Siapa yang tak mengenai Dwi Koendoro Brotoatmodjo? Seorang kartunis yang karyanya selalu menghiasi kolom komik Koran Kompas.
Laki-laki kelahiran Kota Banjar, Jawa Barat ini terkenal sebagai seorang kartunis yang multitalenta. Salah satu karyanya adalah Komik Panji Koming.
Komik Panji Koming merupakan karya Dwi Koendoro yang rilis sejak tahun 1979. Komik dengan humor yang khas dan satire politik ini selalu menghiasi Koran Kompas di hari minggu.
Gaya kritikan dalam bentuk analogi ini merupakan cara Dwi Koendoro untuk menyampaikan kritikan kepada rezim Orde Baru yang terkenal dengan sikap anti kritiknya.
Baca Juga: Raden Siti Jenab, Pejuang Emansipasi Perempuan di Cianjur
Profil Dwi Koendoro Brotoatmodjo
Mengutip dari majalah, “AN1MAGINE Volume 4 Nomor 3 Maret 2019” (2019), Dwi Koendoro Brotoatmodjo atau yang lebih sering dipanggil Dwi Koen lahir di Banjar, Jawa Barat pada 3 Mei 1947.
Dwi Koen menghabiskan masa-masa sekolah dasarnya di Sekolah Rakyat yang ada di Bandung. Pasca menamatkan pendidikannya di Bandung ia kemudian melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama di Surabaya, Jawa Timur.
Masa kuliah Dwi Koen dihabiskan di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI)-ASRI Yogyakarta atau yang dikenal dengan ISI Yogyakarta. Dwi Koen masuk ke ASRI pada sekitar tahun 958 dan lulus pada tahun 965.
Pada awalnya ia masuk ke jurusan seni lukis, namun Dwi Koen menuturkan bahwa itu bukanlah minatnya. Ia pun memutuskan untuk pindah ke jurusan ilustrasi grafik.
Sebelum berkuliah Dwi Koen sebenarnya sudah aktif membuat komik strip di Majalah Teratai Jakarta pada tahun 1957.
Ketika masa-masa perkuliahan tersebutlah Dwi Koen aktif dalam membuat komik strip di Kedaulatan Rakyat dan Koran mingguan Minggu Pagi Yogyakarta.
Bakat dari Dwi Koen ini sebenarnya sudah bisa dilacak sejak masa sekolah dasar. Ia sudah sering membuat komik yang kala itu sering dibaca oleh saudara dan teman-temannya.
Bakatnya ini agaknya diturunkan dari ayahnya R. Soemantri Brotoatmodjo yang merupakan sarjana teknik dengan gambar-gambar teknik yang sering dibuatkan. Sementara ibunya merupakan seorang perias pengantin. Selain itu, paman dari pihak ibunya juga merupakan orang yang memiliki keterampilan menggambar.
Karena bakat inilah, orang tuanya memasukkan Dwi Koen ke sanggar Cipta Panca Angkasa. Pelukis Herman yang merupakan tetangganya di Bandung mengasah bakat Dwi Koen di Sanggar Cipta Panca Angkasa.
Baca Juga: Sejarah Kampung Arab di Puncak Bogor, dari Sindrom Cinderella Complex hingga Komodifikasi Perempuan
Kartunis Multitalenta
Meskipun merupakan salah satu tokoh terkenal, namun orang mengenal Dwi Koen sebagai sosok yang rendah hati.
Jaya Suprana dalam, ‘’Umberto Eco dan Pembaca yang Berkeringat” (2022) menyebut sosok Dwi Koen merupakan pribadi yang rendah hati.
Tak hanya itu, ia juga selalu berupaya tersenyum dan menyemangati kartunis dan karikaturis muda. Ia selalu memberikan kebahagiaan melalui karya-karya kartun, karikatur, komik, hingga film animasi.
Tak mengherankan apabila pada tahun 1976 ia kemudian bekerja di Kompas Gramedia pada bagian artistic dan illustrator.
Selain terkenal sebagai sosok kartunis, Dwi Koen juga sering merangkap sebagai penulis cerita, ilustrasi, dan animasi. Sehingga tak heran apabila orang mengenalnya sebagai kartunis yang multitalenta.
Namun, jarang orang mengetahui sosok Dwi Koen juga merupakan produser dan sutradara film.
Sosok Dwi Koen yang selalu menginspirasi dan siap membimbing inilah yang membuat banyak orang merasakan kehilangan yang mendalam setelah kepergiannya.
Kartunis yang Khas
Mengutip dari, “Bunga yang Tak Dikehendaki: Senarai Kisah-Kisah Manusiawi” (2020), Dwi Koen membuat komiknya dengan sederhana, jelas, dan lugas menyampaikan sindiran.
Tak hanya itu, orang mengenalnya sebagai kartunis yang memiliki ide cerita yang khas. Karakter yang ia buat lucu dan juga menarik. Sehingga tak mengherankan apabila karya-karya beliau menjadi inspirasi banyak orang.
Selama proses pembuatanya komik pun Dwi Koen seringkali membuat gambar secara manual. Salah satu contohnya adalah ketika Dwi Koen mengisi komik strip di majalah Humor tahun 1980-1990 an.
Pada komik yang memuat tokoh “Sawung Kampret” dan “Setrum” tersebut ia gambar secara manual dengan pensil dan kuas bertinta hitam. Cara-cara ini pun yang ia gunakan ketika membuat Komik Panji Koming.
Baca Juga: Menguak Sejarah Nyai Subang Larang Istri Prabu Siliwangi
Dwi Koen mulai menggunakan media digital sekitar tahun 2010, yaitu ketika penyakit stroke menyerang dirinya. Bahkan hingga di akhir-akhir hidupnya Dwi Koen tetap produktif membuat komik. (Azi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)