Berita Ciamis (harapanrakyat.com),- Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Tatang, mengakui tidak semua siswa di Ciamis, Jawa Barat, bisa mendapat metoda pembelajaran secara online dari gurunya pada saat pemberlakukan belajar di rumah akibat pandemi virus corona.
Namun begitu, lanjut Tatang, dari hasil cek lapangan yang dilakukan jajarannya, hanya sekitar 3,69 persen siswa di Ciamis yang tidak bisa mengakses pembelajaran dari gurunya secara online.
“Dari hasil pengawasan kami, sebagian besar guru di Kabupaten Ciamis saat ini menggunakan metode pembelajaran secara online atau melalui pesan WhastApp orangtua siswa. Hanya di daerah pelosok saja yang belum bisa menggunakan cara itu. Namun persentasinya kecil atau sekitar 3,69 persen,” katanya, ketika dihubungi Selasa (28/04/2020).
Baca juga: Gegara Corona, Guru di Ciamis Ini Harus Berjalan Kaki ke Perbukitan untuk Temui Siswanya
Tatang menambahkan sekitar 3,69 persen siswa yang tidak bisa mengikuti metoda pelajaran online kebanyakan yang berada di daerah pelosok atau daerah yang belum terakses jaringan internet.
“Makanya dalam pemberlakukan siswa belajar di rumah selama pendemi corona ini kami menyiapkan berbagai opsi kepada guru. Bagi siswa yang bisa diakses melalui belajar online silahkan gunakan teknologi. Namun bagi siswa yang tidak bisa dijangkau secara online harus melakukan home visit. Jadi semua siswa bisa terlayani,” ujarnya.
Sejauh ini, kata Tatang, metoda belajar di rumah yang dilakukan di seluruh sekolah di Kabupaten Ciamis masih berjalan lancar dan tidak ada kendala. “Melalui tenaga pengawas kami terus melakukan pemantauan ke setiap sekolah. Hal itu agar metoda belajar di rumah yang dipandu oleh guru bisa terus berjalan. Jangan sampai siswa ketinggalan mata pelajaran meski belajarnya di rumah masing-masing,” tegasnya.
Tatang juga mengatakan pola belajar di rumah tentunya berbeda dengan di sekolah. Dalam hal ini, menurutnya, ada peran orangtua siswa untuk mendampingi anaknya agar tetap mau belajar.
“Bimbingan dan nasehat dari orangtua kepada anaknya benar-benar dibutuhkan dalam kondisi seperti ini. Karena guru tidak hadir di depan si anak. Jadi orangtua harus menjadi pengganti guru dalam membimbing. Sementara guru hanya berperan memberikan pelajaran saja tanpa mendampingi si anak belajar,” katanya. (Fahmi2/HR-Online)