Setiap orang pasti pernah merasa tidak diperlakukan dengan adil. Kadang, meski sudah berbicara, tidak ada yang mendengarkan. Tapi bayangkan jika keluhan Anda langsung Allah SWT jawab. Inilah yang terjadi pada kisah Khaulah binti Tsa’labah.
Baca Juga: Kisah Nabi Samson dalam Islam, Sosok yang Memiliki Kekuatan Luar Biasa
Khaulah mengalami ketidakadilan dari suaminya dan berjuang untuk mendapatkan haknya. Kisahnya menjadi bukti bahwa suara perempuan juga berharga di mata Allah. Kisahnya dapat menjadi inspirasi kaum wanita sampai dengan masa sekarang.
Kisah Khaulah binti Tsa’labah, Teguh Memperjuangkan Haknya
Khaulah binti Tsa’labah adalah seorang perempuan dengan wajah menawan, tutur kata yang indah, dan kefasihan berbicara. Ia merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal karena keistimewaannya.
Nama lengkapnya adalah Khaulah binti Tsa’labah bin Ashram bin Fihr bin Ghanam bin Auf. Ia menjadi sosok yang dihormati karena pengaduannya kepada Nabi Muhammad SAW sampai didengar di langit ketujuh. Kejadian ini menjadikannya figur yang disegani, bahkan oleh Umar bin Khattab.
Khaulah adalah istri dari Aus bin As-Shamit bin Qais, seorang pejuang yang turut serta dalam perang Badar, Uhud, serta berbagai pertempuran lainnya.
Khaulah binti Tsa’labah adalah seorang perempuan yang tidak mudah menyerah. Ia menikah dengan Aus bin As-Shamit, seorang sahabat Nabi yang lebih tua darinya. Suaminya memiliki sifat pemarah dan terkadang berkata kasar.
Suatu hari, suaminya marah dan mengucapkan kata-kata yang membuatnya terluka. Ia menyamakan Khaulah dengan punggung ibunya, yang dalam tradisi Arab berarti talak. Namun, setelah sadar akan perkataannya, suaminya menyesal dan ingin rujuk kembali.
Khaulah tidak terima diperlakukan semena-mena oleh suaminya. Ia tahu bahwa perkataan suaminya memiliki konsekuensi besar. Ia ingin mencari keadilan dan memastikan tidak ada perempuan lain yang mengalami hal yang sama.
Datang Mengadu kepada Rasulullah
Kisah Khaulah binti Tsa’labah setelahnya, ia tidak tinggal diam. Ia mendatangi Rasulullah untuk meminta solusi atas masalahnya. Ia ingin tahu apakah pernikahannya masih sah atau sudah berakhir karena ucapan suaminya.
Rasulullah mendengarkan keluhannya dengan penuh perhatian. Namun, beliau tetap mengatakan bahwa dalam hukum yang berlaku saat itu, ucapan suaminya termasuk talak. Artinya, ia harus berpisah dari suaminya tanpa ada jalan untuk kembali.
Mendengar itu, Khaulah merasa tidak puas. Ia tidak ingin kehilangan rumah tangganya hanya karena ucapan yang diucapkan dalam kemarahan. Ia yakin bahwa Allah memiliki keadilan yang lebih baik.
Doa yang Menggetarkan Langit
Dalam kisah Khaulah binti Tsa’labah, ia tidak hanya mengadu kepada Rasulullah. Ia berdoa langsung kepada Allah dengan penuh ketulusan. Ia menangis dan memohon agar ada jalan keluar dari permasalahannya.
Allah mendengar pengaduannya dan langsung menurunkan wahyu kepada Rasulullah. Surah Al-Mujadilah ayat 1–4 menjadi jawaban atas keluhan Khaulah. Dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa dhihar bukanlah talak. Namun, suami yang melakukannya harus membayar kafarat sebelum bisa kembali kepada istrinya.
Setelah menerima wahyu, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Suruhlah suamimu membebaskan seorang budak.”
Khaulah menjawab, “Demi Allah, wahai Rasulullah, ia tidak memiliki biaya untuk membebaskan seorang budak.”
