Sejarah pertempuran Puputan Margarana merupakan sejarah yang perlu untuk kita pelajari bersama sebagai masyarakat Indonesia. Puputan Margarana adalah salah satu peristiwa heroik dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa ini terjadi di Desa Marga, Kecamatan Margarana, Tabanan, Bali, pada 20 November 1946.
Baca Juga: Cilacap Lautan Api, Heroisme Mempertahankan Kemerdekaan
Pertempuran antara pasukan Indonesia dan Belanda ini menjadi sebagai simbol keberanian serta pengorbanan rakyat Bali dalam mempertahankan kedaulatan negara. Walau pada akhirnya kalah, namun perjuangan para pahlawan harus tetap kita ambil hikmahnya.
Sejarah Pertempuran Puputan Margarana dan Latar Belakangnya
Pemicu peristiwa Puputan Margarana adalah penandatanganan Perjanjian Linggarjati antara Indonesia dan Belanda. Perjanjian yang disepakati pada 25 Maret 1947 ini hanya mengakui Sumatera, Jawa, dan Madura sebagai bagian dari Indonesia secara de facto. Hal ini tentu mengecewakan rakyat Bali.
Pasca Perjanjian Linggarjati, Belanda berusaha mendirikan Negara Indonesia Timur (NIT) yang mencakup Bali. Inilah yang menjadi memicu kemarahan dan perlawanan dari masyarakat setempat.
Peran Letkol I Gusti Ngurah Rai
Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai, seorang tokoh penting dalam pertempuran ini, memainkan peran sentral dalam memimpin perlawanan terhadap Belanda. Sebagai Kepala Divisi Sunda Kecil, I Gusti Ngurah Rai menolak keras rencana Belanda untuk mendirikan NIT.
Ia kemudian berangkat ke Yogyakarta untuk berkonsultasi dengan markas besar Tentara Republik Indonesia (TRI). Beliau lalu menegaskan penolakannya terhadap pembentukan NIT.
Pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sunda Kecil
Pada sejarah pertempuran Puputan Margarana, selepas proklamasi kemerdekaan, I Gusti Ngurah Rai membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sunda Kecil, yang terdiri dari 13,5 kompi yang tersebar di seluruh Bali. Pasukan ini terkenal dengan nama Ciung Wanara. Di bawah komando I Gusti Ngurah Rai, mereka bertekad melawan setiap upaya Belanda untuk merebut kembali Bali.
Kronologi Pertempuran
I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya menyerang markas pertahanan militer Belanda di Tabanan, Bali pada 18 November 1946. Pada sejarah pertempuran Puputan Margarana, serangan ini membuat Belanda murka dan mereka segera mengerahkan pasukan besar.
Termasuk unit-unit ‘Gajah Merah’, ‘Anjing Hitam’, ‘Singa’, ‘Polisi Negara’, ‘Polisi Perintis’, dan tiga pesawat pemburu untuk mengepung Bali, terutama di Tabanan. Belanda memulai serangan dengan menembaki area pasukan Bali pada dini hari 20 November 1946 pukul 05.30 WITA.
Pasukan Ciung Wanara, yang I Gusti Ngurah Rai pimpin, menghadapi tantangan besar karena minimnya persenjataan. Namun, sekitar pukul 09.00 WITA, pasukan Belanda yang berjumlah sekitar 20 orang mulai mendekat dari arah barat laut.
Beberapa saat kemudian, suara tembakan terdengar, dan pasukan Ciung Wanara menembak tewas 17 orang pasukan Belanda. Mengetahui banyak pasukannya tewas, Belanda melancarkan serangan dari berbagai arah.
Baca Juga: Long March Siliwangi, di Bawah Perintah Jenderal Soedirman
Akan tetapi, Belanda terus mengalami kegagalan karena perlawanan gigih dari pasukan Ciung Wanara. Belanda menghentikan serangan selama satu jam sebelum kembali menyerang dengan lebih banyak pasukan dan pesawat pengintai sekitar pukul 11.30 WITA.
Namun, pasukan Ciung Wanara kembali berhasil menghentikan serangan ini. Belanda dan pasukannya kemudian mundur sejauh 500 meter untuk menghindari pertempuran lebih lanjut.
I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya manfaatkan kesempatan ini untuk meloloskan diri dari kepungan musuh. Namun, dalam perjalanan meloloskan diri, pasukan Belanda mengirimkan pesawat terbang untuk memburu mereka.
I Gusti Ngurah Rai menyerukan “Puputan!” untuk terakhir kalinya, yang berarti bertempur habis-habisan. I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya bertempur hingga titik darah penghabisan, dan akhirnya gugur.
Kekalahan Pasukan I Gusti Ngurah Rai
Pada sejarah pertempuran Puputan Margarana, I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya kalah. Hal inilah yang memudahkan Belanda dalam mendirikan NIT.
I Gusti Ngurah Rai dan 1372 pejuang Dewan Perjuangan Republik Indonesia Sunda Kecil gugur dalam pertempuran heroik ini. Sekitar 400 orang tewas dari pihak Belanda.
Namun, perjuangan rakyat Bali tidak berhenti di sini. Upaya Belanda untuk mendirikan NIT akhirnya gagal setelah Indonesia kembali menjadi negara kesatuan pada 1950.
Pada 8 Maret 1950, pemerintah RIS dengan persetujuan DPR dan Senat RIS mengeluarkan Undang-undang Darurat No. 11 Tahun 1950 tentang Tata Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS, yang menggabungkan negara-negara bagian seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Madura dengan Republik Indonesia di Yogyakarta.
Sejak itu, setiap tanggal 20 November, masyarakat Bali memperingati Hari Puputan Margarana. Hal ini untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur membela bangsa dan negara.
Baca Juga: Kisah Kemenangan Raden Wijaya Mengusir Pasukan Mongol
Sejarah pertempuran Puputan Margarana bukan hanya sebuah peristiwa sejarah, tetapi juga sebuah simbol keberanian dan pengorbanan. Pertempuran ini juga menjadi lambang semangat juang yang tak pernah padam dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. (R10/HR-Online)