Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Selama diterapkannya Program BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) di Kota Banjar, kebutuhan komoditinya (beras dan telur) disuplai oleh Bulog. Seiring dengan perkembangannya, selain oleh Bulog, dikabarkan akan ada perusahaan lain yang juga siap memasok untuk komoditinya.
Bila merujuk pada Peraturan Direktur Jenderal Penanganan Fakir Miskin Nomor 06/4/PER/HK.01/08/2018 tentang Petunjuk Teknis Mekanisme Penyaluran BPNT, yang tertera dalam lampiran Bab II Kriteria dan Persyaratan disebutkan, bahwa Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan/atau Toko Tani Indonesia (TTI) dapat menjadi salah satu pemasok bagi E-Warong dalam penyaluran BPNT.
Namun, tampaknya kondisi itu bisa berpotensi adanya persaingan bisnis antar kedua perusahaan tersebut.
Pemasok Komoditi BPNT Banjar
Menyikapi akan adanya dua pemasok komoditi program BPNT Banjar, Korteks dan TKSK selaku pendamping program BPNT memandang itu hal yang sah-sah saja. Terlebih adanya dukungan untuk regulasi tersebut.
“Akan ada dua pemasok atau distributor komoditi untuk program BPNT, memang tak menutup kemungkinan berpotensi terhadap persaingan bisnis. Tapi yang jelas, lebih dari satu pemasok pun tidak ada larangan,” terang Mumu, TKSK Kecamatan Langensari kepada Koran HR dalam acara pertemuan agen penyalur BPNT yang digagas Bulog, di salah satu rumah makan yang ada di Kota Banjar, Kamis (23/08/2018).
Secara aturan BUMN, kata Mumu, BUMDes dan TTI boleh jadi pemasok BPNT, dengan memenuhi kriteria sesuai ketentuan.
Tomy, TKSK Kecamatan Banjar, juga mengatakan, bahwa bagi pihaknya, siapa pun atau perusahaan pemasok manapun yang terpenting Keluarga Penerima Manfaat (KSM) terlayani dengan baik. Serta mendapatkan komoditi dengan kualitas baik atau sesuai standarnya.
“Bantuan senilai 110 ribu rupiah perbulan dalam Kartu Keluarga Sejahtera (KKS). Masyarakat atau KPM dapat membeli bahan pangan yang mereka butuhkan melalui agen penyalur atau E-Warong, dengan kualitas baik. Itu yang terpenting,” ucapnya.
Menurut Tomy, E-Warong selaku agen penyalur yang ditetapkan sebagai tempat pembelian BPNT. E-Waroeng dapat penyuplaian komoditinya dari perusahaan pemasok sesuai dengan kesepakatan bersama.
Ia juga menyebutkan, selama kurun waktu satu tahun lebih program BPNT Banjar berjalan. Bulog menjadi pemasok tunggal bagi 32 agen penyalur yang ditunjuk BNI.
Sekarang atau mulai bulan September 2018 mendatang, kemungkinan 32 agen penyalur menjadi terbelah. Yaitu mendapatkan penyuplaian komoditi dari Bulog dan dari perusahaan tertentu.
“Sebanyak 22 agen penyalur atau E-Warong katanya sudah menandatangani MoU dengan perusahan atau pemasok baru. Ada 10 agen penyalur masih tetap bekerjasama dengan Bulog,” kata Tomy.
Barang Harus Sesuai Ketentuan
Sementara itu, Udin, salah satu agen penyalur di Desa Cibeureum yang ikut menandatangani MoU dengan perusahaan pemasok baru. Ia meminta agar komoditi barang BPNT yang dikirim perusahaan pemasok baru harus sesuai ketentuannya.
“Ya, pokoknya dengan pemasok baru, barang yang dikirim harus sesuai kualitas ketentuannya. Semoga saja,” harap Udin.
Agen penyalur lainnya di Desa Balokang, Jajang Abdul Muis, mengaku bahwa sebenarnya ia ingin tetap bersama dengan Bulog. Sebagaimana komitmen awal dalam menerima pemasokan komoditi BPNT.
“Namun, saya beberapa hari lalu sudah disodori penandatanganan MoU oleh perusahaan tertentu itu. Ya, terpenting sekarang tidak mengganggu proses lancarnya penyaluran BPNT ke KPM seperti biasanya yang sudah berjalan,” ucap Jajang.
Basuni, yang juga selaku agen penyalur di Desa Neglasari, tidak mempermasalahkan siapa pun perusahaan pemasok BPNT. Terpenting sekarang ini Bulog dapat mematok atau menerapkan harga beras dan telur sesuai harga di pasaran.
“Bagi saya, siapapun supliernya yang penting harga beras ataupun telur untuk program BPNT ini tidak jauh dari harga di pasaran,” kata Basuni.
Terkait dengan hal tersebut, pengusaha beras mitra Bulog, H. Atang, menghimbau kepada agen penyalur program BPNT di Kota Banjar, untuk mempertimbangkan beberapa faktor terlebih dahulu. Sebelum memutuskan menerima penawaran dari perusahaan calon suplier selain Perum Bulog.
Salah satunya persediaan beras ketika menghadapi musim kemarau. Karena belajar dari pengalaman, setiap musim kemarau persediaan beras di pasaran mengalami penurunan drastis. Jika kondisinya demikian, Atang Khawatir penyaluran beras program BPNT bakal terkendala.
“Tapi saya yakin, dari pengalaman yang sudah-sudah, Bulog bisa mengantisipasi kekurangan beras. Termasuk persediaan beras untuk program BPNT,” tandas Atang. (Nanks/Koran HR)