Nabi Muhammad SAW kemudian bersabda, “Jika demikian, suruhlah ia berpuasa selama dua bulan berturut-turut.”
Khaulah kembali berkata, “Demi Allah, ia sudah tua dan tidak mampu melakukannya.”
Lalu, Nabi SAW bersabda, “Maka, suruhlah dia memberi makan kepada 60 orang miskin dengan kurma.”
Khaulah pun menjawab, “Wahai Rasulullah, dia tidak memiliki makanan sebanyak itu.”
Mendengar hal itu, Nabi SAW berkata, “Kami akan membantumu dengan serangkai kurma.”
Dengan penuh kebahagiaan, Khaulah berkata, “Wahai Rasulullah, aku juga akan membantunya dengan serangkai kurma lagi.”
Nabi Muhammad SAW pun bersabda, “Engkau telah berbuat baik. Pergilah dan sedekahkan kurma itu untuknya. Kemudian, perlakukanlah suamimu dengan baik.”
Maka Khaulah pun melaksanakan perintah Rasulullah dengan penuh keikhlasan.
Baca Juga: Kisah Nabi Isa dan Tiga Orang Serakah, Gambaran agar Tidak Tertipu Urusan Dunia
Khaulah akhirnya mendapatkan keadilan yang ia harapkan selama ini. Suaminya harus menjalani hukuman yang telah Allah SWT tetapkan sebelum mereka bisa bersama kembali. Perjuangannya menjadi pelajaran bagi banyak orang tentang kekuatan doa dan keadilan Allah.
Pelajaran Berharga dari Kisahnya
Kisah Khaulah binti Tsa’labah mengandung banyak pelajaran yang relevan hingga kini. Salah satunya adalah hak perempuan untuk memperjuangkan keadilan. Khaulah tidak membiarkan dirinya diperlakukan tidak adil oleh suaminya.
Ia tidak diam atau pasrah, tetapi mencari solusi dengan cara yang benar. Ini menjadi bukti bahwa perempuan memiliki hak untuk menyuarakan pendapat dan meminta perlindungan dari ketidakadilan.
Selain itu, kisah ini menunjukkan bahwa doa adalah senjata paling kuat. Khaulah tidak hanya mengadu kepada Rasulullah, tetapi juga langsung berdoa kepada Allah. Ketika semua jalan tampak buntu, ia tetap percaya bahwa Allah pasti memiliki jawaban terbaik. Keajaiban pun terjadi, dan wahyu turun sebagai jawaban atas doanya. Ini menjadi bukti bahwa doa yang tulus tidak pernah sia-sia.
Pelajaran lain dari kisah Khaulah binti Tsa’labah adalah keadilan dalam Islam. Allah tidak membiarkan seseorang diperlakukan semena-mena tanpa konsekuensi. Suami Khaulah tidak bisa begitu saja kembali tanpa membayar kafarat yang Allah tetapkan. Ini menunjukkan bahwa hukum dalam Islam memberikan keseimbangan antara hak dan tanggung jawab.
Khaulah binti Tsa’labah, Inspirasi Kaum Perempuan
Khaulah binti Tsa’labah adalah contoh perempuan yang tidak diam saat mengalami ketidakadilan. Ia berani berbicara dan memperjuangkan haknya dengan cara yang benar. Kisahnya membuktikan bahwa setiap suara bisa didengar, terutama oleh Allah.
Pelajaran dari kisah ini tetap relevan hingga sekarang. Banyak perempuan yang masih berjuang untuk mendapatkan haknya. Khaulah menunjukkan bahwa dengan keteguhan dan doa, keadilan pasti akan datang.
Baca Juga: Kisah Nabi Zulkifli, Raja yang Tahan terhadap Godaan Iblis
Semoga kisah Khaulah binti Tsa’labah menjadi inspirasi bagi siapa saja yang sedang memperjuangkan haknya. Tidak ada usaha yang sia-sia, terutama jika dilakukan dengan ketulusan. Kisah inspiratif ini dapat menjadi motivasi kaum perempuan untuk bisa memperjuangkan hak-haknya dalam kehidupan. (R10/HR-Online)