Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Yayasan Matahati yang bekerjasama dengan AIDS Healthcare Foundation (AHF) mencatat ada sebanyak 383 laki-laki di Kabupaten Pangandaran memiliki kelainan orientasi seksual. Mereka adalah laki-laki yang disebut gay (homoseksual) dan lelaki suka lelaki (LSL). LSL sendiri adalah pria yang menyukai sesama jenis, tetapi masih menyukai serta dominan berhubungan heteroseksual dengan perempuan.
Manager Yayasan Matahati, Agus Abdulah, mengatakan, didatanya komunitas gay dan LSL sebagai bagian dari upaya pencegahan untuk meminimalisir penularan virus HIV/AIDS di Kabupaten Pangandaran. Karena komunitas gay dan LSL merupakan komunitas kunci yang sangat rawan dalam penularan HIV/AIDS.
“Yang sangat miris, dari jumlah 383 gay dan LSL di Pangandaran, 15 diantaranya masih berstatus pelajar. Jadi, dalam memutus rantai penyebaran HIV/AIDS, butuh peran semua pihak, terutama di lingkungan keluarga dan sekolah. Karena semakin banyak komunitas kunci, maka semakin berpotensi dalam penyebaran HIV/AIDS,” ungkapnya.
Selain itu, lanjut Agus, dari 383 gay dan LSL di Pangandaran, rata-rata mereka berumur masih muda atau sekitar umur 25 tahunan. Fakta itu, kata dia, tentunya sangat miris, karena usia produktif sangat rentan tertular HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya.
“Sementara data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran penderita HIV dari kamunitas gay dan LSL di Pangandaran sebanyak 32 orang dan 12 diantaranya sudah mengikuti program pengobatan trapy ARV secara berkala di paskes yang ada di Kabupaten Pangandaran,” terangnya.
Namun begitu, lanjut Agus, dari 383 gay dan LSL yang terdata di Pangandaran tidak semuanya warga Kabupaten Pangandaran. Karena dari hasil pengecekan identitas, lanjut dia, banyak diantara dari mereka ternyata warga luar Kabupaten Pangandaran.
“Hanya mereka beraktivitas juga di Pangandaran. Jadi, saat pendataan, mereka dimasukan. Karena yang kami bina dari sisi kesehatannya. Siapapun yang beraktivitas di Pangandaran harus kita bina agar tercegah dari penularan HIV/AIDS,” ujarnya.
Menurut Agus, perilaku seksual gay dan LSL tidak menular. Mereka yang memiliki kelainan seksual seperti itu lebih dipengaruhi dari pembawaan diri dan lingkungan pergaulan.
“Ada juga laki-laki yang menjadi gay karena memiliki riwayat pernah menjadi korban kekerasan seksual melalui dubur. Seperti pada kasus kriminal pencabulan sodomi, misalnya, banyak pelaku yang mengaku dia memiliki hasrat ingin bersetubuh dengan sesama jenis karena pernah menjadi korban yang sama,” terangnya.
Agus mengatakan, untuk mencegah perilaku seksual menyimpang seperti itu sangat dibutuhkan peran semua pihak, terutama keluarga. Karena orang yang memiliki kelainan orientasi seksual benar-benar ada dan sulit untuk dicegah.
“Sekarang tinggal bagaimana kita membina mereka. Yang harus diperangi bukan orangnya, tetapi perilakunya. Dan harus kita bantu agar mereka tidak mengekspresikan perilaku yang menyimpang tersebut,” ujarnya.
Agus mencontohkan, seperti ada salah seorang temannya yang mengaku memiliki hasrat ketertarikan seksual kepada sesama jenis. Karena temannya itu ingin mengendalikan hasrat seksual yang menyimpangnya agar tidak diekspresikan, dia memilih untuk rajin beribadah dan mendalami ilmu agama di pesantren.
“Alhamdulilah, dia bisa mengendalikan untuk tidak berperilaku yang menyimpang. Meski sebenarnya ketertarikannya menyukai sesama jenis hingga kini belum hilang. Artinya, dalam pencegahan penularan HIV/AIDS pun harus dilakukan langkah preventif dengan melakukan pendekatan kepada komunitas kunci agar mereka bisa bertobat,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pangandaran Surman, mengaku kaget ketika mendengar 15 pelajar di Kabupaten Pangandaran disebut terdata dalam komunitas gay dan LSL. “Terus terang, kami baru tahu informasi tersebut. Jelas kami kaget dan segara akan mencari kebenarannya,” katanya, Kamis (11/10/2018).
Surman menegaskan, apabila data itu ternyata benar, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan para kepala sekolah untuk melakukan pembinaan kepada pelajar yang terdata dalam komunitas gay tersebut.
“Kita punya program program Ajengan Masuk Sekolah (AMS) sebagai upaya untuk memupuk ketakwaan serta menciptakan pelajar di Pangandaran berahlak baik. Pembinaan yang kami lakukan tentu melalui pendekatan agama,” ujarnya. (Ceng2/R2/HR-Online)