Aliran kebatinan Sapta Darma termasuk ajaran penghayat kepercayaan yang ada di Indonesia. Penghayat kepercayaan sendiri adalah kelompok yang berisikan suku-suku asli. Suku menjunjung tinggi kepercayaan tradisional. Kepercayaan ini lahir di Jawa Timur.
Baca juga: Aliran Kepercayaan Samat, Meyakini Jepang sebagai Sosok Ratu Adil
Dengan kepercayaan tradisional suku-suku asli ini, memiliki keyakinan dan praktik yang berkaitan dengan alam, nenek moyang dan agraris. Karena hal itu, terasa menarik apabila membahasnya secara lebih mendalam guna menambah wawasan sejarah Indonesia.
Aliran Kebatinan Sapta Darma dan Sejarahnya
Aliran kebatinan ini juga terkenal dengan sebutan ajaran kerohanian. Dalam sejarahnya, aliran ini bermula dari wahyu yang turun pada Bapa Panuntun Agung Sri Gutama.
Wahyu tersebut turun pada Jumat Wage 27 Desember 1952 dini hari. Untuk lokasinya, ada di kediamannya sendiri yang terletak di Kampung Koplakan, Pare, Kediri, Jawa Timur.
Untuk wahyu pertama dalam ajaran kerohanian ini ialah sujud. Dalam hal ini, penganutnya bersujud menghadap ke timur dan merasa seperti bertemu Tuhan yang Maha Esa.
Lalu wahyu selanjutnya dalam aliran kebatinan Sapta Darma yaitu racut. Wahyu ini turun pada 13 Februari 1953. Racut ini berarti memisahkan perasaan.
Tujuannya adalah menyatukan diri ke roh suci. Karena hal itu, wahyu ini berguna untuk menghadapkan roh suci manusia ke Tuhan yang Maha Esa.
Baca juga: Mitos Dewi Sri, Kepercayaan Masyarakat Jawa Meminimalisir Gagal Panen
Kemudian ada simbol pribadi manusia, wewarah tujuh dan sesanti. Wahyu ini turun pada 12 Juli 1954. Di tahun yang sama juga turun wahyu sanggar dan tuntunan.
Masih di tahun yang sama, wahyu saudara 12 juga turun. Lalu pada 13 Februari 1955, wahyu yang turun berupa simpul dari rasa serta wasiat 33.
Selanjutnya pada 12 Juli 1955, wahyu yang turun ialah wejangan 12. Di tahun yang sama juga muncul wahyu Sri Gutama dan Sapta Darma dalam aliran kebatinan Sapta Darma.
Setelah itu, pada 17 Agustus 1956 turun wahyu berupa penugasan Bapa Panuntun Agung Sri Gutama. Tugasnya ialah untuk menyebarluaskan ajarannya.
Hingga pada akhirnya, pada 13 April 1957, turun wahyu berupa Sri Pawenang. Wahyu ini juga terkenal dengan sebutan Sri Pamungkas.
Penerima Ajaran Kerohanian Sapta Darma
Dengan wahyu-wahyu di atas, ajaran kerohanian ini tertuju pada Hardjosapoero. Penerima ajaran tersebut lahir di Desa Semanding, Pagu, Kediri.
Baca juga: Modernisasi Islam di Jawa Beserta Sejarah Perkembangannya
Ia lahir pada tahun 1910. Sebagai Bapa Panuntun Agung Sri Gutama, ia mengemban tugas aliran kebatinan Sapta Darma sejak 1952 hingga wafatnya pada 1964.
Setelah wafat, tugas tersebut beralih ke Soewartini Martodiharjo. Ibu Tuntunan Agung Sri Pawenang ini mengemban tugasnya sampai tutup usia pada 1996.
Makna Ajaran Kerohanian Sapta Darma
Ajaran kerohanian ini memiliki makna yang sangat luas. Maknanya mencangkup kehidupan manusia, jin, roh, hingga setan.
Dengan makna tersebut, penganutnya perlu sujud minimal sekali sehari. Lalu penganutnya juga perlu melakukan racut dan ritual semadi dalam ening.
Tak berhenti di situ saja karena penganut aliran kebatinan Sapta Darma juga perlu melakukan olahraga sebagai wujud relaksasi. Hal ini perlu dilakukan agar jasmani terasa fresh setelah lelah beraktivitas.
Menurut masyarakat modern ini, ajaran tersebut termasuk salah satu representasi kejawen. Kejawen ialah segala sesuatu yang ada kaitannya dengan adat maupun kepercayaan Jawa.
Fakta Sapta Darma
Ajaran kerohanian ini memiliki banyak fakta menarik. Salah satu faktanya terungkap lewat postingan akun Instagram @mojokertokota.kita pada tahun 2021.
Postingan tersebut membahas mengenai aliran kebatinan Sapta Darma yang ada di Mojokerto. Lebih tepatnya soal ritual sujud menghadap ke timur.
Menurut postingan tersebut, timur memiliki arti kawitan atau wetan dalam bahasa Jawa. Hal ini berarti timur jadi arah permulaan kehidupan. Misalnya saja matahari yang terbitnya dari timur.
Fakta berikutnya ialah ajaran ini rupanya bukan satu-satunya penghayat kepercayaan di nusantara. Hal tersebut terpapar secara jelas di akun Instagram @saktitv.
Di Kabupaten Ponorogo pernah membuka pelatihan membatik. Pelatihan yang bertempat di Rumah Batik Lesoeng ini melibatkan 5 kelompok penghayat kepercayaan.
Kelimanya adalah Sapta Darma, Purwo Ayu, aliran Kebatinan Perjalanan, sampai dengan Kawruh Budi Jati. Kelima kelompok tersebut mendapatkan bimbingan agar bisa menguasai keterampilan menjahit sekaligus menambah wawasan.
Baca juga: Asal-usul Sebutan Baduy, Memegang Teguh Kearifan Lokal
Dari uraian di atas, terlihat jelas bagaimana aliran kebatinan Sapta Darma. Ajaran kerohanian tersebut memiliki banyak penganut di Jawa Timur. Bahkan jadi penghayat kepercayaan terbesar di Blitar. (R10/HR-Online)