harapanrakyat.com,- Empat pelaku pengedar obat terlarang spesialis COD berhasil diringkus Polsek Sukaratu di Kampung Padahurip, Desa Gunungsari, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Senin (13/1/2025).
Keempat pelaku ini insilan I alias G (38), SY (28) , RH (40), dan FA (21). Mereka berasal dari Tasikmalaya.
Sementara itu, polisi juga berhasil mengamankan barang bukti dari para pelaku, seperti pil eksimer, double Y, tramadol, dan trihex.
Sedangkan rincian total barang buktinya, 45 paket pil warna kuning eksimer isi tiga butir dengan total jumlah 135 butir, lalu 44 paket pil double Y 132 butir, 10 strip tramadol 100 butir. Lalu 3 strip Trihex 30 butir, 22 strip dengan total 220 butir, 5 strip Trihex dengan isi 50 butir.
Kemudian, 100 paket pil warna kuning eksimer dengan jumlah 300 butir, 150 double Y dengan jumlah 450 6 paket dekstro 36 butir, 7 paket pil eksimer jumlah 21 butir, 54 paket pil putih (double Y) 162 butir, 8 butir tramadol, 62 paket double Y isi 186 butir dan empat handphone serta dua unit motor matic jenis Yamaha Mio.
“Empat terduga pelaku pengedar obat terlarang, berhasil kami amankan,” kata Kasi Humas Polres Tasikmalaya Kota Iptu Jajang Kurniawan.
Penangkapan Pengedar Obat Terlarang
Penangkapan tersebut, lanjut Jajang, awalnya dari informasi masyarakat terkait peredaran obat terlarang di wilayahnya. Kemudian ketika pihaknya menelusuri terdapat empat pelaku yang kerap mengedarkan ke sejumlah pembelinya.
Bahkan, saat interogasi para pelaku mengakui telah berjualan obat-obatan terlarang itu sudah berlangsung selama 3 bulan.
“Untuk obat itu, pelaku menjual kepada pelanggan dengan isi 3 butir dengan rata-rata harga kisaran Rp 10 ribu. Adapun obat-obatan ini berasal dari warga asal Aceh,” jelasnya.
Pelaku mendapatkan barang berupa obat-obatan terlarang tersebut dari SL alias A asal Aceh dengan cara COD bertemu di tempat tertentu.
“Pelaku pun menjual obat-obatan ini secara COD. Awalnya janjian dulu melalui pesan WhatsApp dan bertemu di tempat tertentu antara si pelaku dan si pembeli,” ujarnya.
Keuntungan dari menjual obat-obatan, para pelaku diberikan 10 persen. Pihaknya pun masih terus melakukan pengembangan sekaligus mengejar pemasok obat terlarang tersebut. (Apip/R6/HR-Online)