harapanrakyat.com,- Momen Idul Fitri menjadi agenda penting untuk meningkatkan kondisi ekonomi Indonesia. Mengingat di sepanjang kuartal pertama tahun 2025, data perekonomian cenderung menurun.
Hal tersebut membuat Lebaran kali ini menjadi momen ‘Lebaran gelap’. Istilah ini memiliki arti bahwa perekonomian tak membaik di akhir Maret dan awal April tahun 2025.
Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tingkat konsumsi masyarakat menurun drastis. Salah satu pemicunya adalah angka PHK yang tinggi pada awal tahun ini.
Baca Juga: Gelombang PHK Terus Meningkat, Bagaimana Pemerintahan Prabowo-Gibran Mengatasi Tantangan Ini?
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, mengungkapkan, faktor-faktor lain penyebab perekonomian cenderung menurun. Lewat penjelasannya pada Rabu (26/3/2025), masyarakat bisa mendapatkan gambaran bagaimana situasi ekonomi saat ini.
Perputaran Uang Lemah, Perekonomian Cenderung Menurun
Menjelang Hari Raya Idulfitri 2025, perputaran uang cenderung melemah. Pasalnya jumlah pemudik juga menurun secara signifikan.
“Tahun lalu, asumsi perputaran uang mencapai Rp 157,3 triliun. Namun, di tahun 2025 ini jumlahnya hanya Rp 137,9 triliun,” jelasnya kepada wartawan.
Lebih lanjut Sarman mengatakan, pemicu jumlah pemudik menurun adalah jarak libur yang terlalu dekat dengan libur Natal dan Tahun Baru. Sehingga masyarakat yang sudah berlibur selama Nataru, tidak berniat untuk pulang saat Idul Fitri.
Bukan itu saja, kondisi perekonomian yang tak menentu bahkan sampai menurun membuat masyarakat cenderung melakukan penghematan. Mengingat dalam beberapa bulan kedepan sudah masuk tahun ajaran baru sekolah dan perguruan tinggi.
Adanya PHK Besar-besaran
Jumlah pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) terus meningkat di awal tahun 2025. Tercatat lebih dari 81 ribu pekerja terkena pemutusan kerja berdasarkan data dari Kemenaker.
Baca Juga: Menuju Negara Maju Tahun 2045, Menko Perekonomian: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tak Cukup 5 Persen
Semakin banyak masyarakat yang mengalami PHK, maka daya beli masyarakat semakin turun. Hal ini juga mempengaruhi kepemilikan tabungan, karena uang dalam tabungan akan digunakan untuk bertahan hidup.
Hal serupa juga didukung oleh data dari Ekonom Agus Santoso. Menurutnya, masyarakat tak akan memiliki daya beli untuk berbelanja. “Memang ada indikasi konsumsi masyarakat di Lebaran kali ini cenderung defensif,” ujarnya.
Realita di lapangan, banyak pusat perbelanjaan memang tak seramai biasanya. Hal ini menjadi penanda bahwa masyarakat tengah menghemat pengeluaran menjelang momen Lebaran. (Revi/R3/HR-Online/Editor: Eva)