Fosil manusia purba termuda ternyata ada di Indonesia. Para ilmuwan berhasil mengidentifikasi fosil Homo erectus yang paling muda dalam sejarah. Penemuan fosil tersebut tentu menambah wawasan tentang manusia purba yang muncul sebelum era manusia modern.
Baca Juga: Spesies Homo Bodoensis, Julukan Baru untuk Nenek Moyang Manusia
Meskipun Homo erectus telah punah beratus-ribu tahun yang lalu, penemuan ini menjadi luar biasa karena fosil tersebut ditemukan di Ngandong, Jawa Tengah, Indonesia. Apa yang menarik adalah bagaimana penelitian ini dimulai dan fakta-fakta seputar kepunahan Homo erectus.
Fosil Manusia Purba Termuda Homo Erectus, Ini Faktanya
Banyak sekali temuan ilmuwan yang akhirnya mengungkap berbagai fakta mencengangkan. Tak terkecuali fosil dari Homo erectus. Apa saja fakta menariknya? Simak ulasannya sebagai berikut.
Menghilang 108 – 117 Ribu Tahun yang Lalu
Ternyata fosil yang baru ditemukan adalah dari spesies Homo erectus. Artinya, Homo erectus telah punah dalam rentang waktu tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa manusia modern mungkin sempat berbagi zaman dengan Homo erectus yang memiliki kemiripan tertentu.
Ditemukan di Ngandong
Menurut Russell Ciochon, seorang ahli Paleoantropologi dari University of Iowa, Ngandong memegang peran penting sebagai situs penemuan Homo erectus termuda. Secara unik, hingga saat ini, Ngandong merupakan satu-satunya lokasi di dunia yang berhasil mengungkap fosil Homo erectus dengan usia paling muda.
Bersama Penemuan 25 Ribu Fosil Lainnya
Penemuan di situs Ngandong dimulai era penjajahan Belanda di Indonesia, tepatnya pada tahun 1930-an. Sejak saat itu, sebanyak 14 fosil Homo erectus telah berhasil ilmuwan identifikasi. Selain itu, mayoritas penemuan fosil tersebut ternyata berasal dari berbagai jenis binatang.
Penemuan Paling Mirip dengan Manusia Modern
Homo erectus menunjukkan kemiripan tubuh yang paling dekat dengan manusia daripada spesies manusia lainnya. Proporsi tubuhnya tegap dan sangat menyerupai manusia modern. Sebuah karakteristik unik tersebut mengingatkan bahwa sebagian besar manusia purba cenderung memiliki postur tubuh yang bungkuk.
Ukuran Otak Lebih Besar
Ternyata fosil manusia purba termuda ini memiliki volume otak yang lebih besar daripada Homo erectus lainnya yang pernah ilmuwan temukan. Walaupun demikian, Russell Ciochon, enggan menyimpulkan bahwa Homo erectus di Indonesia ini memiliki tingkat kecerdasan lebih tinggi daripada tempat lain.
Hal ini karena kurangnya bukti perilaku dari setiap individu Homo erectus yang dapat memengaruhi penilaian terkait kecerdasan.
Punah karena Perubahan Iklim dan Lingkungan
Punahnya Homo erectus di Pulau Jawa dapat ditelusuri hingga perubahan lingkungan yang signifikan. Kepunahan tersebut karena transformasi hutan terbuka Pulau Jawa menjadi hutan hujan.
Tantangannya muncul karena Homo erectus diyakini kesulitan dalam menemukan sumber makanan yang biasa tersedia dalam hutan terbuka.
Baca Juga: Spesies Homo Longi, Manusia Purba Berusia 146.000 Tahun
Selain itu, keberadaan hewan buas dalam hutan hujan juga teridentifikasi sebagai salah satu faktor potensial dalam kepunahan Homo erectus. Keberadaan hewan buas di dalam hutan hujan berinteraksi secara kompleks antara manusia purba.
Perubahan habitat dari hutan terbuka menjadi hutan hujan mungkin mengakibatkan perubahan dinamika ekologi dan distribusi sumber daya alam. Hewan buas yang beradaptasi dengan lingkungan baru tersebut bisa menjadi pesaing untuk sumber makanan.
Kemungkinan konflik langsung antara Homo erectus dan hewan buas dapat meningkat. Konflik bisa terjadi karena perubahan kondisi lingkungan yang menciptakan ketidakpastian dalam mendapatkan makanan. Sehingga, memperumit kelangsungan hidup manusia purba.
Selain itu, faktor-faktor lain seperti longsor, letusan gunung api, dan perubahan iklim juga turut berkontribusi pada perubahan dramatis dalam habitat manusia purba.
Mampu Mencapai Pulau Jawa Berkat Rendahnya Permukaan Laut
Homo erectus, awalnya menetap di daerah-daerah seperti Afrika dan Eurasia, menunjukkan ketahanan dan kemampuan migrasi yang luar biasa.
Pada suatu masa, sebagian dari mereka memutuskan untuk bermigrasi ke Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Rendahnya permukaan laut pada saat itu memungkinkan Homo erectus untuk mencapai Pulau Jawa melalui jalur daratan yang terhubung dengan Asia.
Pentingnya momen tersebut terletak pada kondisi periode glasial yang sedang berlangsung. Periode tersebut berupa penurunan permukaan laut, sehingga membuka pintu bagi perjalanan mereka.
Baca Juga: Temuan Gigi 48000 Tahun di La Cotte Ungkap Fakta Manusia Purba
Ini menjadi salah satu contoh adaptasi manusia purba terhadap perubahan lingkungan. Bahkan berdampak pada kemampuan mereka untuk menyesuaikan diri dengan kondisi geografis yang juga berubah.
Penemuan fosil manusia purba termuda tersebut mampu memberikan nilai sejarah yang besar bagi bangsa Indonesia. Semoga bermanfaat. (R10/HR-Online)