut Gondrong
Razia pertama kali terjadi pada 8 Desember 1966. Lokasinya ada di depan Stasiun Tanah Abang Jakarta.
Dalam razia ini, tim menyisir rambut pemuda. Kemudian razia berlanjut ke kota-kota besar yang lainnya. Mulai dari Jogja, Bandung, Surabaya, dan Medan.
Baca Juga: Kisah Hidup KH Ahmad Dahlan, Pendiri Organisasi Muhammadiyah
Rambut gondrong memang merajalela di sejarah Orde Baru seiring dengan meningkatnya popularitas band The Beatles. Dalam razia tidak hanya memotong atau merapikan rambut, melainkan juga memperhatikan pakaiannya.
Razia Anti-Orang Gendut
Di sejarah Orde Baru, pemerintah dengan kekuasaan ada di tangan Soeharto memang aktif memberantas rambut gondrong. Masyarakat pun melakukan perlawanan dengan berbagai bentuk.
Salah satunya yakni mengadakan razia anti-orang gendut. Razia yang melibatkan beragam elemen gerakan mahasiswa yang ada di Bandung ini jadi respon kekecewaan terhadap korupsi di kalangan pejabat.
Dalam rahasia ini terbunuhlah mahasiswa elektro ITB yang bernama Rene Louis Conrad. Mahasiswa ini tewas karena dikeroyok Taruna Akpol.
Akibatnya, ada demonstrasi yang melibatkan 50.000 orang. Pada akhirnya, gerakan mahasiswa pada tahun 1998 berhasil melengserkan kekuasaan Soeharto.
Sejak saat itu banyak aktivis mahasiswa yang berambut gondrong. Saat ini pun sedikit pemuda yang berambut gondrong, tetapi memiliki gaya yang lebih modern sesuai perkembangan zaman.
Respon Warganet
Terkait sejarah rambut gondrong di era Orde Baru, mengundang respon yang beragam dari warganet. Salah satu responnya terlihat di akun media sosial Instagram @ruangklasik_.
Ada salah satu postingannya yang menyebut adanya larangan berambut panjang di masa Orde Baru. Stigma negatif terhadap potongan tersebut sebenarnya sudah dirasakan sejak masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Hal ini karena Presiden Soekarno tidak menyukai budaya Barat, termasuk gaya penampilan tersebut. Postingan ini pun mendapatkan sejumlah komentar dari sesama akun Instagram.
Salah satunya komentar yang menyatakan don’t judge a book by it’s cover. Tak hanya itu, ada juga warganet yang merespon bahwa Soeharto tanpa ampun.
Baca Juga: Sejarah Gagal Pindahnya Ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung
Setelah menyimak uraian di atas, tentu bisa mengetahui bagaimana sejarah rambut gondrong di era Orde Baru silam. Terlihat jelas bahwa gaya berpenampilan tersebut mendapatkan stigma buruk. Hal inilah yang memicu perlawanan hingga lengsernya Presiden Soeharto. (R10/HR-Online)