harapanrakyat.com,- Sejumlah perajin tahu di Ciamis, Jawa Barat, tepatnya di Dusun Cibodas, Desa Cisadap, Kecamatan Ciamis, harap-harap cemas seiring dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus alami kenaikan.
Baca Juga: Dampak Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu Tempe di Ciamis Menjerit
Dengan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, kemungkinan akan berdampak terhadap harga kedelai. Hal itulah yang membuat sejumlah perajin tahu di Cibodas ini cemas.
Pasalnya, harga kedelai sekarang ini sudah menyentuh angka Rp 11 ribu sampai Rp 12 ribu per kilogramnya. Dengan harga tersebut membuat sejumlah perajin kelimpungan.
Yendi, salah seorang perajin tahu di Cibodas mengaku saat ini dirinya membeli kedelai seharga Rp 11 ribu per kilogram. Meski begitu, ada penurunan karena tadinya harga kedelai per kilogram Rp 11.400.
“Kalau lebaran kemarin itu 10 ribu rupiah per kilogram, lalu naik menjadi 11.400 rupiah.
Kemudian turun lagi jadi 11 ribu per kilogramnya,” tuturnya, Minggu (7/7/2024).
Yendi menyebut jika harga kedelai kembali naik, bahkan mencapai lebih dari Rp 12 ribu. Kemungkinan para perajin tahu di Ciamis, khususnya di Dusun Cibodas akan berhenti produksi. Sebab, jika harga kedelai naik terus maka perajin pun bingung.
“Kalau naik biasanya kita akan demo dan berhenti produksi. Karena kita bingung, kalau memaksakan kita malah rugi yang ada nantinya,” ungkap Yendi.
Baca Juga: Siasat Perajin Tahu Ciamis Hadapi Kenaikan Harga Kedelai
Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu di Ciamis Terancam Berhenti Produksi
Hal senada juga disampaikan Dede, perajin tahu lainnya di Cibodas. Menurutnya, dengan harga kedelai sekarang ini yang tembus angka Rp 12 ribu, pihaknya sudah merasa bingung dan kelimpungan.
Pasalnya, selain memproduksi tahu mentah, di pabriknya juga produksi tahu goreng, yang mana saat ini harga minyak goreng naik menjadi Rp 16.500 dari sebelumnya Rp 16 ribu.
“Saat ini penjualan juga sedang sepi, karena masyarakat mungkin banyak kebutuhan. Jadi kita hanya produksi 2,5 kuintal saja, biasanya sampai 3,5 kuintal,” katanya.
Dede mengaku belum mengetahui pasti kalau nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah. Namun tentunya ia berharap tidak terjadi kenaikan harga kedelai.
“Mudah-mudahan harga kedelai tidak naik. Kalau benar-benar naik nanti kita tidak bisa produksi,” ucapnya.
Sebelumnya Badan Pangan Nasional menyebut harga kedelai kemungkinan akan mengalami kenaikan seiring dengan menguatnya dolar AS terhadap rupiah yang menyentuh Rp 16.400.
Baca Juga: Harga Kedelai Naik, Pabrik Tempe Tahu di Tasikmalaya Mogok Produksi
Harga kedelai diperkirakan akan naik sekitar dua bulan kedepan. Pasalnya, persediaan kedelai yang ada saat ini merupakan impor dari dua bulan sebelum rupiah melemah. (Feri/R3/HR-Online/Editor: Eva)