harapanrakyat.com,- Angka Prevalensi kasus stunting di Kota Banjar, Jawa Barat, terus mengalami penurunan sejak tiga bulan terakhir di tahun 2024.
Penurunan tersebut berkat kerja sama pemerintah dan seluruh stakeholder yang terlibat dalam pencegahan kasus stunting di Kota Banjar.
Hal itu terungkap saat DPPKB Kota Banjar, melakukan Rembug Stunting Tingkat Kota Banjar Tahun 2024, di Aula Somahna Bagja Dibuana, Selasa (1/10/2024). Rembug tersebut mengusung tema Bebas Stunting untuk Generasi Emas 2045 Melalui Kota Banjar Gaspol Aja Menuju Generasi Sehat dan Cerdas.
Pj Wali Kota Banjar, Ida Wahida Hidayati mengatakan, percepatan penurunan angka stunting merupakan tanggung jawab semua pihak, baik pemerintah, swasta, dan lintas sektoral.
“Melalui Gaspol Aja, kita targetkan Kota Banjar bebas stunting untuk generasi emas 2045. Sehingga ini perlu komitmen dan kerja sama semua pihak,” kata Ida Wahida Hidayati.
Baca Juga: Jumlah Kasus Stunting di Kota Banjar Turun, Sempat Naik 4,34 Persen
Menurutnya, persoalan stunting ini sudah menjadi agenda pembangunan nasional, dan Kota Banjar termasuk salah satu daerah prioritas.
Ia menjelaskan, hal tersebut menjadi tugas berat bagi pemerintah daerah terutama untuk melaksanakan aksi konvergensi.
“Saya meminta seluruh perangkat daerah dan stakeholder untuk melakukan inovasi dalam percepatan penurunan angka stunting dan pencegahan stunting di Kota Banjar,” jelasnya.
Berapa Angka Stunting di Kota Banjar?
Terpisah, Kepala DPPKB Kota Banjar, Budi Hendrawan menyampaikan, berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 angka stunting di Banjar, berada di 19,3 persen. Sedangkan, hasil Survei Kesehatan Indonesia di tahun 2023 menjadi 23,6 persen.
Sedangkan, berdasarkan perhitungan EPPGM, prevelensi stunting di Kota Banjar tahun 2023 sebesar 7,15 persen dan mencapai 5.89 persen pada bulan Agustus 2024.
“Peningkatan 4,3 persen dari tahun sebelumnya, menjadi tantangan berat buat kami di tahun 2024, dengan target nasional maupun provinsi di angka 14 persen,” katanya.
Budi menerangkan, penyebaran angka stunting di Kota Banjar, hampir rata menyeluruh di semua desa dan kelurahan. Sehingga belum ada wilayah desa dan kelurahan yang bebas stunting.
“Jadi di Banjar belum ada desa maupun kelurahan yang bebas stunting, hampir merata semua wilayah desa/kelurahan ada angka stunting,” terangnya.
Baca Juga: DKPP Jawa Barat Pantau Langsung Uji Coba Program Makan Bergizi di Sumedang
Lebih lanjut menambahkan, bahwa wilayah paling sedikit ada di angka 6 kasus stunting, itu berada di Desa Cibeureum, Kelurahan Situ Batu, dan Desa Neglasari.
Sedangkan, untuk yang paling banyak berdasarkan hasil dari laporan rutin sampai bulan Agustus berada di wilayah Kelurahan Hegarsari.
“Memang yang namanya stunting itu bukan penyakit. Tetapi merupakan dampak dari permasalahan yang tentunya banyak penyebabnya, baik faktor ekonomi, lingkungan, maupun ada penyakit infeksi penyerta lainnya,” ungkapnya.
Sehingga, untuk penanganan stunting tersebut dilakukan intervensi spesifik, di mana dalam hal itu mengarah ke pelayanan yang sudah terjangkit.
Kemudian, dalam pencegahan terjadinya kasus stunting baru dilakukan intervensi sensitif yang melibatkan semua leading sektor.
“Karena dalam multi sektor ini ada perannya masing-masing untuk menurunkan angka stunting,” pungkasnya.
Apa Saja yang Sudah Pemkot Banjar Lakukan untuk Turunkan Stunting?
Banyak hal yang telah dilakukan Pemerintah Kota Banjar dalam percepatan penurunan stunting, dalam hal intervensi sensitive melalui beberapa inovasi. Di antaranya:
Gerakan Edukasi Parenting dan Kecukupan Asupan Gizi Sehat (Gending Kaasih). Sebuah inovasi gerakan parenting dan sosialisasi peningkatan kecukupan gizi sehat bagi keluarga untuk para kader, tutor PAUD. Kemudian, Tim Penggerak PKK tingkat kecamatan dan desa/kelurahan, serta untuk keluarga yang memiliki anak remaja, ibu hamil, anak balita. Inovasi ini dilaksanakan di 5 desa/kelurahan yang menjadi lokus prioritas percepatan penurunan angka stunting di Kota Banjar tahun 2023.
Sabibilulungan Ngawangun Jamban Keluarga (Saling Ngajaga). Inovasi membangun jamban keluarga untuk keluarga risiko stunting. Adapun yang menjadi lokus percepatan penurunan stunting di Kota Banjar pada tahun 2023, Neglasari, Situbatu, Purwaharja, Pataruman, dan Muktisari.
Anting Berlian (Atasi Stunting berikan Kepedulian), oleh Kecamatan Purwaharja bersama desa/kelurahan di wilayah Kecamatan Purwaharja.
Kakaren Centing (Keluarga Keren cegah Stunting), diinisiasi oleh Desa Langensari kecamatan Langensari.
Misting (Makanan Hari Senin Tambahan Gizi Indikasi Stunting), inisasi oleh Kelurahan Mekarsari Kecamatan Banjar.
Basuh Anting (Bapa Asuh Atasi Stunting) Kelurahan Karangpanimbal Kecamatan Purwaharja yang menjadi inisiasinya.
Kencleng Cebu (Kencleng Cukup sarebu), inovasi dari Kelurahan Karangpanimbal.
Tumbila Peuting (Turut Membangun dengan Infak Sukarela Atasi Stunting) yang merupakan inovasi dari DPMD.
Wajah Kamu Bikin Gemes (Warga Banjar Cegah Kawin Muda Biang Miskin Generasi Minim Prestasi) DPPKB Kota Banjar yang menjadi inisiasi inovasi tersebut.
Kerja Sama dengan Pihak Lain untuk Turunkan Angka Stunting di Kota Banjar
Selain itu, dalam optimalisasi intervensi terhadap percepatan penurunan stunting, Pemkot Banjar bersama TPPS, bekerja sama dengan Polri dan IDI. Kerja sama tersebut di 4 desa/kelurahan yang tersebar di 4 kecamatan Kota Banjar. Kemudian, berlanjut di desa/kelurahan lokus percepatan penurunan stunting Pemerintah Kota Banjar tahun 2024.
Baca Juga: Dinkes Ciamis Ajak Remaja Cegah Anemia Penyebab Stunting
Selain itu juga, peran Bapak/Ibu Asuh Anak Stunting (BAAS), kontribusi Baznas sebagai badan amil zakat nasional di Kota Banjar. Selanjutnya, kontribusi kecamatan dan desa/kelurahan percepatan penurunan angka stunting di Kota Banjar.
Cegah stunting menjadi sangat penting, karena dampak yang ditimbulkan sangat merugikan bagi keberlangsungan generasi Indonesia yang hebat dan cerdas. (Sandi/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)