Yazid bin Abi Sufyan merupakan sosok penting dalam sejarah era kenabian. Yazid terkenal sebagai panglima perang yang tangguh dan cerdas. Jasa-jasanya begitu besar terutama ketika proses perluasan wilayah kekuasaan Islam pada abad ke-7 Masehi.
Baca Juga: Mush’ab bin Umair, Kisah Pejuang Dakwah yang Menginspirasi
Berkat upayanya, agama Islam berhasil menyebar luas ke seluruh penjuru Suriah. Hal yang sekaligus memberikan dampak baik dari segi politik, ekonomi, militer maupun budaya masyarakat setempat. Mari kita ulas lebih detail tentang biografi Yazid.
Mengenal Sosok Yazid bin Abi Sufyan
Kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam tentu tak lepas dari peran para sahabatnya. Bagaimana tidak, para sahabat bukan sekedar bersaksi atas ajaran-ajaran Rasulullah SAW.
Namun turut serta menjadi pelaksana sekaligus membantu penyebaran ajaran tersebut ke seluruh penjuru dunia. Salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang perannya tak ternilai adalah Yazid bin Abi Sufyan.
Yazid merupakan seorang pria dari suku Quraisy. Suku yang sama dengan Nabi Muhammad SAW. Ayahnya, yakni Abu Sufyan, selaku kepala suku Quraisy, awalnya begitu benci dengan ajaran agama Islam.
Tetapi ia kemudian memutuskan menjadi seorang mualaf pasca peristiwa Fathu Makkah sekitar tahun 630. Tak sendiri, Abu Sufyan mengajak kedua putranya, Yazid dan Muawiyah, untuk sama-sama memeluk agama Allah SWT.
Jadi Panglima Perang Terkuat
Setelah memeluk Islam, Yazid menunjukkan dedikasi yang luar biasa dalam jihad fi sabilillah. Keahliannya menyusun strategi perang serta jiwa kepemimpinan yang bijak membuatnya dipercaya memimpin pasukan di berbagai ekspedisi militer.
Salah satu ekspedisi militer besar yang pernah Yazid bin Abi Sufyan ikuti adalah pertempuran Hunain.
Pertempuran ini terjadi setelah Nabi Muhammad SAW menaklukkan Kota Mekkah. Ia ikut serta dalam pertempuran Hunain bersama pasukan Islam melawan suku Bani Tsaqif dan para sekutunya.
Pertempuran Hunain pun berakhir dengan hasil yang sangat memuaskan. Pasalnya, pasukan Nabi Muhammad SAW berhasil memperoleh kemenangan telak sekaligus menerima harta rampasan perang.
Yazid pun mendapat bagian harta rampasan perang berupa 100 ekor unta serta 40 ons perak. Rasulullah SAW juga pernah mengangkatnya sebagai penanggung jawab atas sedekah dari Bani Firas.
Ikut Menaklukan Suriah
Pengalaman dalam berbagai pertempuran sebelumnya, membuat Yazid kian berpengalaman hingga mampu menjadi panglima perang yang lebih besar. Terutama ketika proses penaklukan wilayah Suriah.
Yazid bin Abi Sufyan memimpin tentara Islam dalam pertempuran melawan pasukan Bizantium pada tahun 633 sampai 634. Ia berjuang bersama jenderal utama lain mulai dari Amr bin al-Ash hingga Khalid bin Walid
Di bawah kepemimpinannya, pasukan Muslim yang kala itu berjumlah 7.500-an orang berhasil mengalahkan Bizantium. Beberapa kota penting di Suriah akhirnya mereka kuasai, tak terkecuali Damaskus.
Menjadi Gubernur Damaskus
Pasca berhasil menaklukan Damaskus, Yazid kemudian terpilih sebagai gubernur kota tersebut. Ia menjabat sekitar tahun 637 hingga 640-an.
Baca Juga: Amir bin Fuhairah, Keteladanan Seorang Syuhada yang Setia
Selama menjabat, Damaskus mengalami perkembangan yang sangat pesat. Bahkan menjadi pusat pemerintahan Islam di wilayah Suriah.
Sosok Yazid juga populer sebagai seorang gubernur yang tegas dan berani. Ia senantiasa membuat kebijakan secara cermat. Sehingga setiap aturan dapat adil dan merata untuk kemakmuran semua umat tanpa terkecuali.
Kehidupan Pribadi Yazid
Beralih ke kehidupan pribadinya, Yazid bin Abi Sufyan menikahi seorang wanita bernama Fakhitah.
Usut punya usut, Fakhitah adalah putri dari Abdurrahman bin Auf, salah satu sahabat dekat Nabi Muhammad SAW. Namun, pernikahan keduanya memang tidak menghadirkan keturunan.
Kemudian pada tahun 639 Masehi, Yazid meninggal dunia akibat serangan wabah mematikan yang melanda wilayah Amwas.
Kematiannya menjadi momen kehilangan besar bagi seluruh umat Muslim di eranya. Terlebih di kalangan pasukan Muslim Suriah yang pernah berjuang bersama.
Guna mengisi kekosongan kepemimpinan, Khalifah Umar bin Khattab mengangkat saudara tiri Yazid, Muawiyah sebagai gubernur Suriah dan Yordania.
Baca Juga: Abdullah bin Hudzafah as Sahmi, Keteladanan dan Keimanannya
Kendati wafat di usia yang masih relatif muda, Yazid bin Abi Sufyan berhasil meninggalkan warisan sangat berharga. Ia adalah contoh seorang panglima perang yang tangguh, cerdas dan berdedikasi tinggi. Tentu saja jasa-jasanya ketika penaklukan Suriah dan wilayah lain akan selalu dikenang dalam sejarah Islam. (R10/HR-Online)