Sejarah Masjid Syuhada Yogyakarta berawal dari tidak adanya akses ibadah bagi umat Islam di Kotabaru, Yogyakarta. Padahal, di wilayah tersebut berdiri sebuah bangunan gereja HKBP Kotabaru. Atas dasar tersebut, dibangunlah Masjid yang sampai saat ini masih berfungsi sebagai pusat syiar agama Islam.
Baca Juga: Sejarah Uang di Indonesia dari Masa ke Masa
Sejarah Masjid Syuhada Yogyakarta Bentuk Hadiah untuk Masyarakat
Selama masa pendudukan Belanda di Jakarta, Yogyakarta ditetapkan sebagai Ibu Kota Revolusi Indonesia. Salah satu bentuk penghormatan terhadap rakyat Yogyakarta atas kontribusi dan dedikasi mereka dalam perjuangan melawan penjajah adalah pembangunan Masjid Syuhada.
Masjid ini didirikan sebagai simbol apresiasi bagi semangat perjuangan dan pengorbanan rakyat Yogyakarta dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Seputar Masjid Syuhada
Masjid Syuhada menjadi bangunan bersejarah yang berdiri di Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Syuhada pada nama Masjid, memiliki makna penghargaan kepada pejuang yang gugur semasa Revolusi Nasional Indonesia.
Dulunya, lokasi pendirian Masjid merupakan markas bagi orang-orang Belanda saat melakukan penjajahan di Nusantara. Di samping itu, lokasi tersebut juga merupakan tempat petinggi Indonesia dan orang Tionghoa saat menerima pendidikan ala barat.
Pada lantai utama Masjid, terdapat lima lubang ventilasi pada mihrab. Jumlah tersebut menjadi simbol rukun islam yang terdiri dari lima hal yaitu, syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji bagi yang mampu.
Di samping itu, terdapat 20 ventilasi udara di bagian lantai utama Masjid. Hal tersebut merupakan simbol penting dari 20 sifat Allah SWT.
Sejarah Masjid Syuhada
Adanya Masjid Syuhada berawal dari kegiatan pengajian yang berada di rumah Moch. Joeber Prawiroyuwono. Pengajian tersebut berlangsung setelah mundurnya Belanda dari Yogyakarta, serta menjelang pemindahan ibu kota negara dari Yogyakarta ke Jakarta.
Pada masa pendudukan Belanda, lapangan Kridosono di Kotabaru menjadi salah satu wilayah yang dimonopoli. Padahal, wilayah tersebut merupakan lapangan sepak bola terbesar di Yogyakarta.
Belanda menggunakan lapangan tersebut untuk kepentingan sepak bola negaranya yang bernama Voetbalbond Djokja (VDB). Kendati demikian, rakyat pribumi tidak mendapatkan izin untuk masuk ke area tersebut.
Setelah masa pendudukan Jepang, keadaan menjadi berubah. Jepang berhasil mengusir Belanda dan berupaya untuk mengambil hati rakyat Indonesia.
Jepang memberikan kesempatan kepada rakyat pribumi untuk memanfaatkan fasilitas lapangan sepak bola. Saat itu, rakyat bebas menggunakan lapangan sebagai sarana hiburan menonton pertandingan sepak bola.
Baca Juga: Kisah Letnan Merpati Anumerta yang Membuat Belanda Kewalahan
Suatu ketika, terjadi percakapan antara Muhammad Muammal dan H.M Syuja’ ketika sedang menyaksikan pertandingan. Saat itu, sudah tiba waktu ashar, namun keduanya kesulitan untuk mencari tempat ibadah.
Kedua tokoh tersebut lupa bahwa di daerah Kotabaru belum tersedia fasilitas Masjid. Bahkan, Gereja Kristen Batak Protestan di sekitar lokasi tersebut sempat dijadikan sebagai Masjid jami’ untuk pelaksanaan shalat Jumat.
Karena hal tersebut, beberapa tokoh sepakat untuk membangun Masjid di Kotabaru. Sejarah Masjid Syuhada Yogyakarta ini, juga sebagai bentuk hadiah dari pemerintah untuk rakyat Yogyakarta, atas dedikasinya dalam melawan penjajahan Belanda..
Proses Pembangunan Masjid Syuhada
Pembangunan Masjid Syuhada berlangsung dengan lancar di bawah kepemimpinan Mr. Assaat. Saat itu, Mr. Assaat membentuk tujuh belas panitia yang diresmikan oleh Menteri Agama RI Kabinet Hatta, K.H. Masjkur.
Nama Masjid Syuhada merupakan gagasan dari salah satu pemuda muslim asal Yogyakarta, Haji Benjamin. Awalnya, ia mengusulkan nama “Masjid Peringatan Syuhada” yang kemudian menjadi “Masjid Syuhada”.
Setelah sepakat mengenai nama Masjid, panitia 17 kemudian menyusun organisasi untuk mempersiapkan pembangunan Masjid. Susunan organisasi tersebut terdiri dari badan tertinggi, direksi, opzichter, dan penasehat teknik.
Selanjutnya, panitia menyusun lokasi yang tepat untuk pendirian Masjid. Saat itu, tersedia tiga pilihan lokasi yaitu, lapangan Widoro, lapangan sebelah barat SMA Negeri 3 Yogyakarta, dan tanah bangunan gedung dinas purbakala.
Setelah berdiskusi, panitia memutuskan opsi ketiga sebagai lokasi pembangunan sejarah Masjid Syuhada Yogyakarta. Lokasi pembangunan tersebut, berada di antara jalan Batanawarsa, Kali Code, dan Tidar.
Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya pembangunan Masjid selesai pada 20 September 1952. Peresmian Masjid ini, dihadiri oleh beberapa tokoh penting seperti, Presiden Soekarno, para menteri, dan duta besar negara Islam.
Baca Juga: Sejarah Kampung Arab di Puncak Bogor, dari Sindrom Cinderella Complex hingga Komodifikasi Perempuan
Sejarah Masjid Syuhada Yogyakarta berdiri karena tidak adanya akses ibadah bagi umat islam di Kotabaru. Di samping itu, pendirian masjid juga menjadi bentuk hadiah dari pemerintah kepada masyarakat Yogyakarta. (R10/HR-Online)