Cara budidaya daun mint sebenarnya tidak sulit. Mint adalah salah satu tumbuhan yang sangat orang cari karena menghasilkan menthol, yang kita rasakan dalam permen hingga obat batuk. Meskipun bukan tanaman asli Indonesia, mint berasal dari daerah subtropis Mediterania.
Penyebarannya ke Asia diperkirakan dari Eropa, khususnya oleh orang Spanyol ke Semenanjung Malaya dan Singapura. Sejak tahun 1500 M, mint telah masyarakat budidayakan di berbagai negara seperti AS, Inggris, Prancis, Rusia, Jepang, dan lainnya.
Baca Juga: Budidaya Rumput Pakchong Membuka Peluang Raih Cuan
Kebutuhan pasar terhadap mint terus meningkat. Dengan lebih dari 600 jenis mint yang populer di seluruh dunia, namun yang paling terkenal adalah peppermint dan spearmint.
Cara Budidaya Daun Mint dalam Pot dengan Mudah
Untuk menanam daun mint dalam pot, beberapa langkah harus Anda perhatikan agar pertumbuhannya optimal. Pertama, pastikan lahan yang Anda gunakan sesuai. Daun mint tumbuh baik di daerah lembab dengan ketinggian 150-900 meter di atas permukaan laut.
Namun, jika ingin menanam di dataran rendah, jenis mint arvensis lebih cocok. Tanah yang Anda pilih harus gembur, subur, serta memiliki drainase baik. Tingkat keasaman tanah (pH) yang ideal adalah 5,5-7,0, dengan curah hujan tahunan 2000-4000 mm.
Persiapan Bibit
Bibit daun mint dapat Anda beli di toko pertanian atau Anda perbanyak sendiri. Jika memilih membuat bibit sendiri, pilih tanaman dewasa sebagai indukan. Potong bagian atas tanaman sekitar 1 cm dari percabangan dengan gunting tajam.
Kemudian, masukkan potongan tangkai daun mint ke dalam gelas berisi air untuk merangsang pertumbuhan akar. Letakkan di tempat hangat hingga akar mulai tumbuh, lalu pindahkan ke pot.
Penanaman
Cara budidaya daun mint selanjutnya ialah proses penanaman. Untuk menanam mint dalam pot, siapkan media tanam yang terdiri dari campuran pupuk kandang dan tanah.
Masukkan media tersebut ke dalam pot hingga 3/4 bagian dan biarkan selama 4-5 hari sebelum menanam bibit. Jika akar bibit terlalu panjang, pangkas sedikit sebelum menanamnya.
Perawatan
Perawatan daun mint mencakup penyiraman, pemupukan, penyiangan, penyulaman, serta pengendalian hama dan penyakit.
- Lakukan penyiraman sekali sehari atau sesuai kondisi media tanam. Penyiraman yang kurang akan membuat tanaman kering dan mati.
- Gunakan pupuk organik atau anorganik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Pupuk kandang dengan dosis 30 ton/ha bisa Anda gunakan sebagai pupuk organik. Untuk pupuk anorganik, gunakan Urea, SP-36, dan KCL masing-masing 150 kg/ha. Pemupukan organik bisa Anda lakukan seminggu sekali, sementara pemupukan anorganik Anda berikan pada usia tanaman 2-3 minggu (1/2 dosis Urea dan dosis penuh SP-36 dan KCL), serta pada usia 1-2 bulan (1/2 dosis Urea).
Baca Juga: Budidaya Selada Merah, Tanaman Hidroponik yang Kaya Manfaat
- Cara budidaya daun mint berikutnya yaitu lakukan penyiangan satu minggu sekali atau saat gulma mulai tumbuh tebal. Intensifkan penyiangan menjelang masa panen.
- Ganti tanaman yang mati atau tidak tumbuh dengan rutin.
- Hama yang umum menyerang daun mint termasuk ulat pemakan daun dan tungau merah. Ulat memakan daun dengan mengikis bagian daun, sementara tungau menghisap cairan tanaman. Untuk pengendalian, gunakan insektisida nabati dengan konsentrasi 5 cc/L atau insektisida sintetis 2 cc/L.
Pemanenan
Daun mint dapat Anda panen setelah berusia 3-4 bulan atau ketika 50%-70% tanaman berbunga. Waktu terbaik untuk memanen adalah pagi hari antara pukul 08.00-10.00 WIB. Di Indonesia, daun mint biasanya dipanen dua kali setahun, namun dengan sistem irigasi yang baik, panen bisa dilakukan hingga tiga kali setahun.
Peluang Usahanya
Cara budidaya daun mint yang mudah ini menawarkan peluang usaha menjanjikan karena berbagai manfaat yang dimilikinya. Tanaman ini terkenal sebagai penghasil minyak atsiri dan sering digunakan sebagai bahan obat berkat khasiatnya yang melimpah.
Selain memberikan efek segar saat kita konsumsi, daun mint mengandung vitamin C, provitamin A, fosfor, kalsium, dan potasium. Aroma wanginya juga terkenal dapat melancarkan sistem pencernaan, pernapasan, serta membantu mengatasi berbagai penyakit ringan.
Kebutuhan akan daun mint yang tinggi dari produsen makanan dan minuman, yang menggunakan daun ini untuk memberikan rasa mentol khas, menunjukkan potensi besar tanaman ini dalam industri produksi. Saat ini, permintaan pasar masih terus berkembang, membuka kesempatan bagi petani dan pengusaha untuk merambah bidang ini.
Seorang petani daun mint di wilayah Jawa Tengah, contohnya, mengungkapkan bahwa ia menghadapi kesulitan dalam memenuhi permintaan yang terus meningkat dari industri jamu. Saat ini, produksi daun mint tidak mampu mengimbangi permintaan pasar yang tinggi.
Dari setiap lahan seluas 1 m², petani ini dapat memanen sekitar 1 kg daun mint, dengan total kapasitas penjualan mencapai 1.500 kg dari lahan 1.500 m². Harga jual daun mint bervariasi.
Untuk daun mint basah dihargai antara Rp. 10.000 hingga Rp. 15.000 per kg, sementara daun mint kering dapat dijual dengan harga Rp. 30.000 hingga Rp. 60.000 per kg. Daun mint dapat Anda panen mulai dari satu minggu hingga sebulan sekali, tergantung pada tingkat kematangan yang konsumen butuhkan.
Dengan melihat potensi pasar dan permintaan yang terus meningkat, budidaya daun mint bisa menjadi peluang usaha yang sangat menguntungkan.
Baca Juga: Teknik Budidaya Tanaman Kakao dan Prospek Bisnisnya
Panduan mengenai cara budidaya daun mint ini harapannya dapat memberikan informasi bermanfaat bagi pemula yang ingin membudidayakan daun mint. Baik untuk konsumsi pribadi maupun sebagai peluang usaha yang menggiurkan. (R10/HR-Online)