harapanrakyat.com,- Dalam upaya mendukung ekonomi lokal, mahasiswa STISIP Bina Putera Banjar latih UMKM digital marketing, E-Payment dan Policy di Desa Sidaharja, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Selasa (23/7/24) kemarin.
Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa fokus pada salah satu UMKM yang memproduksi serundeng, makanan khas Indonesia yang terbuat dari parutan kelapa milik Marya Jamila (31) di Dusun Kedawung, RT 11 RW 02.
Ketua Kelompok KKN STISIP Bina Putera Banjar Desa Sidaharja Nurman Firdaus mengatakan, pemanfaatan internet untuk mendukung penjualan UMKM sangat penting. Terlebih saat ini sangat banyak medium untuk memasarkannya.
Namun, pada kenyataannya masih banyak juga para pelaku usaha yang masih awam terhadap digital marketing, pembayaran elektronik dan ketentuannya.
Baca juga: HIPMI Kota Banjar Dukung Produk UMKM Lokal, Bantu Promosi Digital
Karena itu, pihaknya sengaja fokus ke salah satu UMKM di Desa Sidaharja agar pendampingannya lebih maksimal. Bahkan manfaatnya langsung terasa oleh mereka.
“Nah ini produk yang bernama Serundengku Cap Tiga Kelapa Produksi Hafiza ini memiliki keunggulan pada rasa yang enak, kadaluarsanya lama serta harganya juga terjangkau. Namun, masalah pemasaran, pengemasan dan alat produksi terbatas. Padahal, permintaannya luar biasa,” ujarnya, Rabu (24/7/24).
Melihat permasalahan tersebut, kata Nurman, pihaknya bersama mahasiswa lainnya dan sesuai arahan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Asep Endri Mulyana, langsung memberikan pelatihan mandiri kepada UMKM tersebut.
Tak hanya sekadar memberikan wawasan soal digital marketing, e-payment dan lainnya, pelaku usaha tersebut juga langsung praktik agar produknya semakin luas jangkauannya.
“Kita edukasi dari awal hingga hingga akhir dalam pemanfaatan media sosial untuk produknya, termasuk masalah pembayarannya. Kita harap dengan langkah nyata ini bisa berdampak besar untuk produksi dan penjualannya,” pungkas Nurman.
Mahasiswa Latih Digital Marketing, UMKM Terbantu
Sementara itu, Marya Jamila pemilik usaha serundeng mengaku sudah memproduksi makanan khas Indonesia tersebut sejak 6 bulan sebelum Covid-19. Namun, saat pandemi ia terpaksa menghentikan usahanya.
“Saya baru memulai lagi di bulan Juni 2024 kemarin. Hal itu karena saya lihat pesaingnya masih sedikit dan peluangnya besar,” ujarnya.
Marya mengungkapkan, perjalanan hidupnya yang pernah bekerja di suatu rumah makan selama 3 tahun menjadi bekal usahanya ini. Setelah menikah, suaminya yang bernama Ahmad Farid Ibrahim (41) mengajak untuk mengembangkan kemampuannya itu.
Dengan modal pengalaman itu, ia pun akhirnya membuat serundeng dengan inovasi resep sendiri. Bahkan, saat ini pemasarannya sudah cukup luas, meliputi wilayah sekitar Sidaharja, Banjarsari, Bandung, bahkan hingga Banten.
Ia pun mengaku agar produknya tetap berkualitas, cita rasanya dijaga betul agar penjualannya ke konsumen semakin meningkat. Bahkan, saat ini ia memanfaatkan platform digital untuk memperluas pasar.
“Saya terus melakukan inovasi agar pasarnya semakin luas. Alhamdulillah dengan kedatangan mahasiswa dari STISIP Bina Putera Banjar ini sangat membantu usaha kami, terlebih dalam masalah digital marketing,” pungkasnya. (Muhafid/R6/HR-Online)