harapanrakyat.com,- Komplek pemakaman Girilawungan, di Kelurahan Majalengka Wetan, Kecamatan/Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi banyak tokoh Majalengka. Salah satu tokoh yang makamnya ada di Girilawungan adalah Dalem Panungtun (Santowan Patra Jenar). Ia merupakan raja Sindangkasih dan juga tokoh yang menyebarkan agama Islam.
Selain Dalem Panungtun, di sana juga terdapat pula makam istri Santowan Patra Jenar yang bernama Nyimas Giri Larang.
Menurut sejarawan dan penikmat sejarah Majalengka, Nana Rohmana, di Girilawungan terdapat banyak makam figur berpengaruh lainnya. Seperti makam Mbah Kuwu Ki Surantani, kuwu pertama di Sindangkasih yang Mbah Dalem Panungtun angkat.
“Ada juga, makam atau tempat peristirahatan terakhir salah satu pendiri Lumaju Agung Maja, yaitu Patih Dalem Cucuk,” ujarnya, Kamis (3/4/2025).
Baca Juga: Situ Sangiang Majalengka, Tempat Healing yang Asri dan Segar
Selanjutnya, Nana Rohmana menerangkan di Girilawungan yang dulu juga disebut Girilarangan, terdapat juga makam-makam pemimpin Majalengka.
“RMAA Suriatanudibrata yang merupakan Bupati ke-8 Majalengka dan Bupati ke-2, RAA Kertadiningrat, yang membangun kantor Bupati Majalengka (pendopo), makamnya juga di sini,” tambahnya.
Lanjutnya menuturkan, di komplek Girilawungan terdapat beberapa bagian, salah satunya adalah Cungkup Utama atau Ring 1. Area ini menjadi tempat pemakaman tertua di kompleks tersebut, dan menjadi lokasi peristirahatan bagi para pendiri Majalengka serta para pengikutnya.
“Seiring berjalannya waktu, Girilawungan menjadi pemakaman umum. Namun, makam para tokoh Majalengka tetap tempatnya di cungkup utama yang berada di sebelah barat pemakaman. Di sini, ada banyak tempat peristirahatan terakhir pendiri Majalengka, dan pengikut Mbah Dalem Panungtun,” tutur Nana.
Asal Usul Nama Girilawungan di Majalengka
Nama Girilawungan sendiri memiliki makna historis khususnya bagi masyarakat Majalengka. Nana menjelaskan, kata “giri” bisa berarti gunung, dataran tinggi atau bukit. Sementara “lawungan” merujuk pada tempat pertemuan atau berkumpulnya orang-orang penting di masa lalu.
“Dulu, mungkin tempat ini masih berupa hutan belantara sebelum Islam masuk. Pasca Mbah Dalem Panungtun memimpin Kerajaan Sindangkasih dan Islam mulai menyebar, wilayah ini berkembang menjadi astana atau tempat pemakaman,” jelasnya.
Baca Juga: Sejarah KH Abdul Halim, Pendiri PUI Asal Majalengka
Sebagai salah satu situs bersejarah di Majalengka, Girilawungan menjadi saksi perjalanan panjang daerah ini dari masa kerajaan hingga kini. Keberadaannya tidak hanya menyimpan jejak para tokoh penting, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya dan sejarah Majalengka. (Feri Kartono/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)