harapanrakyat.com,- Indeks daya beli masyarakat pada sejumlah kebutuhan pangan di Kota Banjar, Jawa Barat, mengalami penurunan harga atau deflasi. Bahkan, secara bulanan minus 2,32% persen.
Sebelumnya pada pada bulan Juli dan Agustus lalu juga mengalami deflasi 0,04 persen berdasarkan data indeks perkembangan harga.
Kepala Bagian Ekonomi dan Pembangunan Setda Kota Banjar, Tatang Nugraha mengungkapkan kondisi deflasi tersebut, Senin (7/10/2024.
Baca juga: Langkah Pemerintah Turunkan Angka Stunting di Kota Banjar
Ia mengatakan, berdasarkan indeks perkembangan harga (IPH) Kota Banjar sampai dengan minggu ke 4 September, secara bulanan Kota Banjar minus 2,32 persen atau deflasi dan inflasi secara tahunan 1,79 persen.
Penyebab Komoditas Alami Deflasi
Kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan Kota Tasikmalaya. Pada bulan September, wilayah tersebut mengalami deflasi 0,08 persen month to month (mtm) dan secara tahunan (YoY) inflasi sebesar 1,72 persen.
“Sampai dengan minggu keempat bulan September IPH Kota Banjar yaitu -2,32 persen atau deflasi,” kata Tatang Nugraha.
Lanjutnya menyebut, sejumlah komoditas yang berkontribusi terhadap deflasi tersebut di antaranya komoditas cabai rawit, telur ayam ras, daun bawang, bahan bakar rumah tangga (gas) dan cabai merah.
Di sisi lain, deflasi ini lebih dalam tertahan oleh peningkatan harga (inflasi) pada komoditas kopi bubuk, daging ayam ras, emas perhiasan, nasi dan lauk.
“Secara umum deflasi ini karena penurunan harga komoditas cabai rawit, telur ayam ras, daun bawang, bahan bakar rumah tangga dan cabai merah,” katanya.
Lanjutnya mengatakan, kondisi deflasi terjadi karena faktor daya beli masyarakat pada sejumlah komoditas pangan menurun.
Penurunan daya beli tersebut menurutnya imbas positif dari adanya gerakan pasar murah pemerintah kota untuk menekan stabilitas harga supaya inflasi tidak begitu tinggi.
Ia mengklaim, penurunan permintaan pasar (deflasi) sejumlah komoditas pangan di atas tidak sampai berdampak pada produksi hasil pertanian. Ketersediaan barang di tingkat pasar juga terpenuhi.
“Ketersediaan barang sampai saat ini mencukupi. Harga komoditas pangan juga cenderung stabil dan lebih murah jika kita bandingkan dengan kabupaten/kota lain di Priangan Timur,” katanya.
“Jadi kondisi deflasi ini ini lebih karena permintaan pasar saja yang sedang turun,” katanya menambahkan. (Muhlisin/R6/HR-Online)